Ruang meeting di lantai dua itu tidak terlalu besar, tapi cukup tertata untuk menunjukkan bahwa tempat ini bukan sekadar ruang diskusi biasa. Di satu sisi, terdapat layar besar yang terhubung ke laptop utama. Di meja panjang di tengah ruangan, sudah duduk empat orang yaitu Muna, dan tiga orang timnya, Clara, Shaka, dan Ardin.
Clara terlihat paling rapi di antara mereka, dengan tablet di tangan dan catatan yang sudah terbuka. Shaka duduk bersandar santai, tapi matanya tajam mengamati setiap gerakan yang masuk ke ruangan. Sementara Ardin lebih banyak diam, laptopnya sudah menyala, jari-jarinya sesekali mengetuk keyboard seolah siap mencatat atau langsung bekerja.
Begitu Elang dan yang lain masuk, keempat pasang mata itu langsung tertuju pada mereka. Mereka mulai mengamati dan menilai. Tidak ada basa-basi berlebihan. Mereka sadar, meskipun kelimanya masih duduk di bangku sekolah, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa mereka serius dengan setiap langkahnya.
Muna menatapnya dengan senyum tipis. “Lumayan,” katanya singkat.
Hanum mengangkat alis. “Apanya?”
“Effort kalian,” jawab Muna. “Minimal nggak kelihatan kayak anak sekolah nyasar.”
Elang menarik kursi tanpa banyak bicara dan duduk di hadapan meja. Helmi langsung duduk di sampingnya, membuka ransel dan mengeluarkan laptop tanpa diminta. Tito mengambil posisi agak menyamping, lebih ke arah jendela. Hanum dan Nadine duduk berseberangan.
Muna memperhatikan itu semua. “Good,” gumamnya pelan. “At least kalian ngerti situasi.” Ia menutup laptopnya perlahan.
“Oke,” lanjutnya, kali ini suaranya berubah lebih serius. “Gue mau denger,” kata Muna lebih tenang tapi tegas. “Dari awal, semuanya seberapa rapi?”
Beberapa detik hening. Lalu Elang berdiri. Ia tidak terburu-buru. Tangannya merapikan sedikit ujung kemejanya sebelum melangkah ke sisi meja, mengambil posisi yang cukup terbuka agar semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Posturnya tegak, tatapannya menyapu seluruh ruangan, seolah memastikan ia benar-benar “memegang” ruangan itu.
“Kenalin,” ucapnya. Suaranya stabil. “Gue Elang Mahadewa, yang akan pegang jalur eksternal dan koordinasi utama dalam rencana ini.” Ia memberi jeda sepersekian detik, lalu melanjutkan dengan lebih terstruktur.
“Hanum,” ia sedikit menggeser pandangan ke arah gadis di sampingnya, “dia yang akan handle komunikasi strategis dan relasi. Termasuk negosiasi dan positioning kita sebagai pihak kerja sama.” Hanum hanya mengangguk tipis, ekspresinya tenang tapi siap.
“Helmi yang akan pegang bagian proposal dan dokumentasi. Semua yang masuk secara resmi ke Citra Mandiri akan lewat dia, tentunya sesuai standar dan tanpa celah administratif.” Helmi menyesuaikan posisi duduknya sedikit, tangannya sudah berada di atas laptop, siap kapan saja.
“Nadine,” lanjut Elang, kali ini menoleh sedikit lebih lama, “dia yang akan jadi juru bicara utama di lapangan. Dia yang akan berinteraksi langsung dengan pihak target, termasuk membuka jalur masuk yang kita butuhkan.” Nadine tidak langsung bereaksi. Hanya mengangkat dagu sedikit, tatapannya tenang namun percaya diri.
“Dan Tito,” Elang mengakhiri, “tim IT yang gue janjikan kemarin.” Semua mata langsung beralih ke Tito.
Laki-laki itu tidak banyak bergerak. Hanya menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi. “Tergantung akses yang gue dapet,” katanya singkat. “Gue bisa masuk lebih dalam dari yang kalian butuh.”
Clara berhenti mencatat. Shaka yang tadinya bersandar kini sedikit menegakkan tubuhnya. Ardin bahkan menghentikan ketikan di laptopnya, menatap langsung ke arah Tito. Muna tidak langsung bicara. Ia menatap Elang beberapa detik lebih lama. Seolah menimbang apakah ini sekadar anak-anak yang terlalu berani atau memang sesuatu yang lebih dari itu.
***
"Jujur aja ya," kata Shaka akhirnya sambil menyilangkan tangan. "Gue tadinya ngira Hanum cuma mau ngenalin gue ke temen-temen sekolahnya."
Hanum mendengus pelan. "Welcome to our daily problem."
Beberapa orang tersenyum tipis. Setidaknya suasana mulai mencair. Muna mengangguk kecil sebelum kembali serius. "Oke. Sekarang gue mau tau satu hal." Tatapannya berhenti di Elang. "Jelasin tujuan utama kalian apa?"
Elang tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan ke dekat layar presentasi yang masih kosong. "Kita nggak masuk ke sana buat nyari sensasi ataupun cari uang. Apalagi buat menjatuhkan perusahaan."
Clara mengangkat alis. "Lalu?"
Hanum menjawab. "Ada beberapa nama siswa yang hilang dari sistem sekolah kita. Beberapa orang yang secara administratif tercatat menjadi siswa pilihan untuk lanjut ke universitas luar negeri, tapi jejaknya berhenti setelah itu."
Shaka yang tadinya santai mulai memperhatikan lebih serius. "Dan kalian yakin itu nyambung ke Citra Mandiri?"
"Kita belum yakin," jawab Helmi. “Tapi semua jalur yang kita telusuri mengarah ke sana."
Ardin akhirnya ikut bicara. "Berarti kalian belum punya bukti."
"Bukti langsung? Belum. Tapi kita punya polanya" jawab Helmi sambil membuka laptopnya. Helmi memutar layar laptopnya sedikit ke arah meja.
Beberapa grafik sederhana muncul. "Ini hasil yang kita kumpulkan selama beberapa minggu terakhir."
Clara langsung mendekat. Ia memperbesar salah satu data. "Ini beneran hilang?"
Helmi mengangguk. "Harusnya ada riwayat lanjutan. Tapi kita nggak nemuin itu. Bukan cuma satu orang yang hilang, tapi beberapa."
Ruangan kembali sunyi. Kali ini lebih berat, karena data di depan mereka bukan lagi teori. Ada pola yang jelas. Muna menyandarkan siku ke meja. "Dan sekarang kalian mau masuk ke yayasan yang kemungkinan besar terhubung sama semua ini."
"Iya."