Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #14

Bab 14 : Satu Serangan


Beberapa hari kemudian.

Arkana sedang berada di laboratorium sayap timur kompleks riset istana—sunyi, steril, dipenuhi cahaya putih dan dengung mesin yang konstan.

Dinding kaca memperlihatkan rangkaian alat uji, panel data, dan model simulasi yang berlapis-lapis.

Ajeng masuk dengan langkah hati-hati, insting tetap siaga, meski suasana terasa jauh dari medan pengamanan yang biasa ia hadapi. “Tempatmu tenang,” katanya sambil melirik sekeliling. “Terlalu tenang.”

Arkana tersenyum tipis. “Tenang itu ilusi. Di sini yang ribut datanya.”

Mereka berdiri di depan meja kerja besar. Diagram digital terbuka—simulasi struktur bangunan dan gelombang tekanan.

Diskusi mengalir lebih santai dibanding rapat resmi, namun tetap padat. “Kalau ancaman pakai detonator[1] jarak jauh,” Ajeng menunjuk layar, “delay sinyalnya akan kelihatan di pola ini.”

“Benar,” Arkana mengangguk. “Makanya saya pasang filter anomali[2] di sini.”

Ajeng memperhatikan. Bukan hanya sistemnya—tapi Arkana. Wajahnya pucat khas orang yang terlalu sering lupa waktu.

Ia nyeletuk, nyaris tanpa beban, “Kamu perlu olahraga. Jangan di laboratorium terus. Biar nggak gampang sakitan.”

Arkana meliriknya, senyum kecil muncul. “Kayak kamu?”

Ajeng menaikkan alis, tetap fokus ke layar.

“Kayaknya,” lanjut Arkana, setengah bercanda, setengah jujur, “seumur hidup saya nggak akan pernah ngeliat kamu sakit.”

Ajeng berhenti bergerak.

Arkana melanjutkan—tanpa sadar ia melangkah terlalu jauh. “Padahal… kalau kamu sakit, kamu bakal tahu kalau saya bisa ngerawat kamu.”

Sunyi jatuh seketika.

Ajeng menoleh perlahan. Bukan tersinggung secara emosional—melainkan terganggu secara logis. “Jadi,” katanya datar, “kamu berharap saya sakit?”

Arkana tersentak. “Bukan—”

“Pengen saya ketembak?” Ajeng melanjutkan, serius. “Kena bom?”

“Astaga, bukan begitu maksud saya,” Arkana panik kecil, mengangkat tangan defensif. “Saya cuma—saya Cuma ngomong—”

KRAK!

Suara kaca pecah meledak dari sisi luar laboratorium.

Insting Ajeng langsung menyala.

Ia tidak menoleh dulu. Tangannya lebih cepat dari pikirannya—mencengkeram bahu Arkana dan menariknya keras ke bawah.

“Turun!”

Arkana terseret jatuh ke lantai tepat saat peluru kedua menghantam dinding logam di belakang mereka.

DENTANG!

Suara logam bergetar keras di ruangan steril itu. Potongan kaca masih berjatuhan dari bingkai jendela yang retak.

Alarm langsung meraung. Lampu merah berkedip-kedip di langit-langit.

Ajeng sudah berlutut di samping meja kerja baja, tubuhnya menempel rendah. Satu tangan menahan Arkana tetap di lantai, tangan lainnya menarik pistol dari holster dengan gerakan yang hampir tak terdengar.

Ia tidak menembak.

Belum.

Matanya bergerak cepat—menghitung.

Sudut kaca pecah. Lubang peluru di panel dinding. Arah serpihan yang jatuh.

Barat.

Ajeng menahan napas.

“Jangan bangun,” bisiknya tajam kepada Arkana.

Ia menggeser tubuh beberapa sentimeter, cukup untuk melihat keluar melalui sudut meja logam. Hanya sepersekian detik—cukup untuk menangkap kilatan kecil dari gedung seberang.

Refleksi lensa.

Penembak.

Ajeng kembali menunduk sebelum tembakan berikutnya datang.

DOR!

Peluru menghantam lantai beton beberapa meter dari mereka, serpihannya menyebar.

Lihat selengkapnya