Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #37

BONUS CHAPTER (PART 1) : SEBELUM dan SESUDAH ROOFTOP di MALL

Hai Reader, bonus chapter ini isinya momen-momen yang terjadi sebelum dan sesudah Bab 34 : Dan Akhirnya....

Ending Protokol Cinta Season 1 ini kan memang setting tempatnya di rooftop sebuah mall, makanya Bonus Chapter ini isinya apa yang terjadi sebelum dan sesudah momen Arkana dan Ajeng di rootop mall itu. 

Sengaja dimasukkan ke dalam Bonus Chapter karena kalau disatukan dengan struktur novelnya, bisa merusak tone atau vibe dari novel Protokol Cinta Season 1 yang memang saya buat vibe nya: tenang, dewasa, subtle romance. 

Selamat membaca. Semoga terhibur. Terima kasih juga sudah membaca Protokol Cinta Season 1 sampai akhir. 

************************************************************


"Saingan" Arkana

Ruang kerja di rumah pribadi mantan Presiden Adinata sore itu terlalu tenang.

Terlalu tenang... sampai akhirnya tidak.

Arkana duduk tegak di kursi kayu besar, kemeja putihnya rapi, jas hitam tersampir di sandaran. Di depannya, tumpukan dokumen kerjaan baru yang harusnya menyita seluruh fokusnya.

Harusnya.

"Mas Arkana..."

Rafi, asisten pribadi Arkana, muncul dari samping, bawa tablet dan beberapa dokumen.

"Ini Mas, dokumen-dokumen baru dari lembaga riset pertahanan," Rafi meletakkan tablet dan semua dokumen di hadapan Arkana.

"Makasih," ujar Arkana, tanpa menatap Rafi.

Rafi duduk di kursi Seberang Arkana. Wajahnya polos tanpa dosa.

"Hm." Arkana tidak mengangkat kepala. Matanya masih menyusuri dokumen, berusaha terlihat sangat sibuk.

"Mas tahu gak... sejak Mbak Ajeng udah gak jadi ajudan Ibu Negara..."

Tidak ada respons.

"...banyak yang deketin beliau."

Pulpen Arkana berhenti.

Cuma sepersekian detik.

"...Oh ya?" jawabnya datar. Terlalu datar.

Rafi lanjut, tanpa sadar sedang menggali kuburannya sendiri.

"Iya. Kemarin ada petinggi polisi. Pangkatnya tinggi banget. Bintang di pundaknya kayak langit malam."

Pulpen Arkana klik.

Tertutup.

Masih diam.

"Terus ada staf kedutaan. Katanya orangnya sopan, lulusan luar negeri..."

Arkana mulai meraih botol air di meja.

Glek.

Minum.

Masih wajar.

"Terus yang paling banyak tuh... atase-atase muda dari beberapa negara. Pada nanyain Mbak Ajeng ke saya."

Glek. Glek. Glek.

Setengah botol habis.

Dokumen di depan Arkana sekarang cuma pajangan.

"Ngapain nanya ke kamu?" suara Arkana mulai berubah. Tipis. Tertahan.

"Ya katanya saya kelihatan deket."

Arkana akhirnya mengangkat kepala.

Tatapannya... tenang.

Terlalu tenang.

"Kamu deket?"

Rafi langsung jawab jujur.

"Enggak juga sih, Mas. Cuma pernah ngobrol beberapa kali."

Arkana mengangguk pelan.

Baik.

Masih aman.

Harusnya.

"Tapi mereka sampai minta nomor telepon Mbak Ajeng."

Botol air Arkana sekarang kosong.

Kosong. Dalam waktu yang tidak manusiawi.

"Dan?" suara Arkana sekarang lebih pelan.

"Ya saya bilang enggak punya."

Arkana menarik napas.

Satu.

Dua.

Tiga.

"...bagus."

Rafi lanjut, tanpa jeda.

"Tapi habis itu saya jadi kepikiran, jadi saya tanya langsung ke Mbak Ajeng."

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Arkana pelan-pelan menoleh.

"...kamu tanya?"

"Iya."

"...dan dia kasih?"

"Iya, Mas."

Ada sesuatu yang retak di dalam kepala Arkana.

Tidak terdengar.

Tapi terasa.

Arkana bersandar ke kursi, mencoba terlihat santai. Gagal.

Beberapa detik hening.

Lalu...

"Kamu tahu nomor ponsel Ajeng?"

Rafi mengangguk santai. "Tahu."

Arkana langsung menoleh cepat.

"Kok bisa?"

Nada suaranya naik sedikit.

"Saya aja yang kerja bareng dia gak tahu."

Rafi blink sekali. Bingung.

"Lah... kan saya nanya."

Logika sederhana.

Mematikan.

Rafi lanjut dengan polosnya:

"Mas Arkana mau nomor Mbak Ajeng?"

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"...enggak."

Cepat.

Terlalu cepat.

Arkana langsung ambil dokumen lain, pura-pura fokus.

"Gak perlu. Saya profesional."

Rafi mengangguk. "Oh, siap Mas."

Sunyi lagi.

Sepuluh detik.

Lima belas detik.

Dua puluh detik.

Arkana membaca halaman yang sama.

Tiga kali.

Tidak masuk satu kata pun.

Pikirannya ribut:

Petinggi polisi.

Staf kedutaan.

Atase muda.

Nomor telepon.

Dikasih.

Dikasih.

Dikasih.

Tangannya refleks meraih botol air lagi.

Kosong.

Dia menatap botol itu sejenak...

lalu berdiri.

"Saya ambil air."

Nada suaranya tenang.

Wajahnya tenang.

Langkahnya juga tenang.

Begitu sampai dapur—

Dia buka kulkas agak terlalu keras.

Ambil air baru.

Minum langsung.

Glek. Glek. Glek.

Sambil menatap kosong ke depan.

"...bintang di pundaknya kayak langit malam apaan sih..." gumamnya pelan.

Di ruang kerja, Rafi masih berdiri.

Bingung.

"...tadi Mas Arkana kenapa ya?"

*******************************

Arkana Telpon Ajeng Pertama Kali

Beberapa hari kemudian.

Pagi itu, rumah pribadi mantan Presiden Adinata masih terasa tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menatap layar ponsel... selama lima menit... tanpa melakukan apa-apa.

Arkana duduk di sofa ruang keluarga, satu kaki menyilang, wajahnya serius seperti sedang mengambil keputusan negara.

Padahal...

di layar ponselnya cuma ada satu nama:

Ajeng Kirana

Arkana memang akhirnya punya nomor ponsel Ajeng setelah mereka bertemu di Lembaga Riset Pertahanan Nasional, kantor Arkana yang baru, beberapa hari yang lalu.

Dia tarik napas.

Buang.

Tarik lagi.

Buang lagi.

Lihat selengkapnya