PROTOKOL NUSANTARA III : KOTA TANPA INGATAN

Prasetya
Chapter #2

BAB 1 LELAKI YANG TIDAK DIKENALI

BAB 1

LELAKI YANG TIDAK DIKENALI

Pukul 11.26, Aditya Pranawa berdiri di seberang jalan rumahnya.

Rumah bercat putih dengan pagar hitam itu masih sama. Pot bunga di teras masih tersusun di tempat yang sama. Pohon mangga di halaman depan masih tumbuh miring ke arah jalan. Bahkan sepeda kecil milik Lila masih terparkir di samping garasi.

Tidak ada yang berubah.

Kecuali dirinya.

Aditya menyeberang ketika sebuah mobil berhenti di lampu merah. Ia berjalan perlahan menuju pagar, menekan bel, lalu menunggu.

Beberapa saat kemudian, Ratna muncul dari balik pintu.

Perempuan itu tampak terkejut melihatnya.

"Anda lagi?"

"Aku ingin bicara."

"Saya sudah bilang, saya tidak mengenal Anda."

"Aku tidak akan masuk. Aku hanya ingin bicara denganmu."

Ratna memandang ke arah jalan, memastikan tidak ada orang lain. Kemudian ia membuka pagar sedikit.

"Pak, saya tidak tahu masalah Anda apa. Tapi tolong jangan datang lagi."

Aditya mengeluarkan sebuah benda dari saku kemejanya.

Sebuah cincin kawin.

Cincin sederhana dari emas putih, dengan goresan kecil di bagian dalam. Goresan yang dibuatnya sendiri ketika cincin itu pertama kali dipakai.

"Masih ingat ini?"

Ratna tidak mengambilnya.

"Di mana Anda mendapatkannya?"

"Ini cincin pernikahan kita."

"Saya tidak pernah menikah dengan Anda."

Aditya menatap perempuan itu lama sekali.

"Ratna, kita menikah pada tanggal dua belas Juni. Di sebuah gedung kecil di Surabaya. Hujan turun sepanjang hari. Ayahmu tidak datang karena sedang sakit. Kau menangis sebelum akad dimulai."

Wajah Ratna berubah.

Bukan karena ingatan itu kembali.

Melainkan karena ia mendengar seseorang menceritakan bagian hidupnya dengan begitu terperinci.

"Siapa yang memberi tahu Anda semua itu?"

Aditya tidak menjawab.

Ratna menutup pagar.

Sebelum pintu benar-benar tertutup, terdengar suara Lila dari dalam rumah.

"Ibu, siapa yang datang?"

"Tidak ada siapa-siapa, Sayang."

Aditya memejamkan mata.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia berjalan tanpa tujuan selama hampir satu jam.

Di sebuah taman kecil, Aditya duduk di bangku kayu. Ia mengeluarkan telepon genggam dan membuka rekaman suara lama.

Suara Lila terdengar ceria.

"Ayah, besok kita ke kebun binatang, ya?"

Kemudian suara Ratna.

"Jangan lupa belikan susu, Mas."

Lalu suaranya sendiri.

"Iya, Bos kecil. Semua permintaan akan dipenuhi."

Aditya tersenyum getir.

Ia memutar rekaman itu sekali lagi.

Kali ini ia mendengar sesuatu yang sebelumnya tidak diperhatikannya.

Di antara suara-suara tersebut terdapat bunyi pendek seperti desis elektronik. Setelah itu, rekaman berhenti.

Ia membuka informasi berkas.

Tanggal pembuatan: lima tahun lalu.

Durasi: 00:00:00.

Aditya mengerutkan kening.

Ia kembali menekan tombol putar.

Tidak ada suara.

Rekaman itu masih menampilkan gambar gelombang suara, tetapi tidak mengeluarkan apa pun.

"Jangan-jangan aku mulai gila," gumamnya.

Seseorang duduk di bangku sebelah.

Seorang lelaki tua dengan kemeja cokelat dan topi lusuh.

"Orang gila biasanya tidak terlalu sibuk memeriksa apakah dirinya gila," kata lelaki itu.

Aditya menoleh.

"Maaf?"

Lelaki tua tersebut menunjuk telepon di tangan Aditya.

"Sejak tadi Anda memutar sesuatu."

"Rekaman keluarga saya."

"Sudah lama?"

"Lima tahun."

"Dan sekarang?"

Aditya menatap layar.

"Sekarang mereka tidak mengenal saya."

Lelaki tua itu tidak tertawa.

Ia justru memandang Aditya dengan serius.

"Nama Anda?"

"Aditya."

Lelaki tua itu terdiam.

"Aditya Pranawa?"

Aditya langsung berdiri.

"Anda mengenal saya?"

Lelaki tua itu mengamati wajahnya. Ada keraguan di matanya, seolah-olah ia sedang berusaha mengingat sesuatu yang nyaris hilang.

"Saya pernah melihat nama itu."

"Di mana?"

"Di kantor kelurahan. Mungkin juga di sebuah laporan."

"Anda ingat saya?"

Lelaki tua itu menggeleng.

"Tidak. Saya hanya ingat nama itu pernah membuat seseorang marah."

Lihat selengkapnya