Protokol Cinta -Season 1-

Dwitia Yanuanti
Chapter #38

BONUS CHAPTER (PART 2) : SEBELUM dan SESUDAH ROOFTOP di MALL


Minggu yang Kepagian

 

Hari Minggu, jam 07.42 pagi.

Arkana duduk di balik kemudi sebuah city car abu-abu yang... terlalu biasa untuk standar hidupnya.

Tangannya di setir.

Punggung tegak.

Wajah serius.

Seperti sedang mengawal konvoi negara.

Padahal—

dia lagi buka aplikasi peta.

"...belok kiri 200 meter," gumamnya pelan, membaca instruksi.

Mobilnya melaju masuk ke area perumahan.

Pelan.

Hati-hati.

Matanya mulai mengamati sekitar.

Aspal jalanannya...

tidak semuanya mulus.

Beberapa bagian tampak retak.

Beberapa rumah terlihat tua.

Cat pagar ada yang mulai pudar.

Tapi—

lingkungannya tenang.

Pohon-pohon rindang.

Udara terasa lebih adem.

Tidak ada hiruk pikuk.

Arkana sedikit terdiam.

"...di sini..."

Ada sesuatu yang tidak dia sangka.

Bukan buruk.

Justru... sederhana.

Dan hidup.

Dia memperlambat mobil.

Melihat nomor rumah satu per satu.

"...blok C... nomor 17..."

Matanya berhenti.

Rumah itu.

Sederhana.

Pagar kecil.

Halaman depan yang rapi.

Tidak mewah.

Tapi hangat.

Arkana berhenti tepat di depannya.

Mesin masih menyala.

Dia diam beberapa detik.

Menatap rumah itu.

Lalu meraih ponsel.

Menekan nama:

Ajeng

Tut... tut...

"Halo?"

Suara Ajeng masih terdengar... baru bangun.

"Ajeng. Saya sudah di depan."

Hening.

Dua detik.

Tiga detik.

"...hah?"

Nada Ajeng langsung berubah.

"Di depan?"

"Iya."

"...Arkana?"

"Iya."

"Sekarang??"

Arkana melirik jam di dashboard.

"Jam 8."

"Jam 8 pagi??"

"Iya."

"Ka..."

Nada Ajeng mulai antara kaget dan tidak percaya.

"Mall-nya aja belum buka..."

Arkana berhenti.

Satu detik.

"...oh."

Dia tidak kepikiran itu.

Sama sekali.

Ajeng menghela napas di ujung sana.

"Ka, tunggu ya... saya mandi dulu."

"Iya."

"15 menit."

"Baik."

Tut.

Telepon ditutup.

Sunyi.

Arkana duduk diam di dalam mobil.

Tangannya di setir.

Matanya lurus ke depan.

"...mall belum buka..."

Dia mengulang pelan.

Lalu menghela napas.

"...ya sudah."

Dia bersandar sedikit.

Menunggu.

Menit pertama.

Masih tenang.

Menit ketiga.

Mulai mengetuk setir pelan.

Menit kelima.

Cek kaca spion.

Padahal tidak ada apa-apa.

Menit ketujuh.

Benerin posisi duduk.

Menit kesepuluh.

Tarik napas.

Buang.

Menit kelima belas—

Pintu rumah terbuka.

Arkana langsung tegak.

Refleks.

Matanya fokus.

Ajeng keluar.

Dengan pakaian kasual.

Sederhana.

Rambutnya masih sedikit basah.

Wajahnya fresh.

Dan—

tanpa usaha berlebihan—

tetap cantik.

Arkana langsung menelan ludah.

Satu kali.

"...oke..."

Dia langsung ambil topi.

Pakai.

Kacamata hitam.

Pakai.

Lengkap.

Mode "tidak dikenali" aktif.

Ajeng berjalan mendekat.

Begitu sampai di dekat mobil—

dia buka pintu.

Masuk.

Duduk.

Lalu—

diam.

Menoleh ke Arkana.

Naik turun.

Topi.

Kacamata hitam.

Wajah.

Topi lagi.

"...Ka."

"Iya."

"Ini... kenapa?"

"Biar tidak ada yang tahu ini saya."

