Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #17

Bab 17 : Jarak yang Kembali Ada


Beberapa hari kemudian, Istana Negara kembali hidup. Lampu-lampu ballroom[1] menyala lembut, memantul di lantai marmer.

Musik dari live band kecil mengalun santai—tidak resmi, tidak kaku.

Para menteri kabinet hadir tanpa setelan lengkap, sebagian membuka jas. Tawa terdengar di sana-sini.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan agenda padat—dan terutama setelah insiden penembakan di laboratorium—suasana Istana terasa… manusiawi.

Presiden berdiri di tengah ruangan, mengangkat gelas. “Terima kasih,” katanya lantang namun hangat, “kepada semua yang menjaga Istana ini tetap aman. Terutama setelah peristiwa kemarin. Kalian bekerja cepat, tenang, dan profesional.”

Tepuk tangan bergema.

Beberapa pasukan pengamanan presiden dan ajudan yang biasanya berdiri kaku kini tampak lebih santai. Ada yang tersenyum lebar. Ada yang ikut menyanyi lirih mengikuti lagu. Bahkan beberapa terlihat berjoget ringan, disambut tawa rekan-rekannya.

Di salah satu meja jamuan, Arkana duduk bersama Presiden dan Ibu Negara. Ia ikut tersenyum, namun sesekali—tanpa sadar—pandangannya melayang ke belakang ibunya.

Ajeng berdiri di sana. Tegap. Fokus. Seperti biasa.

Lalu sebuah insiden kecil terjadi. Gelas di tangan Ibu Negara tergelincir.

Dalam satu gerakan cepat, Ajeng menangkapnya sebelum jatuh ke lantai. Air di dalamnya tumpah, membasahi lengan jas seragam Ajeng.

“Wah—terima kasih, Ajeng,” kata Ibu Negara refleks.

“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Ajeng sigap.

Ibu Negara tersenyum, menepuk ringan lengan Ajeng yang basah. “Duduklah sebentar. Ini acara santai. Makan juga.”

Ajeng langsung menunduk sopan. “Terima kasih, Bu. Saya berdiri saja.”

“Kalau begitu,” Ibu Negara tidak menyerah, “temani saya minum teh.”

Ajeng ragu sepersekian detik.

Lalu mengangguk. “Baik, Bu.”

Ajeng duduk. Di seberangnya—Arkana. Keduanya sama-sama mengalihkan pandangan, pura-pura tidak saling memperhatikan.

Lihat selengkapnya