
Beberapa hari setelah itu.
Ruang rapat pasukan pengamanan presiden tidak besar, namun tertata rapi. Meja kerja dipenuhi peta lokasi, tablet, dan berkas briefing.
Di ujung meja, Komandan pasukan pengamanan presiden berdiri sambil menjelaskan skema pengamanan terbaru.
Ajeng dan Arkana duduk berhadapan. Kali ini suasananya berbeda. Ajeng tidak lagi kaku. Ia menyela dengan pertanyaan teknis tanpa ragu.
Arkana menjawab santai, sesekali bercanda ringan. Diskusi mengalir cepat—efektif, tanpa ketegangan seperti biasanya.
“Baik,” kata Komandan akhirnya. “Itu saja. Kita break sepuluh menit.”
Ia menutup map. Ketegangan langsung turun satu tingkat.
Ajeng meraih cemilan di meja—kue kecil dan kopi panas.
Arkana melakukan hal yang sama. Mereka berdiri agak menyamping, tidak lagi terpisah meja seperti sebelumnya.
Ajeng menggigit kuenya. Tenang. Seolah ini bukan ruang pengamanan negara.
“Sebenarnya… cara kerja kamu itu bagus.”
Arkana melirik.
“Oh?”
Ajeng mengangguk sekali.
“Sistem kamu bikin kerja kami lebih gampang.”
Ia jeda. Minum kopi.
“Di lapangan… kami nggak mulai dari nol.”
Arkana berhenti mengunyah.
Ajeng melanjutkan, ringan—terlalu ringan untuk sesuatu yang sebenarnya kompleks.
“Kamu sudah nyaring dulu. Mana yang mencurigakan. Mana yang perlu kami lihat.”
Ia mengangkat bahu kecil.
“Kami tinggal jalan.”
Sunyi setengah detik.
Arkana mengangguk pelan.
Serius. Mengamati.