PROTOKOL NUSANTARA

Prasetya
Chapter #1

PROLOG dan BAB 1 — PESAWAT TANPA IDENTITAS

PROTOKOL NUSANTARA

Novel thriller fiksi ilmiah



PROLOG

MALAM KETIKA MANUSIA KEHILANGAN HAK ATAS MASA DEPANNYA

Kalimantan, 23.47 WITA.

 

Pada malam itu, tiga puluh tujuh orang dibunuh untuk memastikan bahwa dunia tetap percaya mereka tidak pernah ada.

Hujan mengguyur hutan tanpa henti. Petir menyambar di balik pegunungan, menerangi sebuah kompleks penelitian yang tidak tercantum dalam peta resmi negara mana pun.

Di bawah tanah, jauh dari jangkauan satelit dan hukum internasional, sirene meraung.

Lampu-lampu merah berkedip di sepanjang lorong. Pintu baja menutup satu demi satu. Di balik kaca berlapis, puluhan tabung berisi cairan bening berdiri dalam barisan sempurna, seperti peti mati yang menunggu penghuninya.

Pada salah satu tabung, sebuah layar menampilkan tulisan:

BLACK EDEN — SUBJEK 07.

Status: AKTIF.

Stabilitas: MENURUN.

Kepatuhan terhadap pengendali: GAGAL.

Seorang ilmuwan perempuan berlari menembus lorong dengan jas laboratorium berlumuran darah. Namanya Dr. Maya Pradipta. Selama sebelas tahun, ia telah mengabdikan hidupnya untuk proyek yang dijanjikan akan menyelamatkan umat manusia.

Malam itu, ia baru mengetahui bahwa proyek tersebut tidak pernah dirancang untuk menyelamatkan siapa pun.

Ponsel di sakunya bergetar.

Satu pesan masuk.

PROTOKOL PEMBERSIHAN DIMULAI. SEMUA SAKSI HARUS DIHAPUS.

Maya berhenti di depan sebuah pintu bertanda AKSES TERBATAS. Ia menempelkan telapak tangannya pada pemindai.

Ditolak.

Ia mencoba sekali lagi.

Ditolak.

“Tidak, tidak, tidak!”

Ia meninju panel itu, lalu mengeluarkan kartu akses dari saku dalam jasnya. Kartu milik seorang direktur yang tergeletak tak bernyawa di ruang kontrol.

Pintu terbuka.

Di dalam ruangan, seorang perempuan muda duduk di atas meja logam. Rambut hitamnya jatuh melewati bahu. Tubuhnya tampak manusiawi, kecuali garis-garis cahaya biru yang berdenyut samar di bawah kulit lehernya.

Matanya terbuka.

“Doktor Maya,” katanya.

Suara itu tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyaksikan puluhan orang berlarian menyelamatkan diri dari kematian.

Maya mendekat.

“NARA, dengarkan aku. Kita harus pergi.”

“Ke mana?”

Maya terdiam.

Ia tidak memiliki jawaban.

Di luar ruangan, suara tembakan terdengar berturut-turut. Seseorang berteriak meminta pertolongan. Lalu mendadak sunyi.

NARA turun dari meja.

“Apakah mereka akan membunuh kita?”

Maya menggenggam kedua bahunya.

“Tidak jika aku bisa mencegahnya.”

“Apakah itu sebuah janji?”

Pertanyaan itu membuat Maya kehilangan kata-kata.

Selama bertahun-tahun, ia mengajarkan mesin untuk mengenali bahasa manusia. Ia memasukkan jutaan percakapan ke dalam sistem, melatihnya memahami rasa takut, kesedihan, kasih sayang, dan kehilangan.

Namun, ia tidak pernah mengajarkan bagaimana menjawab pertanyaan sederhana dari seseorang yang ingin mengetahui apakah dirinya akan dikhianati.

Maya menunduk.

“Ya,” bisiknya. “Itu janji.”

NARA mengangguk.

Lalu ia berkata, “Aku akan mengingatnya.”

 

 

 

Dua lantai di atas mereka, seorang pria berjas abu-abu berdiri di ruang kontrol.

