
Lorong rumah sakit sunyi. Terlalu sunyi untuk tempat yang menyimpan begitu banyak sisa rasa cemas.
Arkana berhenti di depan pintu salah satu kamar. Ia tidak langsung masuk.
Tangannya sudah terangkat—lalu ragu. Ia menurunkannya, mendekat sedikit, dan mengintip dari celah pintu yang belum tertutup rapat.
Ajeng duduk di ranjang. Bersandar santai di sandaran, satu kaki sedikit ditekuk.
Wajahnya terlihat jauh lebih segar dari yang Arkana bayangkan—terlalu segar untuk seseorang yang beberapa waktu lalu berada di ruang operasi akibat ledakan granat.
Lecet-lecet ringan masih tampak di pipi dan punggung tangan. Salah satu tangannya dibalut perban putih. Tapi matanya jernih. Fokus.
Di tangannya, beberapa lembar kertas. Laporan. Ajeng membaca kertas di tangannya dengan serius.
Arkana menghela napas pelan. Separuh lega.
Separuh… tidak tahu harus merasa apa.
Ia mengetuk pelan lalu masuk.
Keranjang buah di tangannya tampak sedikit canggung—seperti ia sendiri.
Ia melangkah mendekat. Berdehem.
Ajeng menoleh. Dan senyumnya muncul begitu saja.
“Akhirnya kamu datang juga,” katanya ringan.
“Saya kira kamu nggak bakal ke sini.”
Ada nada bercanda di sana. Tapi Arkana menangkap sesuatu yang lain.
Ia berdiri sebentar, lalu tersenyum kecil—menahan, seperti orang yang berusaha tetap normal.
“Ya…,” katanya singkat, lalu berjalan mendekat dan meletakkan keranjang buah di meja kecil di samping ranjang.