
Malam harinya, di Istana Negara. Arkana berdiri agak canggung di depan pintu kaca buram bertuliskan Restricted Area. Ia berdiri di depan pintu ruang tertutup Pasukan Pengamanan Presiden.
Seorang perwira pasukan pengamanan presiden memberi isyarat singkat, lalu membukakan pintu.
Di dalam, Komandan pasukan pengamanan presiden berdiri dari kursinya. “Silakan, Mas Arkana.”
Arkana mengangguk. Tangannya masih terasa gemetar—bukan karena takut, tapi karena bayangan tadi siang belum pergi dari kepalanya.
Perempuan berseragam itu. Satu langkah maju. Satu keputusan. Satu ancaman berhenti bernapas.
Arkana menarik napas. “Maaf, Komandan… saya tahu ini bukan wilayah saya,” katanya pelan. “Tapi… saya perlu tahu.”
Komandan menatapnya beberapa detik, seperti menimbang sesuatu.
“Profil Ajeng,” lanjut Arkana, suaranya lebih rendah.
“Bukan karena rasa ingin tahu kosong. Tapi karena… tadi siang, dia berdiri di antara peluru dan keluarga saya.” Kalimat itu menggantung.
Komandan menghela napas pendek. Lalu—tanpa berkata apa-apa—ia berjalan ke layar di sudut ruangan. Lampu diredupkan.
SLIDE PERTAMA. Foto Ajeng. Bukan foto seragam lapangan. Bukan senyum formal. Foto taruna. Rambut diikat rapi. Wajah muda. Tatapan lurus. “Lulus Sekolah Menengah Atas usia tujuh belas,” kata Komandan. “Masuk Akademi Kepolisian tanpa jalur khusus.”
Slide berpindah. SLIDE KEDUA. Ajeng berseragam polisi. Helm. Tameng. Debu. “Ploting langsung ke Korps Pasukan Elit Kepolisian,” lanjutnya. “Pelopor. Operasional penuh.”
Arkana menelan ludah.
SLIDE KETIGA. Peta. Titik merah. Garis operasi. “Situasi darurat yang pernah ia tangani,” kata Komandan, datar—terlalu datar untuk daftar seberat itu. Satu per satu muncul di layar: Kerusuhan bersenjata. Evakuasi sipil di bawah tembakan. Penyanderaan urban. Satu tembakan. Selesai. Tidak ada korban tambahan. Huru-hara besar dengan potensi eskalasi nasional. Ajeng tetap di garis depan sampai massa bubar. Evakuasi darurat pejabat daerah saat ancaman belum terkonfirmasi. Keputusan cepat. Protokol tepat.
Komandan berhenti sejenak. Arkana masih serius menyimak.
SLIDE TAMBAHAN. Foto latihan. Gerakan cepat. Tubuh yang terkunci di posisi serang. “Ada kemampuan lain yang tidak selalu muncul di laporan,” kata Komandan. “Ajeng menguasai taekwondo. Bukan sekadar sabuk—tapi aplikasi tempur jarak dekat[1].”
Slide berganti lagi. Diagram sederhana. Pola titik dan garis. “Dan satu hal lagi,” lanjutnya. “Dia memahami sandi Morse. Dilatih sejak Sekolah Menengah Pertama. Awalnya untuk disiplin dan fokus. Sekarang berguna untuk komunikasi darurat saat radio mati.”
Arkana berdiri tegak, tanpa sadar.
SLIDE TERAKHIR. Foto Ajeng berseragam ajudan Ibu Negara. Rapi. Tenang. Jaraknya tepat setengah langkah di belakang. “Dipilih setelah seleksi ketat,” kata Komandan pelan. “Bukan karena siapa dia. Tapi karena apa yang bisa ia lakukan tanpa terlihat.”
Lampu menyala kembali. Arkana tak langsung bicara. Di kepalanya, adegan barusan berputar ulang— tapi kini dengan konteks. Dengan bobot. Perempuan itu bukan hanya berdiri di depan bahaya. Ia terbiasa hidup di dalamnya.
“Terima kasih, Komandan,” kata Arkana akhirnya. Suaranya hampir tidak terdengar.
Komandan mengangguk kecil.
Arkana ragu sejenak, lalu bertanya—seolah itu baru terpikirkan sekarang. “Usianya… berapa, Komandan?”
Komandan menatapnya, lalu menjawab singkat, “Dua puluh enam.”
Arkana terdiam. Dua puluh enam. Ia menghitung cepat—bulan, tahun, jarak waktu. Dadanya terasa mengencang.
Seusia, pikir Arkana. Hanya beda beberapa bulan.