
Malam itu, Istana Negara Aurelia berubah menjadi pusat diplomasi kawasan. Ballroom utama dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantul lembut di lantai marmer mengilap.
Musik orkestra mengalun pelan, cukup untuk memberi suasana hangat tanpa mengganggu percakapan para tamu negara.
Gala diplomatik itu mempertemukan Ibu Negara Larasati dengan empat Ibu Negara dari negara-negara sahabat di kawasan yang sama dengan Aurelia.
Para diplomat asing, staf kedutaan, hingga delegasi keamanan internasional turut hadir memenuhi ruangan dengan setelan formal dan senyum diplomatis yang terlatih.
Di pintu utama ballroom, Larasati menyambut satu per satu tamunya dengan elegan. Ia menjabat tangan para Ibu Negara, bertukar sapaan hangat dan tawa kecil yang ringan namun penuh perhitungan diplomatik.
Di belakang ritme percakapan yang tenang itu, sistem pengamanan bergerak nyaris tak terlihat.
Ajeng berdiri di salah satu titik pengawasan utama.
Seragam hitam formal pengamanannya melekat rapi di tubuhnya. Earpiece terpasang di telinga kanan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan secara berkala—pintu masuk, balkon atas, pergerakan pelayan, posisi tamu asing, hingga jarak antar-personel pengamanan.
Sementara itu, Arkana hadir malam itu sebagai representasi tim riset keamanan negara. Jas gelapnya sederhana namun presisi, tablet tipis berada di tangannya. Sesekali ia berkoordinasi dengan tim teknis di ruang kontrol, memastikan seluruh sistem pemantauan berjalan stabil.
Ketika jamuan makan malam dimulai, Larasati duduk di meja utama bersama para Ibu Negara dan diplomat senior. Cahaya lilin kecil di tengah meja memberi nuansa hangat pada percakapan mereka.
Ajeng berdiri beberapa meter dari meja itu. Jarak yang cukup untuk mengawasi, cukup jauh untuk tidak mengganggu suasana diplomatik.
Saat itulah seorang pria berdiri di sampingnya.
Staf kedutaan asing. Muda. Karismatik. Setelan jasnya rapi, cara berdirinya tenang dan percaya diri. Pandangannya sama-sama tertuju ke arah meja jamuan makan malam.
Beberapa detik berlalu sebelum pria itu akhirnya membuka suara.
“Pengamanan malam ini sangat rapi.”
Ajeng menoleh sekilas. Tatapannya singkat, profesional.
“Terima kasih,” jawabnya datar.
Pria itu tersenyum kecil. Elegan. Tidak berlebihan.
“Jarang ada petugas yang bisa tetap tenang di acara sebesar ini.”
Ajeng mulai mengernyit kecil. Bukan tersinggung. Bukan tidak nyaman. Ia hanya sedang membaca situasi. Ini pujian kerja… atau apa?
Pria itu melanjutkan, masih dengan nada santai dan sopan.
“Apakah Anda selalu bertugas di lingkungan kepresidenan?”