Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #35

EPILOG 1 : Perkenalan Dua Keluarga


Pagi itu, hari Minggu yang tenang, rumah tua milik nenek Ajeng tampak berbeda dari biasanya.

Bangunan sederhana di atas lahan sekitar 120 meter persegi itu berdiri rapi—catnya mungkin sudah tak baru, tapi terawat dengan penuh cinta.

Di halaman depan, sebuah tenda putih dipasang. Deretan kursi tersusun lurus, menunggu sesuatu yang lebih besar dari sekadar acara keluarga.

Bukan kunjungan negara.

Bukan pengamanan VVIP.

Tapi tetap… dijaga.

Beberapa anggota pasukan pengamanan presiden berdiri di titik-titik tertentu. Tidak mencolok, tapi cukup untuk mengingatkan:

protokol… belum sepenuhnya hilang. Karena sebagai mantan presiden, Adinata tetap mendapatkan fasilitas pengamanan dari pasukan pengamanan presiden—fasilitas yang memang diberikan oleh negara.

Di sisi lain, beberapa wartawan sudah bersiap dengan kamera mereka. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat suasana terasa resmi.

Beberapa tetangga berkumpul, berbisik-bisik penuh rasa penasaran.

Pintu rumah terbuka.

Paman Ajeng keluar lebih dulu—posturnya masih tegap meski sudah pensiun. Refleks seorang polisi tak pernah benar-benar hilang. Di belakangnya, bibi Ajeng menyusul, lalu Ajeng… bersama neneknya.

Ajeng tampil sederhana.

Gaun merah marun yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru membuatnya terlihat anggun dengan cara yang jujur—tanpa usaha berlebihan. Rambut bob pendeknya tertata rapi, wajahnya tenang, namun ada sedikit ketegangan yang ia sembunyikan dengan senyum profesional.

Tak lama kemudian, suara iring-iringan mobil terdengar.

Mobil keluarga mantan Presiden Adinata memasuki gang kecil itu—cukup membuat suasana berubah drastis.

Tetangga makin mendekat. Kamera mulai terangkat.

Di dalam salah satu mobil…

Arkana duduk di antara Larasati dan Adinata. Wajahnya tidak setenang biasanya.

“Kenapa ada wartawan?” gumamnya pelan.

Larasati menoleh, tersenyum tipis.

“Mereka butuh berita. Itu pekerjaan mereka. Kamu nggak usah gugup begitu.”

Arkana menghela napas panjang.

“Padahal aku maunya nggak ada protokol…”

Adinata menatap lurus ke depan, suaranya tenang namun tegas.

“Gak mungkin. Kamu harus bisa terima hidup kamu seperti ini.”

Mobil berhenti. Pintu terbuka.

Satu per satu mereka turun—Adinata, Larasati, Arkana, lalu kedua kakak Arkana beserta pasangan mereka. Aura keluarga itu langsung terasa: terlatih, terbiasa dengan sorotan.

Namun yang terjadi berikutnya… justru jauh dari kesan kaku.

Paman Ajeng melangkah maju, lalu memberi hormat—refleks seorang perwira kepada atasannya.

Adinata membalas dengan sikap hormat yang setara, bukan sebagai mantan presiden… tapi sebagai sesama manusia.

Mereka berjabat tangan. Percakapan dimulai. Perkenalan berlangsung hangat.

Larasati menghampiri nenek Ajeng. Dengan lembut, ia menunduk dan menyalami tangan wanita tua itu dengan penuh hormat—tanpa sedikit pun kesan tinggi hati.

Ajeng memperhatikan itu.

Dan untuk sesaat, ketegangannya mencair.

Di tengah semua itu…

Arkana menoleh. Tatapannya bertemu dengan Ajeng.

Empat tahun.

Puluhan rapat.

Puluhan situasi berbahaya.

Lihat selengkapnya