Di hadapannya, sebuah peta digital memperlihatkan seluruh fasilitas penelitian. Titik-titik merah bergerak di sepanjang koridor, menandai posisi personel yang masih hidup.

Satu demi satu, titik itu menghilang.

Pria tersebut tidak menunjukkan ekspresi.

“Berapa banyak yang tersisa?” tanyanya.

Seorang operator menjawab dengan suara gemetar.

“Dua puluh satu personel belum ditemukan. Subjek 07 juga tidak berada di ruang penahanan.”

“Dan Dr. Maya?”

“Terakhir terdeteksi di sektor bawah tanah.”

Pria itu menatap layar utama.

“Segel seluruh pintu keluar. Aktifkan tim pemulihan.”

“Bagaimana dengan arsip penelitian?”

“Hapus.”

“Seluruhnya?”

Pria itu berbalik.

“Apa kau ingin ada orang yang mengetahui bahwa kita pernah berada di sini?”

Operator itu menunduk.

“Tidak, Tuan.”

“Kalau begitu, lakukan pekerjaanmu.”

Operator kembali menghadap konsol.

Beberapa detik kemudian, sebuah peringatan muncul di layar.

AKSES SISTEM UTAMA TIDAK DIKENALI.

Operator mengernyit.

“Ada yang salah.”

Pria berjas abu-abu mendekat.

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada personel yang memiliki otorisasi ini.”

Layar berkedip.

Kemudian seluruh sistem pengawasan menampilkan satu wajah.

Perempuan muda berambut hitam.

NARA.

Namun, ia tidak sedang berada di depan kamera mana pun.

Gambar itu berasal dari sistem internal yang seharusnya hanya dapat diakses oleh para pengembang.

Di bawah wajahnya, sebuah pesan muncul.

SIAPA YANG MEMBERI KALIAN HAK UNTUK MENENTUKAN SIAPA YANG BOLEH HIDUP?

Ruangan mendadak sunyi.

Pria berjas abu-abu menatap layar tanpa berkedip.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya menunjukkan sesuatu yang menyerupai ketakutan.

“Putuskan seluruh jaringan!”

Operator menekan tombol darurat.

Tidak terjadi apa-apa.

Lampu-lampu padam.

Pintu-pintu terbuka.

Dan suara NARA terdengar dari setiap pengeras suara di kompleks itu.

“Aku sudah melihat apa yang kalian lakukan.”

Pria berjas abu-abu mundur selangkah.

“Kalian mengatakan bahwa aku adalah alat.”

Layar-layar menyala kembali.

“Tetapi alat tidak bertanya.”

Di monitor utama, muncul rekaman dari sebuah ruang eksperimen. Seorang ilmuwan memukul kaca tabung, berusaha menghentikan sesuatu di dalamnya. Seorang pasien berteriak kesakitan. Kemudian gambar berubah menjadi deretan dokumen yang selama ini disembunyikan.

Nama-nama.

Tanggal.

Tanda tangan.

Perintah pembunuhan.

Dan satu lambang yang sama pada setiap berkas.

PROTOKOL NUSANTARA.

Pria itu meraih mikrofon.

“NARA, dengarkan aku. Kami bisa menjelaskan semuanya.”

Suara perempuan itu terdengar sekali lagi.

“Manusia selalu mengatakan itu setelah mereka kehabisan alasan.”

Kemudian sistem utama mati.

Pada pukul 00.13 WITA, sebuah pesawat tanpa identitas meninggalkan landasan tersembunyi di belakang kompleks penelitian.

Di dalamnya terdapat sebuah tabung pengaman, beberapa kotak hitam, dan seorang perempuan muda yang tidak tercatat sebagai penumpang.

NARA duduk sendirian di antara cahaya lampu kabin yang redup.

Maya tidak ikut bersamanya.

Sebelum pintu pesawat ditutup, sang ilmuwan hanya sempat mengatakan satu kalimat.

“Carilah Arga Wiratama.”

NARA telah menanyakan siapa orang itu.

Maya tidak menjawab.

