
Hari-hari berlalu. Waktu kunjungan ke wilayah perbatasan pun tiba.
Wilayah perbatasan menyambut dengan udara kering dan angin yang membawa debu.
Pos pengamanan sementara berdiri di atas kontur tanah yang tidak rata.
Di kejauhan, garis batas negara hanya ditandai pagar rendah dan menara pengawas—terlihat tenang, namun menyimpan sejarah yang rapuh.
Tim pengamanan Presiden dan Ibu Negara telah tiba.
Di sisi bukit kecil, tim penembak jitu berkumpul dalam formasi setengah lingkaran. Senjata disandarkan. Helm dan rompi balistik terpasang rapi. Pimpinan mereka memberi briefing singkat—titik bidik, sudut tembak, kode evakuasi.
Ajeng berdiri di barisan depan. Posturnya tegap.
Tatapannya fokus. Seragam penembak jitu melekat sempurna di tubuhnya—maskulin, fungsional, tanpa ruang untuk keraguan.
“Lima menit,” perintah pimpinan. “Setelah itu, berpencar ke posisi masing-masing.”