"Pagi, kak!”
Ranty tak menjawab sapaan Rivan. Rivan lalu melepas tasnya dan duduk di sebelah Ranty yang masih berkutik dengan layer laptop yang ada di depannya.
“Gitu ya kalo di panggil ga nyaut,” ucap Rivan sekali lagi.
Ranty masih sibuk dengan layar laptop itu sehingga benar-benar tidak menyadari kehadiran Rivan yang sudah memanggilnya beberapa kali. Karna merasa geram Rivan menarik laptop kakaknya sehingga membuat kakaknya kaget dan kesal karna Rivan sudah menggaggu pekerjaannya.
“Lagian daritadi di panggil nggak jawab mulu, sibuk banget ya sampe adeknya dilupain,”
“Apa sih, Van. Udah tau kakak masih ada kerjaan, udah sini laptopnya!” mengulurkan tangan meminta laptop.
Rivan tak ingin mengembalikan laptop itu kepada kakaknya sebelum ia mendengar cerita Rivan terlebih dahulu. Ranty hanya bisa mengiyakan permintaan adiknya daripada ia menunda pekerjannya semakin lama. Rivan bercerita mengenai Nadira yang mulai curiga dengan sosok Tamara yang sebenarnya adalah Celline. Rivan bilang jika kemarin Nadira sempat ke rumah Celline untuk mengecek apakah Tamara benar-benar pacar Rivan. Untung saja saat itu Celline pandai mengelak sehingga ia aman dari pertanyaan Nadira.
Ranty hanya menyimak cerita Rivan dengan sesekali menutup mulut seolah-olah mengantuk. Rivan bercerita dengan serius, sehingga tak sadar waktu hampir menunjukkan pukul tujuh dan ia harus ke sekolah.
“Van, coba lo liat deh sekarang jam berapa?”
Rivan menoleh jam yang ada di tangannya, sepuluh menit lagi pukul tujuh, Rivan mengembalikan laptop Ranty dan bergegas menuju sekolah tanpa sempat berpamitan lagi sama Ranty.
Celline duduk di bangkunya dengan tenang. Tak lama kemudian Rico menghampirinya dan berpura-pura menanyakan keberadaan Rivan. Celline hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Rico duduk di bangku sebelah Celline dan bertanya lebih banyak lagi mengenai dirinya.
“Kamu pacarana ya sama Rivan?”
Celline hanya diam membaca buku di tangannya dan tak menghiraukan pertanyaan Rico. Rico menggeser kursinya supaya lebih dekat lagi dengan Celline.
“Kamu emang ga berubah ya, Lin. Dari dulu masih suka baca buku.”
Celline terdiam saat mendengar kalimat itu dari Rico. Celline merasa apa yang dikatakan Rico itu adalah pertanda jika Rico memang orang yang datang dari masa lalunya. Celline sedikit terkejut saat Rico akan mengetahui masa lalunya. Namun Celline berusaha tidak termakan oleh ucapan Rico.
“Maaf, kamu anak baru di kelas ini kan. Aku juga baru kenal saat kamu perkenalan diri di depan, mungkin kamu salah orang.”
Rico terdiam dan tidak menyangka Celline berkata demikian. Padahal Rico berharap Celline akan membuka jati dirinya sehingga bisa memberikan kesempatan lagi kepada Rico, nyatanya Celline merasa jika ia bukanlah orang yang Rico maksud.
Rivan berlarian masuk ke dalam kelas karna bel masuk sudah berbunyi, Rivan terhenti saat ia melihat Rico yang masih duduk di sebelah Celline namun tidak ada intraksi di antara mereka berdua. Rivan berjalan menghampiri Rico.
“Tumben kalian berdua ngobrol.”
“Eh, Van. Daritadi gue nungguin lo, jadi gue ngobrol dulu sama Celline, ternyata dia pendiam ya,” ujar Rico sambil berdiri dan membenahi posisi kursi.
Lalu Rivan merangkul Rico dan berjalan menuju bangku mereka. Celline yang melihat hal itu merasa kesal dengan Rivan. Semenjak ada Rico, ia tak lagi peduli dengannya saat di sekolah.
“Awas aja kamu, Van,” Celline hanya bisa mengucapkannya dalam hati.