
Malam turun perlahan di Istana Negara. Lampu-lampu koridor menyala redup, memantul di lantai marmer yang bersih dan sunyi.
Area steril itu nyaris kosong—hanya suara langkah kaki yang teredam dan dengung pendingin ruangan yang konstan.
Arkana berjalan menyusuri koridor, tablet di tangan kirinya. Langkahnya mantap, seperti seseorang yang sudah hafal tempat ini sejak lama. Tujuannya jelas: ruang istirahat Presiden dan Ibu Negara.
Ia berhenti tepat di depan pintu.
Ketika tangannya terangkat untuk membuka gagang—sebuah tangan lain menyentuh bahu kanannya dari belakang, sebuah sentuhan kuat, tegas, tidak menjatuhkan namun cukup untuk mengintimidasi.
“Tidak boleh, Mas.” Suaranya tegas. Dingin. Tanpa ragu.
Arkana terkejut, refleks menoleh. Ternyata Ajeng. Ia sudah mengenakan baju dinas ajudan—rapi, kemeja putih, dasi merah, jas dan celana hitam—presisi. Rambutnya ditata sederhana, earphone terpasang di telinga, sikapnya sepenuhnya profesional.
“Ibu sedang istirahat,” lanjut Ajeng. “Tidak bisa diganggu.”