
Beberapa minggu setelah ledakan granat itu.
Lampu ruang operasi masih sesekali menyelinap ke kepala Arkana. Bau antiseptik. Bunyi monitor. Semua melekat, walau malam ini seharusnya tenang.
Ruang makan di rumah pribadi Presiden Adinata terasa hangat. Terlalu hangat untuk kepala yang masih penuh ingatan buruk.
Meja panjang dipenuhi hidangan. Tidak ada rapat. Tidak ada protokol. Hanya keluarga.
Presiden Adinata terlihat santai. Ibu Negara Larasati tersenyum.
Tawa kecil sesekali muncul—terkontrol, sopan, khas meja makan keluarga itu.
“Sebentar lagi Ayah pensiun,” kata Adinata sambil menuang air.
“Beberapa bulan lagi pelantikan presiden baru. Setelah itu… kita balik jadi keluarga biasa.”
“Biasa versi kita ya, Yah,” gumam Raka.
Adinata tersenyum tipis. “Yang penting tanpa jadwal.”
Semua mengangguk. Semua—kecuali Arkana.
Arkana menatap piringnya seperti sedang menunggu jawaban dari nasi. Mengaduk lauk. Mengunyah satu suap—lalu berhenti.
Larasati memperhatikan Arkana cukup lama. Terlalu lama. Lalu akhirnya bicara, nadanya ringan—terlalu ringan untuk topik itu.
“Ajeng itu,” katanya sambil mengambil sendok sup,
“sudah hampir sebulan cuti.”
Sendok berhenti di udara.
“Atasannya bilang,” lanjut Larasati santai,
“masih butuh dua minggu lagi buat pemulihan.”
Ia mengangguk kecil, seolah menyimpulkan laporan.
“Tapi syukurlah… dia selamat.”
CLINK.
Garpu jatuh ke piring. Bukan satu. Dua.
Kedua kakak Arkana berdehem hampir bersamaan—sinkron, keras, dan sangat tidak perlu.
Raka langsung meraih air minum. Bima pura-pura terbatuk.