Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #36

EPILOG 2 : Prosedur


Prosedur

Ruang tunggu kantor Arkana di Lembaga Riset Pertahanan Nasional pagi itu relatif tenang.

Dindingnya bersih, formal. Beberapa staf lalu-lalang dengan ritme cepat namun teratur. Di salah satu sisi ruangan…

Ajeng berdiri. Tegak.

Seragam dinas polisinya terpasang sempurna—rapi, presisi, tanpa cela.

Di tangannya, sebuah map cokelat ia pegang dengan posisi lurus di depan tubuhnya.

Wajahnya tenang. Tidak cemas. Tidak gelisah. Seolah menunggu… memang bagian dari pekerjaannya.

Beberapa staf sempat melirik. Bukan karena seragam itu asing—tapi karena auranya.

Profesional. Dingin. Tegas.

Tak lama kemudian, pintu utama terbuka. Arkana masuk.

Langkahnya cepat, tapi langsung melambat begitu melihat Ajeng berdiri di sana. Alisnya sedikit terangkat.

“Ada apa?” tanyanya.

Ajeng tersenyum. Senyum santai, tipis—tapi tetap menjaga jarak profesional.

Tanpa banyak kata, ia melangkah satu langkah mendekat… lalu menyerahkan map di tangannya.

Arkana otomatis menerimanya. Bingung.

“Apa ini?”

Ajeng menjawab ringan.

“Prosedur sebelum nikah sama aku.”

Arkana menatapnya.

“Prosedur?”

Ajeng mengangguk. Santai.

“Ya. Kamu tahu kan… sebelum menikah dengan perwira polisi atau militer ada prosedur formalnya?”

Arkana mengerjap pelan.

“Ya… aku tahu… tapi…”

ia menahan napas sebentar, lalu melanjutkan lebih lirih,

“aku kira aku punya hak istimewa.”

Ajeng diam.

Arkana melanjutkan, hampir refleks:

“Karena aku… anak presiden.”

Ajeng langsung menatapnya. Beberapa detik.

Tajam.

Datar.

Lalu berkata dengan penuh penekanan.

“Mantan presiden.”

Hening sepersekian detik.

“Secara formalitas,” lanjutnya tenang, “status kamu rakyat biasa.”

Arkana menelan ludah. Pelan. Ia menunduk, membuka map itu.

Satu lembar.

Dua lembar.

Tiga lembar.

Alisnya mulai berkerut. Lalu semakin ke bawah… Matanya membesar.

Daftar itu panjang.

Berurutan.

Bernomor.

Rinci.

Dan… banyak.

“Surat permintaan izin…” gumamnya.

“Tes kesehatan…”

“Wawancara…”

Langkah matanya berhenti. Napasnya tertahan.

“Psikotest?”

Ia menoleh cepat ke Ajeng.

“Ada kemungkinan aku gak lulus?”

Ajeng tersenyum kecil.

“Itu cuma untuk mengetahui kondisi mental calon pasangan perwira.”

Arkana masih belum tenang.

“Wawancara?” ia menunjuk lembar itu,

“Sama siapa?”

Ajeng menjawab santai, seolah ini hal biasa.

“Kepala Kepolisian Nasional Aurelia.”

Arkana membeku.

“Atasan tertinggi kamu??”

Ajeng mengangguk ringan.

“Iya.”

Masih sambil tersenyum.

Arkana menatap kembali lembar itu.

Lalu ke Ajeng.

Lalu ke lembar lagi.

Wajahnya mulai berubah.

Sedikit pucat. Sedikit tegang.

Ajeng memperhatikan itu.

Lalu, dengan nada yang tetap tenang… tapi sedikit menantang:

“Kenapa?”

Satu jeda.

Ajeng bertanya dengan nada sedikit lebih dalam.

“Kamu mau mundur?”

Arkana langsung menggeleng cepat.

“Nggak.”

Ia bahkan berusaha tersenyum. Meski sedikit dipaksakan.

“Aku yakin mau maju terus.”

Ajeng menatapnya beberapa detik.

Seolah memastikan.

Lalu ia tersenyum lagi. Kali ini… lebih hangat.

“Baik.”

Ia merapikan posisi map yang masih dipegang Arkana.

“Sampai ketemu hari Senin nanti.”

“Di Markas Besar Kepolisian Nasional Aurelia.”

Satu langkah mundur.

“Jangan lupa bawa semua dokumen persyaratannya.”

Arkana hanya mengangguk. Masih memproses.

Ajeng lalu berbalik. Langkahnya tegas. Rapi. Tanpa ragu.

Pintu terbuka. Dan ia pergi begitu saja.

Ruang itu kembali tenang.

Arkana berdiri sendiri. Map masih terbuka di tangannya. Matanya kembali menyapu daftar panjang itu. Lalu ia menghela napas pelan. Wajahnya sekarang benar-benar berubah.

Pucat. Sedikit tidak percaya.

Ia bergumam lirih, hampir seperti bicara ke dirinya sendiri—

“…aku kira di antara kita sudah tidak ada protokol lagi…”

Arkana menatap daftar panjang itu sekali lagi.

“…ternyata…”

Ia tersenyum tipis.

“…untuk bisa menikahi kamu, aku tetap harus melewatinya.”

______________________________________________________________


Senin yang Penuh Ketegangan

Senin pagi.

Mobil hitam yang ditumpangi Arkana melaju memasuki kawasan pusat kota dengan kecepatan stabil.

Di kursi belakang, Arkana duduk diam, map cokelat terletak di pangkuannya.

Map yang sama yang sejak dua hari lalu tidak benar-benar ia lepaskan dari pikirannya.

Di depan, sopir fokus menyetir. Di sampingnya, Rafi, asisten pribadi Arkana—seorang pria yang usianya tidak jauh dari Arkana—duduk tegak, sesekali memeriksa sesuatu di ponselnya.

Suasana di dalam mobil tenang.

Terlalu tenang.

“Kita sudah dekat?” tanya Arkana akhirnya.

Lihat selengkapnya