
Keesokan paginya. Ruang latihan Istana Negara sudah hidup sejak dini hari.
Lampu terang menyala. Udara dipenuhi aroma karet, keringat, dan suara napas teratur.
Ajeng berlari di atas treadmill. Langkahnya stabil. Ritmenya konsisten.
Keringat mulai membasahi pelipis, namun ekspresinya tetap fokus—tidak tertekan, tidak terburu-buru. Angka di layar treadmill terus bertambah, sementara napasnya tetap terkontrol.
Selesai lari, Ajeng bergabung dengan beberapa ajudan lain. Sarung tinju dikenakan.
Posisi diambil. Sasak berdiri tegak di hadapan mereka.