Jawaban cepat.

Yakin.

Serius.

Ajeng langsung ketawa.

Beneran ketawa.

"Ka..."

Dia masih senyum.

"Justru jadi mencolok."

Arkana menoleh sedikit.

"Tidak."

"Ka, pakai topi sama kacamata hitam jam 8 pagi di perumahan begini..."

Ajeng menggeleng pelan.

"Itu lebih aneh."

Arkana diam.

Dua detik.

"...tidak apa."

Dia tidak mau kalah.

Tidak mau lepas.

Langsung—

gas pelan.

Mobil mulai jalan.

Ajeng masih senyum-senyum kecil.

Sesekali melirik ke samping.

Melihat Arkana yang—

terlalu serius.

Terlalu kaku.

Terlalu... aneh.

Ajeng menyipitkan mata sedikit.

Menatapnya.

Dalam hati:

ini orang kenapa sih...

Sementara di balik kacamata hitam—

Arkana fokus ke jalan.

Tapi pikirannya...

tidak fokus sama sekali.

Deg.

Deg.

Deg.

Dan tanpa dia sadari—

ini baru permulaan dari hari yang akan jauh lebih tidak terkendali dari yang dia rencanakan.

*****************************************

Sarapan

 

Mobil melaju pelan keluar dari kompleks perumahan.

Di dalamnya—

hening.

Bukan hening yang canggung...

tapi hening yang aneh.

Ajeng santai.

Arkana terlalu fokus.

Terlalu fokus sampai... tidak sadar dia lagi tegang.

Ajeng melirik jam tangannya.

Lalu menoleh ke samping.

"Ka."

"Iya."

"Udah sarapan?"

Arkana mau jawab.

Mulutnya sudah terbuka—

tapi—

grrrkkk...

Suara perut.

Jelas.

Nyaring.

Tidak sopan.

Ajeng langsung menoleh cepat.

Arkana membeku.

Satu detik.

Dua detik.

"...belum," akhirnya dia jawab pelan.

Ajeng tarik napas panjang.

Bukan kesal.

Lebih ke... ya ampun ini orang.

"Ya udah, yuk sarapan dulu."

Arkana melirik.

"...di mana?"

Ajeng senyum kecil.

"Di tempat paling enak yang belum pernah kamu cobain."

Arkana sedikit mengernyit.

Penasaran.

"...di mana?"

Ajeng santai.

"Nanti juga tahu."

Sepuluh menit kemudian—

Arkana memperlambat mobilnya.

Pelan.

Sangat pelan.

Matanya menyapu sekitar.

Tenda sederhana.

Gerobak.

Kursi plastik.

Orang-orang duduk santai.

Aroma makanan...

kuat.

Menggoda.

"...di sini?" tanya Arkana.

Ajeng sudah buka seatbelt.

"Iya."

Langsung turun.

Tanpa ragu.

Arkana masih duduk.

Melihat ke luar.

Melihat lagi ke Ajeng.

Melihat lagi ke tempat itu.

"...tempat kaki lima..."

Dia gumam pelan.

Tapi—

bersih.

Rapi.

Tidak berantakan.

Justru... terasa hidup.

Ajeng sudah duduk.

"Ka, sini."

Arkana akhirnya turun.

Masih sedikit ragu.

Tapi ikut duduk di seberang Ajeng.

"Ka, makan ini ya. Enak banget."

Ajeng langsung pesan tanpa banyak basa-basi.

Beberapa menit kemudian—

makanan datang.

Hangat.

Aromanya naik.

Ajeng langsung makan.

Lahap.

Tanpa jaim.

Tanpa mikir.

Benar-benar menikmati.

Arkana memperhatikan.

Sebentar.

Lalu melihat makanannya sendiri.

"...oke."

Dia ambil sendok.

Coba satu suap.

Diam.

Dua detik.

Tiga detik.

Matanya sedikit melebar.

"...ini..."

Dia ambil lagi.

Lebih cepat.

Suap kedua.

Ketiga.

Keempat.

Ajeng melirik.

Tersenyum.

"Kan enak."

Arkana tidak jawab.

Karena—

mulutnya sudah sibuk.

Beberapa menit kemudian—

piringnya bersih.

