Project of 12-A

Firsty Elsa
Chapter #38

Stage-37

Sore itu, suasana di area lapas jauh dari kata ramah. Bangunan tinggi dengan dinding abu-abu kusam berdiri kaku, seolah menelan semua suara dari luar. Udara terasa lebih berat, bahkan sejak langkah pertama mereka masuk ke area pemeriksaan. Helmi berjalan di samping Elang, tapi kali ini dia tidak banyak bicara. Ada yang berbeda. Elang tidak lagi terlihat seperti anak sekolah biasa.

Kemeja hitam yang rapi, lengan sedikit digulung, dipadu dengan celana hitam yang bersih tanpa lipatan. Rambutnya ditata lebih serius dari biasanya. Tidak ada ekspresi santai atau sarkastik seperti yang sering Helmi lihat. Yang ada hanya satu, ketenangan. Helmi sempat menatapnya beberapa detik lebih lama. Dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar melihat sosok itu, bukan cuma Elang. Tapi Mahadewa.

Di depan pintu masuk area kunjungan khusus, Alfa menghentikan langkah mereka. Ia menoleh ke Elang dengan ekspresi serius. “Elang,” katanya tegas. “Buat ketemu sama dia, cuma lo yang bisa masuk.” Elang menatapnya balik, tidak terkejut. 

“Karena ada pembatasan,” lanjut Alfa. “Satu orang pengunjung. Gue sama Helmi tunggu di luar. Kita pantau dari sini.” 

Helmi mengangguk pelan, lalu mendekat sedikit ke Elang. Tangannya menepuk bahu temannya itu sekali. “Lang,” katanya pelan tapi jelas. “Jaga emosi lo. Jangan terpancing. Lo bukan cuma bawa nama lo sekarang.” Ia berhenti sebentar. “Lo bawa nama belakang lo juga.”

Elang diam beberapa detik. Lalu mengangguk kecil. “Gue tahu.” Sebenarnya bukan emosi yang dia takutkan. Tapi… salah bicara. Satu kalimat yang keliru bisa menutup semua akses. Dan hari ini, dia tidak boleh salah.

Tanpa menambah kata, Elang melangkah masuk mengikuti petugas yang mengarahkannya ke ruang kunjungan khusus. Pintu besi terbuka, lalu tertutup lagi di belakangnya dengan suara berat yang menggema.

Ruangan itu tidak besar. Dingin, kaku, dan nyaris tanpa suara. Tidak ada petugas yang berjaga di dalam, hanya satu meja besi yang tertanam kuat di lantai dan dua kursi yang saling berhadapan. Lampu putih di atas kepala menyala terang, menciptakan suasana yang terlalu steril, seolah setiap kata yang diucapkan di ruangan ini harus memiliki makna.

Elang sudah duduk lebih dahulu. Punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu tenang di atas meja, namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia tidak sedang bersantai. Ia sedang menimbang, menyusun, dan memastikan tidak ada satu pun kata yang keluar tanpa perhitungan.

Beberapa detik kemudian, pintu di sisi berlawanan terbuka. Seorang pria masuk dengan langkah pelan, dikawal oleh petugas. Wajahnya keras, garis-garis usia di sana justru mempertegas kesan bahwa ia bukan orang yang mudah ditembus. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi, namun jelas menyimpan banyak hal yang tidak diucapkan.

Setelah ia duduk, petugas keluar. Pintu kembali tertutup. Kini hanya mereka berdua. Elang memberi jeda sejenak, lalu membuka percakapan dengan suara yang tenang dan terukur. “Selamat sore, Pak Karyo. Perkenalkan, saya Elang Mahadewa.” Nama itu diucapkan dengan jelas. Dan cukup untuk menimbulkan perubahan kecil pada ekspresi pria di hadapannya.

Karyo tidak langsung merespons. Ia menatap Elang lebih dalam, seperti sedang memastikan sesuatu, sebelum akhirnya bersandar pelan di kursinya. “Mahadewa…” gumamnya rendah. “Menarik.” Nada suaranya tetap datar, namun tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan keterkejutan yang sempat muncul.

Elang hanya mengangguk sopan. “Bagaimana kabar Bapak?”

Karyo menghela napas singkat, seolah pertanyaan itu tidak memiliki arti. “Baik,” jawabnya singkat. Lalu ia menatap langsung. “Sebaiknya kita langsung ke pokok pembicaraan.”

Elang menerima itu tanpa keberatan. “Baik.” Ia membuka map yang sejak tadi berada di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah foto dan meletakkannya dengan rapi di hadapan Karyo.

Seorang remaja dengan senyum bangga, memegang piala kemenangan. Ranu. “Saya rasa Anda tidak mungkin melupakan sosok ini,” ujar Elang dengan nada yang tetap sopan, namun memiliki tekanan yang halus.

Tatapan Karyo turun pada foto tersebut. Ia tidak memberikan respons verbal. Namun jeda yang ia berikan sudah cukup menjelaskan bahwa ia mengenali wajah itu.

Elang kemudian mengeluarkan foto kedua. Seorang pria dewasa dengan sorot mata tegas. Satria Saputra. Foto itu diletakkan berdampingan. “Terlebih sosok yang satu ini,” lanjut Elang. “Saya berasumsi, masih ada hal yang tersisa dalam ingatan Anda.” Kali ini, keheningan berlangsung lebih lama.

Karyo tidak mengangkat kepala. Tatapannya tertahan pada dua foto itu, rahangnya sedikit mengeras. Elang tidak terburu-buru. Ia justru melanjutkan dengan tenang, mengeluarkan satu dokumen dari dalam map, lalu mendorongnya perlahan ke arah Karyo.

Lihat selengkapnya