Project of 12-A

Firsty Elsa
Chapter #37

Stage-36

Bau bahan kimia masih samar tercium di dalam lab ketika praktikum akhirnya selesai. Beberapa siswa sudah mulai membereskan alat, suara gesekan kursi dan kaca tabung reaksi saling bersahutan. Hanum menutup buku catatannya dengan rapi. Helmi sudah lebih dulu menyender di kursi, memainkan pulpen dengan malas. Tito sibuk membersihkan sisa larutan di mejanya, sementara Elang berdiri di dekat wastafel, membilas tangannya dengan ekspresi datar seperti biasa.

Di tengah suasana itu, Nadine tiba-tiba melepas sarung tangannya dan berkata singkat, “Guys, gazebo, yuk!” Tidak ada yang bertanya. Nada suaranya cukup untuk menjelaskan bahwa ini penting.

Beberapa menit kemudian, mereka berlima sudah duduk melingkar di gazebo belakang sekolah—tempat yang hampir selalu sepi di jam seperti ini. Angin siang berhembus pelan, tapi suasananya tetap terasa tegang.

Nadine berdiri, menyilangkan tangan di depan dada. “So,” katanya. “Update.”

Tito menyandarkan tubuhnya ke tiang gazebo, sementara Hanum dan Helmi langsung fokus menatap Nadine.

“Lo semua udah baca chat di grup kan?” lanjut Nadine.

Hanum mengangguk cepat. “Udah. Tapi gue pengen denger langsung.”

Helmi menimpali, “Gue juga. Semalem tuh chaotic banget keliatannya.”

Nadine menghela napas panjang, sedikit memijat pelipisnya. “Chaotic is an understatement,” gumamnya. “Dia… agresif.”

Tito mengangkat alis sedikit. “Responsive, bukan agresif.”

Nadine langsung melirik tajam. “To, bahkan dia udah bales setelah gue kirim belum ada lima detik.”

“Berarti interested,” balas Tito santai. 

Helmi terkekeh kecil. “Anjir, cepet juga ya.”

Nadine menggeleng pelan. “Gue sampe capek sendiri harus pura-pura excited. Dan itu pun setengahnya Tito yang ngetik.”

Hanum menahan senyum. “Gue kebayang sih.”

Nadine menatap mereka satu per satu. “Anyway, dia ngajak ketemu.” Sunyi sekejap. “Sepulang sekolah ini.”

Kalimat itu langsung mengubah suasana. Hanum sedikit menegakkan duduknya. “Oke… it means, kita ikut ke sana?”

Nadine mengangguk kecil. “Gue udah iya-in.”

“Timing-nya bagus. Kita nggak perlu nunggu lama,” kata Tito mengiyakan.

“Sekalian test seberapa jauh dia bisa dibawa,” kata Helmi menyahut. 

Nadine melirik Tito. “Dan seberapa jauh gue harus acting.”

Tito tidak menjawab, tapi tatapannya cukup menenangkan. Elang yang sejak tadi diam akhirnya angkat suara. “Iya, kita ikut. Tapi kita berpencar.” Semua langsung menoleh ke arahnya. “Han, lo sama Tito,” lanjut Elang sambil menunjuk Hanum, “pantau dari dekat. Pura-pura ada di sana dengan penyamaran.”

Hanum mengangguk tanpa ragu. “Got it.

“Lo,” Elang menoleh ke Helmi, “ikut gue.”

Helmi mengernyit “Hah? Ke mana?”

“Ada yang harus gue pastiin,” jawab Elang.

Tito langsung menangkap maksudnya. “Lang…” nadanya berubah sedikit lebih serius. “Lo beneran mau ke sana?”

Elang menatapnya sebentar dengan datar. “Iya.”

“Ke lapas?” tanya Tito, memastikan.

Lihat selengkapnya