Lokasi shooting hari itu terasa hidup dan sibuk. Lampu besar menyinari set, kru berlalu-lalang dengan headset di telinga, suara arahan terdengar bersahutan. Di tengah semua itu, Nadine berdiri di depan kamera dan terlihat berbeda dari biasanya.
Gadis itu terlihat… fokus. Cara dia berdiri, cara dia menatap kamera, bahkan cara dia menerima arahan, semuanya berubah jadi lebih profesional. Tidak ada lagi Nadine yang santai dan sedikit cuek seperti yang biasa mereka lihat di sekolah.
Di sudut ruangan, Bella berdiri dengan tangan penuh barang, tas Nadine, botol minum, bahkan notes kecil yang ia buat sendiri. “Gila…” gumam Bella pelan. “Ini orang beda banget ya kalau lagi kerja.”
Di sisi lain studio, tepat di belakang area lighting utama, Cheryl berdiri bersama beberapa orang penting dari tim produksi. Di depannya ada meja kecil penuh moodboard, lembaran referensi pose, tone warna, sampai contoh framing dari campaign sebelumnya.
Seorang pria berkacamata—produser proyek itu—menunjuk salah satu referensi. “Kita awalnya mau ambil konsep ‘young couple’, jadi ada beberapa shoot yang lebih… dekat. Supaya feel-nya dapet,” kata David.
Di sampingnya, fotografer utama—Rivan—mengangguk. “Iya, tadi gue sempet coba framing yang lebih intimate. Tapi belum kita execute penuh.”
Cheryl menyilangkan tangan, matanya fokus ke moodboard itu. Ia tidak langsung membantah, tapi jelas sedang menimbang. “Kalau boleh jujur,” katanya akhirnya, nadanya tenang tapi tegas, “Nadine kurang cocok kalau langsung dibawa ke arah intimate.”
Manajer Keino, Mella, yang berdiri di sebelah produser, sedikit mengernyit. “Maksudnya?”
Cheryl menggeser satu lembar referensi ke depan. “Image Nadine itu lebih ke elegant, composed, slightly distant. Kalau terlalu dekat di awal, kesannya malah maksa. Nggak natural.”
Rivan berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan. “Hmm… jadi lo maunya lebih ke… tension daripada connection?”
Cheryl tersenyum tipis. “Exactly.” Ia lalu mengambil satu foto referensi lain, lebih clean, dengan jarak antarmodel yang jelas tapi tetap punya chemistry. “Kita bisa mainin eye contact, body angle, sama positioning. Jadi mereka tetap ‘terhubung’, tapi nggak harus physical.”
David melirik ke Mella, lalu kembali ke Cheryl. “Tapi brand kita pengen ada sense ‘kedekatan’.”
“Bisa,” jawab Cheryl cepat. “Tapi dibangun pelan. Misalnya di awal, mereka ada di frame yang sama tapi nggak bersentuhan. Keino yang lebih mendekat, Nadine tetap di posisinya. Jadi narasinya terbangun dari situ.”
Mella mulai terlihat tertarik. “Jadi Keino yang ‘approach’, Nadine yang ‘hold position’?”
Cheryl mengangguk. “Yes. Itu lebih sesuai dengan karakter mereka berdua juga. Nggak jadi terlalu generik.”
Rivan langsung membuka kameranya, melihat beberapa hasil test shoot sebelumnya. “Kalau gitu… angle kita ubah sedikit. Gue bisa main di depth of field, jadi tetap ada intimacy tapi nggak harus fisik.”
“Exactly,” ulang Cheryl, kali ini lebih ringan.
David mengangguk beberapa kali, lalu tersenyum tipis. “Oke. Kita adjust.”
Cheryl belum selesai. Ia menunjuk satu lagi referensi. “Satu lagi, lighting-nya jangan terlalu warm. Nadine lebih masuk ke tone yang clean atau slightly cool. Biar kesannya lebih premium.”
Rivan langsung menoleh ke tim lighting. “Lighting, kita turunin warmth sedikit. Balance ke neutral.”
Mella melipat tangan, lalu menatap Cheryl dengan ekspresi baru, lebih menghargai. “Lo sering handle beginian?” tanyanya.
Cheryl mengangkat bahu santai. “Nggak juga. Cuma… ngerti aja.” Padahal di kepalanya, ia teringat jelas pesan singkat dari Tito semalam untuk menjaga Nadine di sana. Dan tanpa perlu menjelaskan alasan sebenarnya, Cheryl berhasil mengemas semuanya jadi keputusan profesional yang masuk akal.
David menepuk tangan sekali. “Oke, kita lanjut dengan konsep baru ini. Panggil talent!”
Cheryl melangkah mundur sedikit, membiarkan tim kembali bekerja. Sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan cuma Nadine yang sedang menjalankan peran hari ini. Dia juga.
***
Di sisi lain studio, tepat di luar area shooting yang dibatasi tirai hitam tebal, suasana jauh lebih sepi. Tidak ada lampu besar atau suara arahan kru—hanya lorong kecil dengan beberapa kursi lipat dan meja properti.
Di sana, Bella berdiri sambil berkacak pinggang, menatap kesal ke arah seorang laki-laki yang berusaha “menyamar” dengan topi dan masker.
“Lo ngapain sih, anjing?” desis Bella pelan tapi tajam. “Bakalan ribet urusannya kalau lo tiba-tiba muncul dan deket sama Nadine.”
Di depannya, Tito berdiri dengan tangan masuk ke saku hoodie, bahunya sedikit tegang. Dari cara dia berdiri saja sudah kelihatan—dia gelisah.
“Gue nggak tenang, Bel,” katanya pelan, nyaris seperti mengaku kalah.
Bella langsung menghela napas panjang, frustrasi. “Argh… ya sabar dong, Tito. Cewek lo itu Nadine. Dia lagi kerja, harus profesional.”
Tito mengangkat sedikit wajahnya, matanya samar terlihat dari balik masker. “Gue tau. Justru itu.”