
Hingga detik itu, semua berjalan sesuai rencana.
Peta, sudut tembak, kecepatan angin—semuanya sudah dihitung.
Tidak ada improvisasi. Tidak ada ruang untuk emosi.
Ini bukan operasi pertama. Dan seharusnya, bukan yang berbeda.
“Eksekusi diizinkan,” suara Komandan terdengar dingin di earpiece.
Ajeng sudah berbaring stabil di balik bebatuan tinggi. Napasnya teratur. Jari telunjuknya menempel ringan pada pelatuk.
Di kejauhan, target utama terlihat jelas—posisinya mengarah langsung ke jalur iring-iringan Presiden Adinata dan Ibu Negara Larasati.
Ajeng mengatur sudut. Menarik napas. Menahan.
DOR.
Satu peluru dilepaskan.
Target utama roboh sebelum sempat menekan pelatuknya.
“Target lumpuh. Area aman,” suara Komandan terdengar di radio.
Operasi berhasil. Presiden dan Ibu Negara selamat. Negara aman.
Di ruang kendali, Arkana akhirnya menghembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
Di layar monitor, Ajeng masih terlihat di posisinya—diam, utuh, aman.
Beberapa detik berlalu. Tim mulai bergerak membersihkan area.
Dan saat itulah—sosok lain muncul dari balik bebatuan lebih rendah. Gerakannya cepat. Terlalu dekat.
Di layar, Arkana melihat kilatan kecil dari tangan musuh itu.