BAB 2
FOTO YANG BERUBAH
Pukul 05.40 pagi, Aditya terbangun di sebuah kamar penginapan murah.
Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Semalam ia duduk berjam-jam di tepi ranjang, memandangi foto pernikahannya yang tersimpan dalam telepon genggam.
Foto itu masih ada.
Ratna mengenakan kebaya putih. Aditya berdiri di sampingnya dengan jas hitam. Mereka tersenyum di depan sebuah latar sederhana bertuliskan nama kedua mempelai.
Namun ada sesuatu yang membuatnya gelisah.
Di sisi kanan Ratna terdapat ruang kosong.
Bukan bayangan. Bukan kerusakan gambar. Bukan pula bagian foto yang terpotong.
Ruang itu tampak seperti tempat yang memang tidak pernah ditempati siapa pun.
Aditya memperbesar gambar.
Ia mengenali latar gedung, bunga, bahkan jam dinding di belakang mereka. Ia ingat hari itu dengan sangat jelas. Ia ingat tangan Ratna yang dingin ketika digenggam. Ia ingat suara penghulu yang sesekali tertutup bunyi hujan.
Tetapi foto itu menyangkal semuanya.
Ia membuka foto lain.
Foto ulang tahun Lila yang kelima.
Anak kecil itu berdiri di depan kue cokelat, mengenakan gaun merah muda. Ratna berada di sebelah kiri. Beberapa kerabat berbaris di belakang.
Aditya seharusnya berdiri di sebelah Lila, memegang bahunya.
Kini tempat itu ditempati sebuah pot bunga.
Aditya mengusap layar.
"Kenapa?"
Ia membuka foto berikutnya.
Liburan keluarga di Yogyakarta. Mereka bertiga berpose di depan sebuah bangunan bersejarah.
Sekarang hanya Ratna dan Lila.
Foto berikutnya: makan malam di restoran.
Dua piring.
Dua gelas.
Dua orang.
Foto berikutnya: rumah mereka saat Natal.
Satu pohon cemara, dua orang, dan sebuah kursi kosong.
Aditya menjatuhkan telepon ke kasur.
Ia merasa seperti sedang menyaksikan kehidupan orang lain yang perlahan-lahan menggantikan kehidupannya sendiri.
Pukul 06.15, ia mencoba menghubungi Sari.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua ditolak.
Pada panggilan ketiga, suara perempuan itu terdengar terburu-buru.
"Jangan telepon saya lagi."
"Sari, saya perlu bicara."
"Saya sudah bilang, jangan hubungi saya."
"Ada sesuatu yang terjadi pada foto-foto saya."
Hening sejenak.
"Foto apa?"
"Foto keluarga. Semuanya berubah."
"Jangan kirim apa pun kepada saya."
"Sari, Anda yang menunjukkan dokumen KONSENSUS. Anda tahu ada sesuatu yang salah."
"Saya tidak tahu apa-apa."
"Saya hanya ingin tahu siapa yang membuat sistem itu."
Suara Sari mengecil.
"Pak Aditya, dengarkan saya. Jangan mencari orang-orang yang pernah bekerja di proyek itu."
"Mengapa?"
"Karena mereka sudah tahu Anda mencari mereka."
Sebelum Aditya sempat bertanya, sambungan terputus.
Ia mencoba menelepon kembali.
Nomor tersebut tidak dapat dihubungi.
Aditya menatap layar. Kontak Sari masih tersimpan, tetapi foto profilnya telah berubah menjadi lingkaran abu-abu tanpa nama.
Ia mencoba membuka pesan lama.
Seluruh percakapan mereka lenyap.
Pukul 07.30, Aditya keluar dari penginapan dan membeli koran di kios dekat jalan raya.
Ia tidak benar-benar berharap menemukan sesuatu. Namun ia membutuhkan bukti yang tidak bergantung pada telepon atau jaringan kota.
Ia duduk di warung kopi, membuka halaman demi halaman, kemudian menemukan sebuah berita lama.
KELUARGA SELAMAT DALAM KECELAKAAN DI JALAN RAYA KIRANA.
Tanggal berita itu lima tahun lalu.
Aditya membaca dengan teliti.
Artikel tersebut menyebut Ratna Wulandari dan putrinya, Lila, sebagai korban kecelakaan ringan. Tidak ada nama pengemudi.
Ia ingat kecelakaan itu.
Hujan deras. Sebuah truk kehilangan kendali. Mobil mereka menabrak pembatas jalan. Aditya mengalami luka di kepala dan sempat dirawat selama tiga hari.
Ratna menangis di samping tempat tidurnya.
Lila, yang saat itu masih kecil, menggenggam jarinya.
"Jangan pergi lagi, Yah."
Aditya menutup koran.
Ia membuka mesin pencari di komputer warung.
Artikel yang sama muncul.
Tetapi ketika ia menekan tombol cetak, hasilnya berbeda.
Versi cetak menyebutkan bahwa Ratna mengemudi sendiri.
Tidak ada pengemudi lain.
Ia meminta pemilik warung memeriksa berita itu.
"Pak, bisa lihat ini sebentar?"
Pemilik warung mendekat.
"Kenapa?"
"Di layar tertulis Ratna mengemudi sendiri. Tapi di koran tertulis kecelakaan keluarga."
Pemilik warung membaca kedua versi tersebut.
"Memangnya apa masalahnya?"
"Beritanya berbeda."
"Ya mungkin ada koreksi."
"Tapi tidak ada catatan koreksi."
Pemilik warung mengangkat bahu.
"Berita lama, Pak. Sudahlah."
Aditya menatapnya.
"Kalau nama saya dihapus dari berita, apakah itu berarti saya tidak pernah ada?"
Pemilik warung tertawa kecil.
"Kalau tidak ada di berita, belum tentu tidak ada."
Kalimat itu membuat Aditya terdiam.
Ia baru menyadari sesuatu.
Tidak semua orang harus percaya bahwa ia tidak pernah ada. Cukup banyak orang yang tidak peduli untuk memeriksa.
Pukul 09.20, di sebuah rumah sederhana di pinggiran Kirana, seorang perempuan tua membuka album foto.
Namanya Bu Sulastri.
Ia adalah tetangga Ratna sejak keluarga itu pertama kali pindah ke lingkungan tersebut.
Aditya berdiri di depan pintu rumahnya.
"Bu, saya Aditya. Tetangga Ratna."
Perempuan tua itu menyipitkan mata.
"Aditya?"
"Iya, Bu."
Bu Sulastri tampak berusaha mengingat.
"Maaf, Nak. Ibu tidak ingat."
Aditya menunjukkan foto lama dari telepon genggamnya.
"Ini saya, Bu. Waktu acara tujuh belasan. Ibu juga ada di foto ini."
Bu Sulastri mengambil telepon itu.
Ia memperhatikan gambar tersebut cukup lama.
"Ini foto lingkungan kita."
"Iya."