
Di dalam ruang istirahat, Ibu Negara Larasati duduk di sofa panjang berwarna krem.
Bahunya sedikit turun, wajahnya tampak lelah.
Sesekali tangannya terangkat memegangi kening, menekan ringan seolah mencoba meredam sisa-sisa ketegangan hari yang panjang.
Pintu terbuka pelan.
Ajeng masuk tanpa suara. Ia berhenti sejenak, memastikan kondisi ruangan aman.
Tatapannya menyapu singkat—jendela, pintu, sudut ruangan—lalu beralih ke Larasati.