Senja sudah turun ketika mobil Keino berhenti di depan lobi apartemen Nadine. Lampu-lampu mulai menyala, memantulkan warna hangat di kaca gedung tinggi itu. Nadine membuka pintu mobil, menoleh sebentar ke arah Keino dengan senyum tipis—senyum yang sopan, terlatih, dan cukup untuk menutup semua kelelahan yang ia rasakan sejak siang.
“Thanks for today,” ucapnya pelan.
Keino langsung tersenyum lebar. “Anytime. I mean it.”
Nadine hanya mengangguk kecil. “Text me when you get home.”
“Of course.”
Tanpa banyak kata lagi, Nadine turun, menutup pintu mobil dengan hati-hati, lalu berjalan masuk ke dalam gedung. Begitu pintu lift tertutup, ekspresinya langsung berubah. Senyum itu hilang. Bahunya turun perlahan, napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Lelah. Bukan sekadar fisik—tapi juga mental.
Lift terbuka di lantainya. Nadine melangkah keluar, berjalan menuju pintu apartemen dengan langkah yang sedikit lebih cepat, seolah ingin segera sampai. Dan begitu pintu itu terbuka, ia berhenti. Di dalam, sudah ada empat orang yang ia kenal dengan sangat baik.
Elang bersandar di dekat jendela, Hanum duduk di sofa sambil memegang bantal, Helmi berdiri di dekat meja makan, dan Tito—Tito baru saja berdiri dari kursinya. Nadine langsung berjalan cepat ke arahnya, dan tanpa aba-aba, ia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Tito. Seolah semua tenaga terakhirnya habis di situ.
Tito sedikit terkejut. Tubuhnya sempat kaku sepersekian detik, tidak siap dengan intensitas itu. Tapi refleksnya cepat mengambil alih. Tangannya langsung terangkat, memeluk balik Nadine dengan erat, satu tangan menahan punggungnya, satu lagi naik ke kepalanya. Mengelus pelan. Seolah itu hal paling nyaman.
Helmi yang melihat itu langsung menangkap situasinya. Tanpa banyak komentar, ia menyikut pelan lengan Elang, lalu menarik Hanum berdiri. “Eh, lapar nggak?” katanya santai, padahal jelas itu alasan.
Hanum langsung paham. Ia bangkit tanpa protes. Elang sempat menatap ke arah Tito dan Nadine sebentar—ada sesuatu di matanya yang sulit dijelaskan—lalu akhirnya ikut bergerak. Mereka bertiga mundur ke arah meja makan. Memberi waktu.
Di ruang tamu yang kini lebih sunyi, hanya ada suara napas yang tidak beraturan. Nadine masih memeluk Tito. Lebih tepatnya, bergantung. Tubuhnya benar-benar lemas, kepalanya bersandar di bahu Tito, dan tanpa ia sadari, bahunya mulai bergetar kecil. Tito merasakannya.
“Hey…” suaranya rendah, jauh lebih lembut dari biasanya. Tangannya tetap mengelus rambut Nadine perlahan. “Nad…”
Tidak ada jawaban. Hanya isakan kecil yang akhirnya keluar, tertahan tapi jelas. Nadine tidak menangis keras. Ia hanya… runtuh. “Lepas, Nad…” bisiknya pelan di dekat telinga gadis itu. “Kasih ke gue semua capeknya.” Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat pertahanan Nadine yang tersisa benar-benar jatuh.
Tangannya yang tadi hanya menggenggam ujung baju Tito, kini mencengkeram lebih kuat. Wajahnya semakin tenggelam di bahu laki-laki itu, dan isakannya sedikit lebih jelas terdengar. “Capek, To…”
Tito menutup matanya sebentar. Tangannya tetap bergerak pelan di rambut Nadine, ritmis, menenangkan. “I know,” jawabnya pelan. Ia tidak berusaha memperbaiki keadaan. Tidak mencoba memberi solusi.
Beberapa menit berlalu tanpa mereka sadari. Waktu seolah melambat di ruang itu. Di meja makan, Hanum diam-diam melirik ke arah mereka, matanya sedikit melembut. Helmi bersandar di kursi, menghela napas pelan, sementara Elang berdiri dengan tangan di saku, menatap ke arah luar jendela—memberi privasi, meski jelas ia tetap mendengar semuanya.
Kembali di ruang tamu, Nadine mulai sedikit tenang. Napasnya masih berat, tapi isakannya sudah mereda. Tito tidak langsung melepas pelukannya. Ia menunggu. Sampai benar-benar yakin gadis itu sudah tidak gemetar lagi. Baru kemudian ia menunduk sedikit, suaranya tetap lembut. “Udah?”
Nadine tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, masih bersandar. Tito menghela napas kecil, lalu tanpa benar-benar melepaskan, ia sedikit menggeser posisi agar bisa melihat wajah Nadine. “Lo hebat hari ini,” katanya.
Nadine menggeleng lemah. “Enggak.”
“Iya,” potong Tito pelan. “Gue liat sendiri.”
Nadine terdiam. Matanya masih sedikit basah, tapi kali ini ia tidak menghindari tatapan Tito. Dan untuk pertama kalinya sejak sore itu, ia tidak perlu berpura-pura.
***
Saat napas Nadine mulai lebih teratur, Tito perlahan menarik tubuhnya sedikit menjauh—bukan untuk benar-benar melepas, tapi cukup agar ia bisa mengarahkan gadis itu duduk di sofa. Nadine menurut, tapi tangannya sama sekali tidak ikut melepas. Justru semakin erat melingkar di perut Tito, membuat laki-laki itu tidak punya pilihan selain ikut duduk di sampingnya.