
Keesokan harinya. Kamar rawat itu terlalu putih. Bau antiseptik menggantung di udara, bercampur bunyi ritmis alat monitor jantung.
Arkana setengah bersandar di ranjang, bahu kirinya diperban tebal. Rasa nyeri masih ada, tapi tertahan oleh obat.
Di kursi samping ranjang, Larasati—Ibu Negara—duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya saling menggenggam. Wajahnya tenang, tapi mata itu menyimpan kekhawatiran yang tidak ia sembunyikan. “Semua agenda Ibu dibatalkan,” katanya pelan. “Tidak ada yang lebih penting dari kamu hari ini.”
Arkana menoleh, sedikit tersenyum. “Maaf bikin Ibu panik.”
“Kamu anak ibu,” jawab Larasati singkat. “Itu bukan kepanikan. Itu naluri.”
Sunyi turun sebentar.
Larasati menghela napas, lalu menambahkan dengan nada lebih praktis—seperti seseorang yang terbiasa menenangkan situasi genting. “Laboratorium sementara sudah disterilkan,” katanya. “Semua aktivitas dihentikan. Keamanan Istana diperketat. Prosedur keluar–masuk sekarang dua lapis.”
Arkana menoleh cepat. “Pelakunya?”
Larasati mengangguk. “Sudah.”
“Motifnya?” tanya Arkana, suaranya lebih rendah.
“Sabotase,” jawab Larasati tenang. “Ada keterkaitan dengan jaringan lama yang merasa terancam oleh riset yang kamu pimpin. Mereka menganggap sistem itu—” ia berhenti sejenak, memilih kata, “akan menutup ruang gerak mereka.”
Arkana menutup mata sesaat, menarik napas. “Siapa?”
Larasati menatapnya. “Salah satu teknisi kontrak. Direkrut melalui pihak ketiga. Sudah diamankan.”
Arkana membuka mata. Rahangnya mengeras—bukan marah, lebih seperti menahan sesuatu yang berat. Ia menggeser pandangan ke pintu kamar. Lalu ke lorong di balik kaca. Lalu kembali lagi. Seperti seseorang yang menunggu… atau mencari.
Larasati memperhatikan itu. “Kamu gelisah,” katanya lembut.
Arkana ragu sesaat. Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, ia bertanya, “Bu… mana ajudan Ibu?”