Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #24

Bab 24 : Sebuah Kebiasaan


Beberapa tahun kemudian.

Pagi di bandara militer selalu terasa berbeda. Tidak ada suara pengumuman penumpang. Tidak ada keramaian koper atau langkah tergesa-gesa.

Hanya barisan kendaraan resmi, personel pengamanan yang bergerak presisi, dan suara mesin pesawat yang sesekali menggeram rendah di ujung landasan.

Pesawat kepresidenan sudah siap.

Ajeng berdiri bersama tim pengawal di sisi kendaraan taktis. Seragamnya rapi seperti biasa, rompi ringan sudah terpasang, tas kerja tergantung di bahunya. Tatapannya menyapu area sekitar—kebiasaan yang sudah tertanam terlalu lama untuk disadari.

Di tangannya ada tablet kecil.

Ia membaca cepat, lalu langsung mengunci layar.

Arkana.

Tanpa perlu melihat pengirimnya, Ajeng tahu.

Ia memasukkan tablet itu ke dalam tas.

Empat tahun bekerja sama membuatnya tahu satu hal:

jika Arkana mengirim pembaruan sistem di menit terakhir, berarti memang perlu.

Langkah kaki mendekat dari arah parkiran.

Ajeng tidak menoleh.

“Kamu telat satu menit,” katanya datar.

Arkana berhenti di sampingnya. Napasnya masih sedikit cepat, tapi wajahnya tetap tenang.

“Satu menit masih dalam toleransi sistem,” jawab Arkana santai.

Ajeng melirik jam tangannya.

“Bukan sistem kamu yang mengatur jadwal keberangkatan presiden.”

Arkana tersenyum kecil.

“Belum.”

Ajeng mendengus pelan—hampir seperti menahan tawa.

Itu percakapan yang terlalu biasa bagi mereka sekarang.

Arkana menyerahkan sebuah tablet lain. “Update terakhir monitoring di rute transit,” katanya. “Saya tambahkan satu lapisan redundansi[1] di jalur satelit.”

Ajeng menerima tablet itu tanpa memeriksa layar.

Lihat selengkapnya