Arkana Mengembalikan Mobil
Beberapa menit setelah meninggalkan rumah Ajeng—
Arkana memperlambat mobil di sebuah titik yang sudah disepakati.
Pinggir jalan.
Sedikit sepi.
Lampu jalan temaram.
Sosok Rafi sudah berdiri di sana, tangan di saku, menunggu.
Begitu mobil berhenti—
Rafi langsung buka pintu penumpang.
Masuk.
Duduk.
Menutup pintu.
Lalu menoleh.
"...Mau saya yang nyetir, Mas?"
Arkana menggeleng.
Tanpa ragu.
"Nanti."
Dia tetap pegang setir.
"Nanti habis dari rumah saya aja, baru kamu yang nyetir."
Rafi mengangkat alis.
Melirik Arkana.
Lama.
Lalu bergumam pelan:
"...luar biasa... saya disetirin anak presiden."
Arkana langsung jawab cepat:
"Mantan presiden."
Rafi nyengir tipis.
"Iya, Mas. Mantan."
Tapi matanya...
tidak lepas dari wajah Arkana.
Yang—
terlalu berbeda.
Terlalu cerah.
Terlalu... bahagia.
Rafi menyipitkan mata sedikit.
Curiga.
"Sebenarnya..."
Dia menyandar.
"...Mas Arkana hari ini ke mana sih?"
Arkana diam.
Tetap lihat jalan.
Tidak jawab.
Rafi melirik ke dashboard.
Lalu—
matanya berhenti.
Di dekat tuas transmisi.
Dua lembar karcis.
Bioskop.
Dua.
Rafi mengambilnya pelan.
Membaca.
Lalu—
membeku.
"...Mas..."
Arkana masih diam.
"...ini... dua tiket?"
Masih diam.
Rafi menoleh pelan.
Matanya melebar.
"...Mas Arkana kencan???"
NGIIIKKK—
Mobil langsung direm mendadak.
Ban sedikit berdecit.
Rafi terdorong sedikit ke depan.
"MAS—"
Arkana menoleh.
Tatapannya tajam.
Penuh ancaman.
Serius.
"Jangan bilang siapa-siapa."
Sunyi.
Rafi langsung tegak.
Kaku.
"S-siap..."
Arkana masih menatapnya.
Dua detik.
Tiga detik.
Baru—
dia kembali ke depan.
Menginjak gas lagi.
Mobil jalan.
Lebih tenang.
Beberapa detik hening.
Rafi menelan ludah.
Masih syok.
Lalu—
tidak tahan.
"...sama siapa, Mas?"
Arkana tanpa menoleh.
"Belum waktunya."
Pendek.
Final.
Rafi langsung diam.
Tidak berani lanjut.
Tapi—
dalam kepalanya sudah ribut.
Mas Arkana... kencan...
Ini sejarah...
—
Beberapa menit kemudian—
mobil masuk ke area rumah pribadi mantan Presiden Adinata.
Gerbang terbuka.
Pengamanan mengenali kendaraan.
Mobil berhenti di depan.
Arkana mematikan mesin.
Lalu melepas seatbelt.
Klik.
Dia menoleh ke Rafi.
"Thank you."
Nada suaranya ringan.
Berbeda.
Rafi mengangguk cepat.
"Iya, Mas."
Arkana membuka pintu.
Turun.
Berjalan masuk ke dalam area rumah.
Langkahnya santai.
Masih ada sisa senyum di wajahnya.
Rafi memperhatikan dari dalam mobil.
Menggeleng pelan.
"...ini bukan Arkana yang saya kenal..."
Dia pindah ke kursi pengemudi.
Menutup pintu.
Menyalakan mesin lagi.
"...tapi menarik."
Mobil perlahan bergerak.
Keluar dari area rumah.
Meninggalkan satu malam—
yang ternyata bukan cuma mengubah satu orang...
tapi mungkin akan mengubah semuanya.
*********************************************
Ajeng di Kamar
Ajeng sudah di kamarnya
Berbeda dengan hiruk pikuk hari tadi.
Dia duduk di kursi.
Punggung bersandar.
Menatap ke depan.
Kosong.
Beberapa detik.
Lalu—
dia menghembuskan napas panjang.
"...akhirnya..."
Pelan.
Hampir tidak terdengar.
Ajeng menyandarkan kepala.
Matanya sedikit terpejam.
Mengingat—
rooftop.
Angin malam.
Jarak yang hilang.
Kalimat Arkana.
Aku mau kenal keluargamu.
Ajeng membuka mata.
Menatap langit-langit.
Bibirnya sedikit terangkat.
Senyum kecil.
Tidak lebar.
Tidak berlebihan.
Tapi nyata.
"...ternyata..."
Dia berbisik pelan.
"...bukan cuma aku."
Tangannya bergerak pelan.
Mengambil ponsel.
Layar menyala.
Beberapa notifikasi masih masuk.
Nama-nama yang tadi siang.
Atase.
Pilot.
Rekan kerja.
Ajeng melihat sekilas.
Lalu—
mengunci layar lagi.
Diletakkan kembali.
