Suasana rumah Hanum malam itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Tawa ringan terdengar dari arah ruang tengah, bercampur dengan suara bidak catur yang sesekali diketuk pelan di atas papan. Di gazebo kecil dekat taman belakang, Arman duduk santai berhadapan dengan Muna, memperhatikan langkah demi langkah permainan yang semakin menegang.
“Kalau kamu terus main defensif begini, Mun, kamu bakal kalah pelan-pelan,” ujar Arman sambil tersenyum tipis, matanya tajam mengamati papan.
Muna terkekeh kecil. “Santai om, ini strategi. Nggak semua serangan harus kelihatan.”
Hanum yang duduk di samping mereka hanya diam, pura-pura memperhatikan permainan, padahal pikirannya jelas ke mana-mana. Kata-kata Tito beberapa hari lalu terus terngiang di kepalanya.
“Ngomong-ngomong, Mun,” Arman kembali membuka percakapan, “kamu sekarang lagi sibuk apa saja selain kuliah?”
Muna mengangkat bahu santai, tapi ekspresinya langsung berubah lebih serius. “Lagi jalanin start up sih, om. Namanya Eduvora. Fokusnya di teknologi pendidikan, lebih ke pemetaan kemampuan siswa, jadi mereka bisa dapet bimbingan belajar yang sesuai sama potensinya.”
Arman mengangguk pelan, terlihat tertarik. “Berbasis apa? AI, atau masih manual?”
“Hybrid, om. Kita lagi kembangin sistem yang bisa ngelacak pola belajar siswa, terus disesuaikan sama kurikulum dan target mereka. Jadi nggak cuma les biasa, tapi lebih ke personalized learning system.”
Hanum menoleh sedikit. Itu dia. Pertemuan Nadine beberapa waktu lalu tentang kerja sama Citra Mandiri yang ternyata juga berkolaborasi dengan beberapa bimbingan belajar. Persis seperti yang mereka butuhkan.
“Udah jalan?” tanya Arman lagi.
“Udah mulai jalan. Udah ada beberapa user juga, tapi ya… masih kecil. Sekarang lagi cari tambahan modal buat scale up.”
Arman tersenyum tipis. “Bagus. Yang penting konsisten.”
Percakapan itu terhenti sejenak saat suara dari dalam rumah memanggil Arman. Ibunya Hanum memintanya masuk ke ruang tengah karena ada yang ingin dibicarakan bersama orang tua Muna.
“Sebentar ya,” kata Arman sambil berdiri. “Kamu main sama Hanum aja.”
Hanum hanya mengangguk ringan, menahan senyum. Begitu Arman menjauh dan suasana sedikit lebih sepi, Hanum langsung menggeser duduknya menghadap Muna. Nada suaranya berubah, lebih pelan, tapi serius.
“Bang,” katanya tanpa basa-basi, “bimbel yang lo bikin udah jalan kan?”
Muna melirik sekilas, agak heran dengan perubahan tone Hanum. “Udah lah, tadi juga gue bilang.”
“Lo lagi butuh investor?”
“Ya iyalah. Namanya juga start up,” jawab Muna santai. “Kenapa? Lo mau bantu? Jangan bilang lo tiba-tiba jadi angel investor.”
Hanum mendengus kecil. “Gue bisa bantu cari jalannya.”
Muna tertawa, menggeleng. “Ngaco lo. Fokus sekolah dulu sana. Tahun depan lo udah harus mikir kuliah.”
“Ih, gue serius,” potong Hanum cepat. Matanya menatap lurus, nggak ada sedikit pun tanda bercanda. “Gue bisa bantu lo dapet kerja sama besar. Tapi… lo juga harus bantu gue.”
Kali ini Muna benar-benar berhenti tertawa. Ia menyipitkan mata, menilai sepupunya itu. “Bantu apa?”
Hanum melirik ke arah dalam rumah, memastikan nggak ada yang mendengar. “Nggak bisa di sini. Besok lo free nggak?”
“Besok?” Muna menghela napas. “Lumayan padat sih. Tapi kalau lo mau, lo aja yang ke tempat gue. Sekalian liat kantor baru gue.”
Hanum langsung mengangguk tanpa ragu. “Share location aja. Pulang sekolah gue ke sana.”
Muna tersenyum miring, setengah penasaran, setengah tertantang. “Gue tunggu ya. Jangan cuma wacana.”
Hanum ikut tersenyum tipis, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Karena untuk pertama kalinya sejak mereka mulai menyusun semua ini.
***