
Suatu waktu, pada siang hari yang cukup terik, Presiden Adinata melakukan kunjungan ke daerah bersama keluarganya dan para Menteri kabinet.
Rombongan tiba menjelang siang. Bus besar berwarna gelap melambat di jalan utama daerah itu.
Di balik kaca bus, Presiden Adinata duduk di tengah bersama Ibu Negara Larasati.
Anak-anak mereka di baris depan, tampak melambaikan tangan, polos, tak menyadari betapa rapatnya pengamanan di sekeliling mereka.
Ajeng berdiri dekat pintu, wajahnya tenang, bahu tegap.
Para ajudan lain dan pasukan pengamanan presiden menyebar—ada yang duduk, ada yang berdiri—semuanya membaca gerak sekitar dengan mata yang sudah terlatih.
Ketika bus berhenti, sorak rakyat di pinggir jalan pecah.
Presiden Adinata tersenyum. “Saya turun sebentar,” katanya singkat.
Kalimat itu saja cukup membuat atmosfer berubah.
Pintu dibuka. Ajeng langsung turun lebih dulu. Tatapannya menyapu kiri–kanan.
Pasukan pengamanan presiden membentuk setengah lingkaran. Presiden dan keluarga turun menyusul.
Jalanan penuh orang—wajah-wajah antusias, tangan-tangan terulur.
Ibu Negara tersenyum hangat, anak-anak ikut melambaikan tangan.
Ajeng berjalan setengah langkah di belakang Ibu Negara. Jaraknya dijaga—cukup dekat untuk menutup tubuh, cukup jauh untuk tidak mencolok.
Semua terlihat terkendali. Sampai—“PRESIDEN!” Suara itu tajam. Terlalu fokus. Tidak ikut sorak.
“PRESIDEN INI CUMA PENCITRAAN!”
Nada itu tidak pecah. Tidak panik. Terlalu terarah.
Kerumunan terbelah oleh satu teriakan yang terlalu tajam untuk sekadar protes.
Ajeng sudah bergerak sebelum pikirannya selesai memproses.
Pria itu muncul dari sela barisan. Seorang pria berpenampilan biasa—bersih, rapi, wajahnya keras. Tidak ada mata liar. Tidak ada tawa acak. Yang ada hanya kemarahan yang terstruktur.
Ia melangkah maju dengan yakin. “Negara ini rusak bukan karena rakyat!” teriaknya. “Tapi karena pemimpin yang pura-pura peduli!”