
Di laboratorium bawah tanah. Ruang itu sunyi namun hidup. Deretan monitor raksasa menampilkan peta kota, grafik radar, dan simulasi ancaman.
Cahaya biru kehijauan memantul di lantai baja. Suara dengung mesin bercampur klik keyboard.
Arkana berdiri di depan meja utama. Lengan kemejanya digulung. Tatapannya fokus, jarinya bergerak cepat di atas panel sentuh.
Tak berapa lama, pintu besi terbuka.
Ajeng masuk. Langkahnya mantap. Seragam dinas rapi. Map hitam dijepit di dada. Ia berhenti tepat dua langkah dari Arkana.
“Agenda Ibu Negara minggu depan,” katanya langsung. Tidak ada sapaan. Tidak ada pembuka.
Ia membuka map, menggeser peta digital ke layar utama.
Peta lokasi luar kota. Titik-titik merah menandai potensi ancaman.
“Radius evakuasi di sini terlalu terbuka,” ujar Ajeng sambil menunjuk sektor timur. “Kalau ada gangguan, respon harus di bawah tiga puluh detik.”
Arkana mengangguk. Tidak menatap Ajeng—hanya peta. “Kalau begitu,” katanya, jari-jarinya menyapu layar, “kita tambahkan lapisan deteksi di sektor barat. Sensor bergerak plus analisis pola massa.”