
Seminggu kemudian.
Gedung Lembaga Riset Pertahanan Nasional tampak sibuk pagi itu. Koridor utama dipenuhi langkah-langkah cepat, suara sepatu formal, dan percakapan singkat yang efisien.
Aroma kopi bercampur dengan pendingin ruangan yang dingin dan bersih.
Arkana melangkah keluar dari ruang sidang pelantikan kecil. Jasnya rapi, potongannya pas. Rambutnya tertata sederhana.
Ada sesuatu yang baru pada caranya berjalan—lebih mantap, lebih tenang. Baru saja dilantik, tanggung jawab itu masih terasa di bahunya.
Di ujung koridor lain, Ajeng berjalan masuk. Seragam dinas polisinya rapi seperti biasa. Map laporan kerjaan dijepit di lengannya. Langkahnya pasti, fokusnya lurus ke depan—hingga tanpa sengaja ia berhenti. Arkana.
Mereka sama-sama terdiam sepersekian detik. Bukan terkejut. Lebih seperti… menyesuaikan.
“Oh,” kata Arkana lebih dulu. “Kamu… ke sini juga.”
Ajeng mengangguk kecil. “Ngantar laporan.”
Arkana mengangguk balik. “Ah. Iya. Masuk akal.”
Hening sebentar. Tidak canggung yang kaku—lebih seperti dua orang yang sudah saling kenal terlalu lama untuk pura-pura asing, tapi belum cukup dekat untuk langsung santai.