Tidak ada yang penting.
Tidak ada yang menarik.
Pikirannya hanya ke satu orang.
Arkana.
Dia menunduk sedikit.
Menatap lantai.
Senyumnya masih ada.
Lebih lembut sekarang.
Lebih tenang.
Tidak meledak-ledak.
Tidak dramatis.
Hanya...
lega.
Sangat lega.
Seolah sesuatu yang lama ditahan...
akhirnya menemukan tempatnya.
Ajeng berdiri.
Berjalan ke arah jendela.
Membuka sedikit.
Angin malam masuk.
Dia memeluk dirinya sendiri ringan.
Bukan karena dingin.
Tapi refleks.
Pikirannya kembali ke satu momen—
jarak itu.
Yang dulu selalu ada.
Sekarang...
tidak lagi.
Ajeng menatap keluar.
Lampu-lampu jalan terlihat dari kejauhan.
Tenang.
"...Arkana..."
Dia menyebut pelan.
Lalu tersenyum lagi.
Lebih tipis.
Lebih dalam.
"Lama juga ya..."
Tidak ada jawaban.
Hanya angin yang lewat.
Ajeng menutup jendela pelan.
Kembali ke dalam.
Mematikan beberapa lampu.
Menuju kamar.
Langkahnya tetap tenang.
Tetap terkontrol.
Seperti biasa.
Tidak ada yang berubah dari luar.
Tidak ada yang berlebihan.
Tapi di dalam—
ada sesuatu yang sudah pasti:
perasaannya tidak sendiri.
Dan untuk seseorang seperti Ajeng—
itu sudah lebih dari cukup.
***************************************
Arkana di Kamar
Malam semakin larut.
Di kamar pribadinya—
Arkana menutup pintu perlahan.
Klik.
Ruangan itu rapi.
Terlalu rapi.
Seperti biasa.
Seperti dirinya selama ini.
Dia berdiri beberapa detik di tengah kamar.
Diam.
Tidak langsung bergerak.
Seolah... masih tertinggal di tempat lain.
Di rooftop itu.
Angin malam.
Dan jarak yang tadi... hilang.
Arkana melepas jam tangannya.
Meletakkannya di meja.
Melepas kemeja.
Menggantungnya rapi.
Semua dilakukan otomatis.
Terlatih.
Tapi pikirannya—
tidak di situ.
Dia berjalan ke arah jendela.
Membuka sedikit.
Udara malam masuk.
Lebih dingin.
Lebih sunyi.
Arkana berdiri di sana.
Menatap keluar.
Lampu kota terlihat dari kejauhan.
Tidak seindah dari rooftop tadi.
Tapi cukup.
Dia menghembuskan napas pelan.
"...Ajeng..."
Nama itu keluar begitu saja.
Tanpa sadar.
Dia diam.
Lalu sedikit tersenyum.
Kecil.
Tapi jelas.
Tangannya masuk ke saku celana.
Mengambil ponsel.
Layar menyala.
Chat terakhir.
Alamat rumah Ajeng.
Dia menatapnya beberapa detik.
Lalu—
layar mati lagi.
Disimpan.
Tidak dibuka lagi.
Tidak perlu.
Karena yang dia cari...
bukan di layar itu.
Arkana berjalan ke tempat tidur.
Duduk.
Menyandarkan siku di lutut.
Menunduk sedikit.
Mengingat—
tatapan Ajeng.
Senyumnya.
Dan momen itu.
Saat dia bilang:
Aku mau kenal keluargamu.
Arkana menghembuskan napas.
Lebih panjang kali ini.
"...akhirnya..."
Dia berbisik pelan.
Bukan kemenangan.
Bukan lega yang berlebihan.
Tapi...
sesuatu yang selama ini dia tahan—
akhirnya dia akui.
Dia berbaring di tempat tidur.
Menatap langit-langit.
Sunyi.
Tidak ada dokumen.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada peran.
Hanya dia.
Sebagai dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya—
yang memenuhi pikirannya bukan tanggung jawab...
tapi seseorang.
Ajeng.
Arkana menutup mata.
Senyum tipis masih ada.
"...ternyata sama..."
Kalimat itu pelan.
Hampir tidak terdengar.
Tapi cukup.
Sangat cukup.
Dan malam itu—
untuk seseorang yang selalu hidup dalam kontrol—
Arkana akhirnya membiarkan dirinya...
tidur dengan perasaan yang tidak dia kendalikan.
*********************************************
Yang Tak Lagi Tersembunyi
Pagi buta.
Langit bahkan belum benar-benar terang.
Di dalam kamar, Arkana masih terlelap.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... tidurnya tenang.
Tanpa tekanan.
Tanpa mimpi buruk.
Tanpa agenda.
Sampai—
ting.
ting.
ting.
ting—ting—ting—
Notifikasi.
Tidak berhenti.
Awalnya samar.
Lalu makin jelas.
Makin sering.
Makin mengganggu.
Arkana mengernyit.
Sedikit bergerak.
Belum sepenuhnya bangun.
Sampai—
DRRRRING.
Ponsel bergetar keras.
Nama yang muncul: