Di salah satu kamar pribadi dalam Istana Kepresidenan Aurelia, Arkana Adinata, 26 tahun, berdiri tegak di depan cermin panjang yang memantulkan bayangannya sendiri.
Jas formal hitam membungkus tubuhnya dengan rapi. Kemeja putih. Dasi gelap. Nyaris sempurna.
Di belakangnya, televisi menyala tanpa suara.
Breaking News memenuhi layar.
PELANTIKAN ADINATA SEBAGAI PRESIDEN AURELIA UNTUK KEDUA KALINYA
Sorotan kamera, bendera negara, iring-iringan kendaraan kepresidenan—semuanya bergerak cepat di layar televisi. Hari besar bagi negara.
Dan hari yang selalu Arkana benci. Karena hari ini ia harus tampil dengan segala formalitas yang memaksa dirinya mengenakan “topeng”. Tugasnya hari ini hanyalah tampil sempurna di depan publik, pikirnya.
Tablet di atas meja kecil dekat tempat tidur tiba-tiba menyala.
Satu notifikasi masuk.
Arkana meraihnya tanpa terburu-buru. Tapi matanya langsung berubah fokus begitu membaca isi e-mail anonim itu.
Anda pikir pelantikan ayah Anda hari ini akan berjalan aman?
Tidak ada nama pengirim. Hanya ancaman singkat. Rahang Arkana mengeras. Tatapannya menajam.
Ujung telunjuknya menggeser layar tablet dengan cepat. Dalam satu detik, tampilan berubah menjadi beberapa potongan live feed kamera pengawas di sekitar area pelantikan.
Kerumunan massa. Jalur tamu VVIP[1]. Pergerakan kendaraan. Titik pengamanan.
Mata Arkana bergerak cepat membaca pola. Bukan seperti tamu undangan. Bukan juga seperti anak presiden. Melainkan seperti seseorang yang terbiasa mencari kesalahan sebelum kesalahan itu terjadi.
Titik masuk timur terlalu padat.
Pergerakan massa di sisi barat tidak stabil.
Dan ada titik buta kamera kecil di area sayap luar istana yang seharusnya tidak kosong selama pelantikan berlangsung.
Rahang Arkana sedikit mengeras.
Ia langsung mengambil ponsel khusus berlapis enkripsi[2] dari meja.