Promise For You

Fataya
Chapter #6

Part 6

“Kak, pergi dulu! udah mau telat nih,” ujar Rivan yang tak sempat sarapan.

Ranty hanya menggelengkan kepalanya, “kebiasaan nih anak,” celetuknya.

Sesampainya di sekolah, gerbang hampir saja ditutup dan untungnya Rivan sempat masuk meskipun pintu gerbang mulai mengecil, “fuh, selamat gue,” ucap Rivan.

Rivan segera menuju parkir dan bergegas menuju kelas. Sesampainya di kelas, ia menemukan Celine sedang membaca buku seperti biasa.

“Telat lagi lo, van?” tanya Celine.

“Ya, gitu deh,” jawab Rivan.

Bel masuk telah berhenti berbunyi beberapa menit yang lalu. Para guru mulai masuk ke dalam kelas untuk mengajar. Hari ini merupakan hari yang paling disukai oleh Celine, yang mana pada hari ini aka nada pelajaran matematika yang menjadi pelajaran favorit Celine.

“Selamat pagi, anak-anak!” sapa pak Umar saat masuk kelas dan diikuti seorang murid.

Tampaknya mereka kedatangan murid baru. Tapi cukup aneh, mengapa dia pindah sekolah saat menjelang ujian nasional seperti ini. Apakah tidak akan kesulitan untuk mengejar materi.

“Baiklah, untuk hari ini kalian akan mendapat teman baru. Jadi sangat diharapkan untuk semuanya agar membantu dia. Buat dia betah berada di kelas ini. Silakan perkenalkan dirimu,” ucap pak Umar.

“Selamat pagi, teman-teman. Perkenalkan nama saya Rico Atendio, saya pindahan dari Bogor karna orang tua saya pindah kerja kesini,” ucap perkenalan Rico singkat.

Setelah itu, pak Umar mempersilakan Rico untuk duduk di bangku sebelah Rivan yang kebetulan memang kosong. Rivan menyapa ramah kehadiran Rico dan tampaknya dia anak baik-baik.

Pelajaran berlalu berganti istirahat. Rivan menghampiri celline yang mengemasi buku-bukunya.

“Sampe kapan sih lin, lo bawa buku sebanyak ini ke sekolah?” pertanyaan dari Rivan yang nggak asing lagi bagi Celine.

“Sampe gue bosen,” jawab Celine singkat.

Seperti biasa, ekspresi yang ditunjukkan Rivan hanyalah menggerutu. Rivan mengajak Celine untuk ke kantin, tapi Celine malah memilih untuk pergi ke perpustakaan. Rivan tidak mungkin ke kantin tanpa Celine, karna ia malas jika bertemu Nadira di jalan akan banyak pertanyaan yang muncul dari mulutnya.

Rivan berjalan di belakang Celine menuju perpustakaan. Bagi murid yang ada di sekolah itu sudah tidak asing lagi melihat keduanya seperti itu.

“Van, lo ke kantin aja deh, gue tau tadi pagi lo nggak sarapan,” bujuk Celine.

“Gue nggak mau ke kantin kalo nggak ada lo, Lin. Gue males aja ketemu Nadira nanti,” Rivan mencari alasan.

Celline berpikir bagaimana caranya agar Rivan bisa membiarkannya sendiri, karena Celine sendiri ingin mencari sesuatu yang baru saja hadir di kehidupannya.

“Van, coba lo ajak tuh anak baru, dia kan nggak tau jalan sama tempat-tempat di sekolah kita nih, sedangkan lo teman sebangkunya masa nggak ada rasa peduli sedikit pun sama dia,” ujar Celline.

Awalnya Rivan menolak keinginan Celline, namun melihat sikap Celline yang sedikit aneh, Rivan menyetujui saja permintaan Celline untuk pergi ke kantin bersama Rico. Setelah Rivan meninggalkan Celline sendirian di perpustakaan, Celline membuka beberapa buku yang sudah diambilnya dari rak. Sembari mencari halaman terakhir Celline membacanya, ia mencoba menelusuri masa lalunya sejenak. Karna ia merasa tak asing lagi dengan murid baru di kelasnya.

“Kok rasanya nggak asing banget ya?”

Celline masih membalik-balikkan halaman buku, hingga tak lama dari itu halaman yang ia cari ketemu. Celline melanjutkan membacanya hingga waktu istirahat selesai seperti biasa.

Bel masuk kembali berbunyi pertanda istirahat telah berakhir. Celline merapikan buku itu dan kembali ke kelas. Di kelas Celline melihat Rivan dan Rico sedang bersenda gurau. Meskipun Rivan terlihat akrab dengan Rico, bukan berarti Celline juga bisa semudah itu untuk akrab dengannya. Apalagi Celline merasa jika Rico itu bukanlah orang asing baginya.

Lihat selengkapnya