Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #3

Bab 3 : Agenda Pertama Presiden


Masih di hari yang sama dengan pelantikan. Sebuah lapangan luas di jantung ibu kota telah disulap menjadi arena perhelatan besar.

Hari itu, Kepolisian Negara Aurelia memperingati Hari Ulang Tahun Polisi Wanita. Agenda pertama Presiden Adinata setelah dilantik adalah menghadiri perhelatan tersebut.

Spanduk besar terbentang, menampilkan deretan wajah polisi-polisi wanita dari berbagai angkatan—tegak, percaya diri, dan berwibawa.

Presiden Adinata dan Ibu Negara Larasati sudah duduk di kursi kehormatan di barisan paling depan bersama para petinggi negara.

Beberapa baris di belakang presiden, anak-anak presiden duduk berjajar.

Raka dan Bima tampak tenang, sesekali tersenyum kepada tamu undangan yang menoleh ke arah mereka. Istri-istri mereka duduk anggun di sisi masing-masing.

Arkana duduk sejajar dengan kakak-kakaknya. Posturnya rapi.

Namun ekspresinya tertahan. Ia tampak enggan—bukan karena tidak menghormati acara, melainkan karena suasana resmi seperti ini selalu membuatnya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang tidak ia pilih. Pandangannya melayang ke arah lapangan.

Ke barisan pasukan polisi wanita yang sudah bersiap untuk defile[1]. Ke deretan seragam yang tegak di bawah terik matahari.

Di tengah kerapian itu, Arkana merasakan jarak yang familiar—

jarak antara dirinya dan panggung kekuasaan,

antara sorotan publik dan dunia sunyi yang lebih ia pahami. Namun ia tetap duduk di tempatnya.

Sejajar. Diam. Karena hari itu bukan tentang dirinya. Hari itu tentang simbol. Tentang negara. Tentang barisan perempuan-perempuan berseragam

yang berdiri tegak di lapangan, siap menjalankan tugas—

bahkan ketika dunia hanya melihat mereka sebagai bagian dari upacara.

Lihat selengkapnya