Benar-benar bersih.

Ajeng bahkan belum selesai.

Dia melirik ke piring Arkana.

"Ka..."

Arkana berhenti.

"...iya?"

"Itu... baru pertama makan di sini?"

Arkana mengangguk pelan.

"...iya."

Ajeng tersenyum kecil.

"Kelihatan."

Selesai makan.

Ajeng langsung berdiri.

Menuju pedagang.

Arkana ikut berdiri.

Masuk ke mode refleks—

ambil dompet.

Buka.

Diam.

Kosong dari uang cash.

Dia berhenti.

"...Rafi..."

Gumam Arkana pelan.

Kesalahan fatal.

Ajeng sudah lebih dulu di depan.

"Berapa, Pak?"

Dia langsung bayar.

Cash.

Lancar.

Arkana berdiri di belakang.

Agak canggung.

Agak tidak enak.

Begitu mereka kembali ke mobil—

Arkana buka pintu.

Menunggu Ajeng masuk dulu.

Lalu dia duduk.

Menyalakan mesin.

Beberapa detik dia diam.

Lalu—

"Ajeng."

"Iya?"

"...makasih."

Nada suaranya tulus.

Sedikit kaku.

Ajeng menoleh.

Santai.

"Iya, sama-sama."

Tidak dibesar-besarkan.

Tidak dibuat aneh.

Justru itu yang bikin Arkana makin... diam.

Mobil mulai jalan lagi.

Menuju mall.

Ajeng melirik jam.

"Kayaknya..."

Dia senyum kecil.

"Kita bakal jadi pengunjung pertama."

Arkana terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—

dia tertawa.

Ringan.

Lepas.

Pertama kalinya sejak pagi itu.

"...iya."

Dan entah kenapa—

hari yang dimulai dengan rencana "biasa aja" itu...

sudah mulai terasa—

tidak biasa sama sekali.

 

Mobil melaju stabil menuju mall.

Suasana di dalam kabin mulai lebih santai.

Arkana sudah tidak sekaku tadi.

Ajeng juga terlihat menikmati pagi itu.

Sampai—

ting.

Notifikasi.

Ajeng melirik ponselnya.

Balas cepat.

Masuk lagi.

ting.

Lalu—

dring.

Telepon masuk.

Ajeng lihat layar, tapi tidak diangkat.

Ditolak.

Beberapa detik kemudian—

ting.

Masuk lagi.

Arkana mulai melirik.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Akhirnya—

"Siapa?"

Nada suara Arkana terdengar santai.

Tapi matanya... tidak santai.

Ajeng tetap lihat ponsel.

"Oh... ini atase."

"...atase?"

"Iya."

Ajeng balas singkat.

Masuk lagi notif.

"Ini yang tadi beda lagi. Polisi."

Arkana menegang sedikit.

"Polisi?"

"Iya, rekan kerja."

Masuk lagi.

Ajeng angkat alis sedikit.

"Ini pilot."

Arkana langsung menoleh.

"...pilot?"

"Iya."

Masuk lagi.

Ajeng mulai agak geli sendiri.

"Ini... tentara."

Sunyi.

Arkana diam.

Tangannya di setir mulai mengencang.

"...tentara juga?"

"Iya."

Ajeng santai.

Seolah itu hal biasa.

Sementara di dalam kepala Arkana—

atase

polisi

pilot

tentara

Lengkap.

Paket komplit.

Dia tarik napas pelan.

Berusaha tetap terlihat normal.

"Ngapain mereka hubungin kamu di hari libur?"

Ajeng ketawa kecil.

Ringan.

"Ya macem-macem."

"Contohnya?"

"Ada yang ngajak nonton."

Ajeng scroll lagi.

"Ada yang ngajak main golf."

Scroll lagi.

"Ada yang ngajak makan."

Dia angkat bahu sedikit.

"Ya gitu-gitu."

Arkana menelan ludah.

Pelan.

Gelisah mulai naik.

"Terus..."

Dia berhenti sebentar.

"...kamu jawab apa?"

Ajeng langsung jawab tanpa mikir.

"Aku gak mau."

Arkana diam.

Satu detik.

Lihat selengkapnya