
Setelah acara gala diplomatik itu, tibalah waktunya akhir pekan di kediaman pribadi Presiden Adinata, yang terasa jauh berbeda dari Istana Negara.
Tidak ada iring-iringan resmi. Tidak ada ruang rapat. Tidak ada wartawan. Hanya rumah besar yang dipenuhi suara keluarga.
Udara siang terasa hangat. Cahaya matahari masuk lembut melalui jendela-jendela tinggi yang menghadap taman dalam rumah.
Setelah makan siang bersama, suasana berubah lebih santai. Presiden Adinata duduk di teras bersama Raka dan Bima sambil mengobrol ringan.
Larasati bersama kedua menantunya Aluna dan Anindya membereskan meja makan sambil sesekali tertawa kecil mendengar suara anak-anak mereka dari taman.
Di taman dalam rumah itu, ada anak-anak Raka : Andra—6 tahun—dan Sofia—4 tahun. Ada pula anak-anak Bima : Alya—3 tahun. Mereka berlarian tanpa aturan jelas. Sementara Radit—anak Bima yang masih satu tahun duduk—di atas matras bermain dengan mainan plastik di sekelilingnya.
Ajeng berada tidak jauh dari sana.
Meski tetap bertugas, hari itu ia tampak lebih santai. Jas pengamanannya dilepas. Memakai kemeja coklat sederhana lengan panjang. Posisinya nyaris terlupakan di tengah suasana keluarga yang hangat.
“Tante Ajeng!” Sofia berlari kecil menarik tangannya. “Main!”
Ajeng tersenyum kecil.
Senyum yang jarang muncul penuh seperti itu.
“Main apa?” tanyanya sambil menunduk sedikit.
“Kuda-kudaan!”
Ajeng sempat terdiam sepersekian detik—seolah sedang memproses logika permainan itu—lalu akhirnya mengangguk kecil.
“Baik.”
Ia duduk lesehan di rumput sintetis taman. Detik berikutnya Alya langsung naik ke punggungnya sambil tertawa keras.
“Jalan, Tante! Jalan!”
Ajeng menghela napas kecil yang terdengar pasrah.
Namun beberapa detik kemudian, ia benar-benar merangkak pelan sambil membawa Alya di punggungnya.
Anak-anak langsung tertawa riuh.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Arkana melihat Ajeng bukan sebagai ajudan, bukan sniper, bukan polisi.
Melainkan perempuan muda yang bisa tertawa kecil sambil pura-pura kalah melawan anak-anak.
Arkana berdiri beberapa meter dari taman sambil memegang gelas minumannya. Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.
Diam-diam.
Lalu permainan berubah lagi.
Kali ini Ajeng duduk bersila sambil memangku Radit yang masih kecil. Bayi itu tampak nyaman di pelukannya, tangannya sibuk menarik ujung lengan baju Ajeng.