
Sebulan kemudian.
Ajeng berdiri tegap di depan meja atasannya. Ruangan itu sederhana, formal, tanpa ornamen berlebih. Di dinding tergantung foto-foto pejabat lama, saksi dari sejarah panjang institusi.
“Atas keputusan pimpinan,” kata atasannya sambil membaca berkas, “besok kamu kami izinkan cuti.”
Ajeng sedikit terkejut. “Izin, Pak?”
“Atas nama institusi,” lanjut sang atasan, menutup map, “besok, pada peringatan Hari Pahlawan, kamu akan menerima penghargaan atas nama ayahmu.”
Ajeng membeku sepersekian detik.
“Wibisono,” tambah atasannya pelan, “perwira polisi yang gugur dalam tugas bertahun-tahun lalu.”
Napas Ajeng tertahan.
Ia menunduk dalam-dalam. “Siap, Pak. Terima kasih.”
Keluar dari ruangan itu, langkah Ajeng tetap rapi—namun dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang lama terkunci.
Keesokan harinya.
Upacara peringatan Hari Pahlawan berlangsung khidmat di istana negara. Deretan keluarga berdiri rapi, masing-masing membawa nama yang tak pernah benar-benar hilang dari sejarah negara.
Ajeng berdiri di antara mereka.
Seragam dinasnya rapi, namun hari itu ia tidak berdiri sebagai aparat. Ia berdiri sebagai anak.