Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #20

Bab 20 : Hadiah Pertama


Malam itu, Istana Negara mulai lengang. Lampu-lampu lorong menyala separuh. Jam dinding mendekati pukul sebelas.

Arkana berjalan melewati ruang pasukan pengamanan presiden, tas kerja sudah di bahunya. Ia berniat langsung pulang. Langkahnya melambat saat melewati ruang pasukan pengamanan presiden dengan pintu setengah terbuka.

Di dalam ruangan, hanya ada Ajeng. Ia tertidur sambil duduk di kursi kerja, kepala sedikit miring ke samping. Kemeja dinasnya masih rapi, namun jas kerjanya tergantung di sandaran kursi lain.

Dokumen terbuka di meja. Lampu meja masih menyala.

Arkana berhenti di ambang pintu. Ia memandangi Ajeng beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Tidak ada kewaspadaan. Tidak ada tatapan tajam. Hanya kelelahan yang akhirnya menang.

Pelan-pelan, Arkana masuk.

Hampir tanpa suara. Ia mengambil jas Ajeng dari kursi. Mengangkatnya perlahan, berusaha menyampirkannya ke bahu Ajeng.

Tiba-tiba—Tangan Arkana terpelintir kuat. Gerakannya cepat. Refleks. Presisi.

Ajeng terbangun, berdiri setengah, mengunci pergelangan tangan Arkana.

Krak.

Jam tangan Arkana terlepas, jatuh ke lantai.

Kacanya retak.

“Ajeng—!” Arkana refleks bersuara.

Ajeng langsung melepas tangannya. Wajahnya berubah seketika.

“Arkana?” napasnya masih cepat. “Maaf—saya kira—”

Arkana mengangkat tangan satunya. “Tenang. Saya cuma mau nyelimutin kamu.”

Ajeng menatap lantai. Jam tangan Arkana.

Rusak.

Lihat selengkapnya