
Hari berganti. Suatu sore, agenda kenegaraan berlangsung di lapangan terbuka. Langit cerah, tamu undangan berderet rapi di bawah tenda acara, protokol berjalan sempurna—terlalu sempurna.
Ajeng berdiri di posisi khasnya: setengah langkah di belakang Ibu Negara, mata menyapu setiap sudut, telinga menangkap detail yang kerap luput dari orang lain.
Nalurinya tiba-tiba bergetar. Suara logam jatuh. Bukan keras, tapi cukup salah.
“Bu, tunduk!” perintah Ajeng tegas—nyaris refleks. Dalam sepersekian detik, Ajeng meraih bahu Ibu Negara dan memutar tubuhnya ke arah berlawanan.
Sebuah benda meluncur cepat dari arah kerumunan—pecahan botol kaca yang dilempar dengan tenaga penuh.
Ajeng memposisikan tubuhnya sebagai perisai. Prak! Kaca menghantam lengan Ajeng, pecah berkeping. Darah mengalir tipis dari sayatan panjang di kulitnya.
Situasi langsung chaos. Pasukan pengamanan bergerak. Pelaku dilumpuhkan dalam hitungan detik.
Ibu Negara aman—sedikit gemetar, tapi tak terluka.
Ajeng tetap berdiri. Wajahnya pucat, namun posturnya tak runtuh. “Bu, Ibu baik-baik saja?” tanyanya tenang, seolah lengannya tidak sedang berdarah.
Ibu Negara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu terluka, Ajeng…”
“Cuma goresan, Bu. Tugas saya memastikan Ibu selamat,” ucap Ajeng, tenang.
Sementara itu Arkana sedang di laboratorium istana mengamati panel-panel di hadapannya.
Tiba-tiba seorang teknisi laboratorium memberitahu Arkana. “Mas Arkana ada yang nyerang Ibu”.
Teknisi laboratorium menunjuk ke arah televisi yang dinyalakan tapi volume suaranya dikecilkan.
Arkana langsung menoleh ke televisi dan membesarkan volume suara.
Ada BREAKING NEWS: Penyerangan Terhadap Ibu Negara. Suara host terdengar membacakan berita penyerangan terhadap ibu negara.
Arkana menyaksikan di televisi kejadian pelemparan botol kepada Larasati dan Ajeng dengan sigap langsung menolongnya sampai lengannya berdarah.
Arkana shock. Ia melihat bagaimana Ajeng bergerak tanpa ragu. Bagaimana tubuhnya menjadi tameng. Bagaimana ekspresinya sama sekali tidak memikirkan diri sendiri.
Untuk pertama kalinya, Arkana benar-benar melihat Ajeng. Bukan sebagai ajudan. Bukan sebagai polisi. Tapi sebagai seseorang yang mempertaruhkan nyawa tanpa pamrih.
Malam harinya di istana, Arkana keluar dari laboratorium lalu berjalan dan berpapasan sama Ajeng yang hendak masuk ke ruang pasukan pengamanan presiden. Satu lengan Ajeng diperban memanjang dari siku sampai pergelangan tangan.