Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #13

Bab 13: Satu Persamaan


Hari berganti. Malam menjelang kunjungan itu turun dengan sunyi yang tidak wajar.

Gedung tua yang akan menjadi tujuan kunjungan Ibu Negara sudah disterilkan. Lampu-lampu menyala seperlunya. Personel pengamanan berganti sif.

Di lantai dua, ruang kontrol sementara dipenuhi layar monitor dan suara dengung pendingin ruangan.

Ajeng berdiri di depan panel, memeriksa ulang jalur evakuasi. Matanya mulai perih—bukan karena takut, melainkan karena lelah yang tak diizinkan muncul.

Pintu terbuka pelan.

“Ada perubahan jadwal,” suara Arkana muncul dari belakang. Tidak keras. Tidak mengejutkan. Seolah ia sudah belajar bagaimana mendekati Ajeng tanpa mengganggu ritmenya.

Ajeng menoleh. “Perubahan apa?”

“Ibu ingin menyapa komunitas kecil di lantai mezzanine. Tidak tercantum di rundown.”

Ajeng menghela napas pendek. “Itu titik buta kamera.”

“Saya tahu,” jawab Arkana cepat. “Makanya saya ke sini.” Bukan kami. Bukan protokol. Saya.

Ajeng menatapnya lebih lama dari biasanya. “Kenapa kamu yang menyampaikan?” tanyanya.

Arkana meletakkan tablet di meja. “Karena saya dengar sendiri. Dan karena… menurut saya kamu perlu tahu tanpa filter.”

Ajeng mengangguk pelan. Ia kembali ke peta digital, menghitung ulang sudut pandang, jarak, waktu reaksi.

Namun ada satu hal yang luput. Pintu servis di sisi barat—yang seharusnya terkunci—berbunyi pelan.

Ajeng langsung menoleh. Tangannya refleks ke senjata.

Namun Arkana lebih cepat. Ia melangkah setengah langkah ke depan, bukan menjauh, bukan bersembunyi. “Ajeng,” katanya rendah. “Itu bukan personel kita.”

Ajeng membeku sepersekian detik—bukan karena takut, tapi karena sadar: Arkana membaca situasi sama cepatnya.

Seorang petugas kebersihan muncul, panik, membawa kotak peralatan logam. Wajahnya pucat ketika melihat senjata Ajeng setengah terangkat. “Ma-maaf, Bu… saya dapat izin lisan…”

Ajeng mendekat, suaranya tegas. “Siapa yang memberi?”

Petugas itu tergagap.

Lihat selengkapnya