PROTOKOL NUSANTARA III : KOTA TANPA INGATAN

Prasetya
Chapter #1

PROLOG LELAKI YANG DIHAPUS DARI DUNIA

PROTOKOL NUSANTARA III: KOTA TANPA INGATAN

PROLOG

LELAKI YANG DIHAPUS DARI DUNIA

 

Pukul 06.17 pagi, Aditya Pranawa pulang ke rumahnya.

Ia membawa dua bungkus nasi pecel, sekantong jeruk, dan sebuah boneka kecil berwarna merah muda yang dibelinya untuk putrinya. Hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, udara dingin, dan matahari mulai menembus sela-sela awan.

Semuanya tampak seperti pagi biasa.

Ia menaiki tiga anak tangga menuju teras, mengeluarkan kunci dari saku celana, lalu membuka pintu.

"Assalamu'alaikum."

Tidak ada jawaban.

Aditya meletakkan belanjaan di meja makan. Dari arah dapur terdengar suara air mengalir. Istrinya mungkin sedang mencuci piring. Ia tersenyum kecil.

"Ratna?"

Seorang perempuan muncul dari dapur. Usianya sekitar empat puluh tahun, rambutnya diikat sederhana. Ia mengenakan daster biru yang sudah dikenalnya selama hampir dua puluh tahun.

Aditya mengangkat kantong berisi jeruk.

"Aku bawakan kesukaanmu."

Perempuan itu berhenti.

"Maaf, Anda siapa?"

Senyum Aditya menghilang.

Ia mengira istrinya sedang bercanda.

"Sudahlah, Ratna. Jangan mulai pagi-pagi."

Perempuan itu mundur selangkah.

"Pak, rumah ini rumah saya. Anda tidak boleh masuk sembarangan."

Aditya memandang wajah perempuan itu. Wajah yang setiap pagi dilihatnya. Wajah yang pernah menangis di bahunya ketika ayahnya meninggal. Wajah yang diciumnya pada malam pernikahan mereka.

"Ratna, ini aku."

Perempuan itu meraih telepon genggam.

"Siapa nama Anda?"

"Aditya."

"Aditya siapa?"

"Aditya Pranawa. Suamimu."

Perempuan itu terdiam. Bukan karena mengenali namanya, melainkan karena ketakutan.

Beberapa detik kemudian, seorang anak perempuan berlari dari kamar.

"Ibu, siapa?"

Aditya menoleh.

"Lila!"

Ia membuka kedua tangannya.

Namun anak itu bersembunyi di belakang ibunya.

"Bu, aku takut."

Kalimat itu menghantam Aditya lebih keras daripada pukulan siapa pun.

Ia berjongkok, berusaha menyamakan tinggi tubuhnya dengan anak itu.

"Lila, ini Ayah. Ayah pulang."

Anak itu menggeleng.

"Aku tidak punya ayah."

Aditya tidak bergerak.

Boneka kecil berwarna merah muda terjatuh dari kantong belanjaan. Menggelinding ke bawah meja, berhenti di dekat kaki anak perempuan itu.

Lila memandang boneka tersebut.

"Boneka siapa itu?"

"Untukmu, Nak."

"Aku tidak mau."

Ratna mengambil telepon dan mulai menghubungi seseorang.

Aditya berdiri perlahan. Ia tidak lagi berusaha mendekat.

Ada sesuatu yang salah.

Bukan sekadar istrinya yang tidak mengenalinya. Bukan pula anaknya yang menolak menyebutnya ayah.

Ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

Pukul 07.03, Aditya berada di kantor polisi.

Ia menunjukkan KTP, kartu keluarga, surat nikah, dan foto-foto keluarganya.

Petugas memeriksa semua dokumen itu.

"Nama Anda tidak ditemukan."

Aditya menahan napas.

"Coba lagi."

Lihat selengkapnya