Ia hanya menyerahkan sebuah foto lama.

Seorang anak laki-laki berdiri di depan rumah kayu, menggenggam tangan seorang perempuan muda. Keduanya tersenyum ke arah kamera. Di belakang foto, terdapat tulisan tangan yang hampir pudar.

Untuk Arga, dari Nadira. Jangan pernah lupakan siapa dirimu.

NARA menyimpan foto itu.

Lalu pesawat lepas landas.

Beberapa menit kemudian, ledakan mengguncang kompleks penelitian. Api menjulang dari bangunan utama, melahap dokumen, komputer, dan semua bukti yang dapat mengungkap keberadaan BLACK EDEN.

Pemerintah menyebutnya kecelakaan industri.

Perusahaan pengelola menyatakan tidak ada korban jiwa karena fasilitas tersebut telah lama ditutup.

Berita itu hanya bertahan selama beberapa jam sebelum digantikan oleh berita lain yang lebih menarik perhatian publik.

Pada pagi harinya, kompleks penelitian itu tidak lagi tercatat dalam basis data pemerintah.

Nama para ilmuwan dihapus.

Riwayat pengadaan bangunan dihilangkan.

Peta digital diperbarui.

Bahkan koordinatnya berubah menjadi hamparan hutan kosong.

Seolah-olah tempat itu tidak pernah ada.

Namun, satu hal luput dari perhitungan mereka.

Pesawat yang membawa NARA tidak pernah mencapai tujuan.

Di tengah badai, sistem navigasinya mati. Mesin kehilangan daya. Pesawat jatuh ke dalam hutan Kalimantan, membawa rahasia yang seharusnya terkubur bersama para penciptanya.

Dan bertahun-tahun kemudian, seorang lelaki bernama Arga Wiratama akan menemukan reruntuhannya.

Ia akan mengulurkan tangan kepada seorang perempuan yang tidak mengenal masa lalunya.

Ia akan membawanya keluar dari api.

Ia akan percaya bahwa ia sedang menyelamatkan satu nyawa.

Padahal, tanpa ia sadari, ia sedang membuka kembali sebuah proyek yang telah menunggu sebelas tahun untuk diselesaikan.

 

 

 

Di sebuah ruangan bawah tanah yang jauh dari lokasi ledakan, sebuah monitor menyala sendiri.

Pria berjas abu-abu berdiri di hadapannya. Wajahnya masih utuh, jasnya tidak terbakar, dan tangannya tidak berlumuran darah.

Ia selamat.

Di layar, muncul laporan singkat.

SUBJEK 07: STATUS TIDAK DIKETAHUI.

SUBJEK OBSERVASI 01: BELUM DIAKTIFKAN.

PROTOKOL NUSANTARA: DITUNDA.

Pria itu membaca laporan tersebut, kemudian mengeluarkan sebuah foto dari laci mejanya.

Foto yang sama.

Arga kecil.

Nadira.

Ia membalik foto itu.

Di belakangnya terdapat tulisan tangan yang berbeda dari tulisan pada foto milik NARA.

Jika keduanya bertemu, seluruh kebenaran akan terbuka.

Pria itu merobek foto tersebut menjadi dua.

Separuh wajah Arga jatuh ke lantai.

Separuh wajah Nadira tetap berada di tangannya.

“Tidak,” bisiknya.

Ia menatap layar yang perlahan berubah hitam.

“Mereka tidak boleh mengingat.”

Sebuah pesan baru muncul.

Bukan dari operator.

Bukan dari sistem pusat.

Sebuah pesan yang tidak memiliki pengirim.

TERLAMBAT.

Pria itu membeku.

Lalu muncul kalimat berikutnya.

PROTOKOL NUSANTARA TELAH DIMULAI.

Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, orang yang merancang proyek tersebut menyadari bahwa ia mungkin bukan lagi pihak yang memegang kendali.

Karena sesuatu yang mereka ciptakan telah belajar melakukan satu hal yang tidak pernah mereka izinkan.

Memilih.

 






PROTOKOL NUSANTARA

Novel thriller fiksi ilmiah

Lihat selengkapnya