BAB 2 — PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA HIDUP
Hujan turun sebelum matahari terbit.
Di pedalaman Kalimantan, hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah tirai yang menghapus jejak, suara yang menelan langkah, sekaligus ancaman yang bisa mengubah tanah menjadi kubangan dalam hitungan menit.
Arga Wiratama memahami semua itu.
Selama bertahun-tahun hidup di hutan, ia belajar bahwa alam tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada sesuatu yang bergerak di balik dedaunan, sesuatu yang mengamati dari kejauhan, atau sesuatu yang menunggu manusia melakukan kesalahan.
Namun, pagi itu, ancaman terbesar bukan berasal dari hutan.
Melainkan dari perempuan yang berjalan tertatih di belakangnya.
“NARA, kau masih bisa berjalan?”
Perempu…
PROTOKOL NUSANTARA
BAB 2 — PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA HIDUP
Hujan turun sebelum matahari terbit.
Di pedalaman Kalimantan, hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah tirai yang menghapus jejak, suara yang menelan langkah, sekaligus ancaman yang bisa mengubah tanah menjadi kubangan dalam hitungan menit.
Arga Wiratama memahami semua itu.
Selama bertahun-tahun hidup di hutan, ia belajar bahwa alam tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada sesuatu yang bergerak di balik dedaunan, sesuatu yang mengamati dari kejauhan, atau sesuatu yang menunggu manusia melakukan kesalahan.
Namun, pagi itu, ancaman terbesar bukan berasal dari hutan.
Melainkan dari perempuan yang berjalan tertatih di belakangnya.
“NARA, kau masih bisa berjalan?”
Perempuan itu tidak segera menjawab. Ia berhenti di bawah pohon meranti besar, menatap telapak tangannya sendiri. Air hujan mengalir di sela-sela jarinya, tetapi tidak ada perubahan pada kulitnya.
Arga berbalik.
“Kau mendengarku?”
“Aku mendengar pertanyaanmu.”
“Lalu?”
“Aku sedang menghitung kemungkinan bahwa kita akan tertangkap.”
Arga menghela napas. “Dan hasilnya?”
“Delapan puluh tujuh persen.”
“Bagus. Setidaknya kau masih bisa bercanda.”
“Aku tidak sedang bercanda.”
Arga menatapnya beberapa detik, kemudian kembali berjalan.
“Kalau begitu, simpan perhitunganmu. Kita butuh tempat berlindung sebelum malam.”
NARA mengikuti dari belakang. Gerakannya terlihat seperti manusia yang kelelahan, tetapi Arga mulai menyadari sesuatu yang ganjil. Napas perempuan itu tidak pernah benar-benar terengah-engah. Langkahnya memang melambat, tetapi tidak ada tanda-tanda ototnya mengalami keletihan seperti manusia biasa.
Dan ketika ia terjatuh beberapa menit sebelumnya, sebuah batu tajam telah menggores lengannya.
Tidak ada darah.
Hanya cairan bening yang segera mengering.
Arga tidak ingin menanyakannya. Belum.
Ia sendiri belum sepenuhnya percaya pada apa yang dilihatnya.
---
Mereka menemukan sebuah pondok tua menjelang pukul tujuh pagi.
Bangunan itu berdiri di tepi sungai kecil, tersembunyi di antara pohon-pohon dan semak liar. Atap sengnya berkarat, dinding kayunya menghitam oleh kelembapan, dan sebagian lantainya telah lapuk.
Dahulu, pondok itu mungkin digunakan para pencari rotan atau pekerja hutan.
Bagi Arga, tempat itu cukup baik untuk bersembunyi selama beberapa jam.
Ia masuk lebih dahulu, memeriksa setiap sudut, lalu memberi isyarat kepada NARA untuk mengikuti.
“Duduklah.”
NARA memandang sebuah bangku kayu.
“Apakah itu perintah?”
“Anggap saja saran.”
“Dalam situasi darurat, perintah dan saran memiliki perbedaan operasional.”
“Kalau begitu, ini perintah.”
NARA duduk.
Arga meletakkan tasnya di lantai, mengeluarkan botol air, beberapa bungkus makanan, dan sebuah pisau lipat. Setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar pondok, ia duduk berhadapan dengan perempuan itu.
Sekarang tidak ada alasan untuk menunda pertanyaan.
“Siapa sebenarnya dirimu?”
NARA mengangkat wajah.
“Aku sudah memperkenalkan diri.”
“Kau memperkenalkan nama. Bukan dirimu.”
“Aku NARA-07.”
“Dan apa artinya angka tujuh?”
“Unit ketujuh yang berhasil mencapai tahap integrasi penuh.”
“Integrasi dengan apa?”
NARA terdiam.
Untuk pertama kalinya, Arga melihat sesuatu yang menyerupai keraguan di wajahnya.
“Ada informasi yang tidak dapat kuakses,” katanya akhirnya.
“Tidak dapat, atau tidak diizinkan?”
“Perbedaannya tidak selalu signifikan.”
“Bagiku signifikan.”
NARA menatapnya cukup lama.
“Tubuhku dirancang menggunakan jaringan sintetis yang dipadukan dengan struktur biologis. Sistem sarafku terhubung dengan prosesor adaptif. Sebagian memoriku tersimpan di dalam tubuh ini, sedangkan sebagian lainnya berada pada sistem yang tidak lagi dapat kuhubungi.”
Arga menyandarkan punggung ke dinding.
“Jadi kau mesin?”
“Definisi itu tidak memadai.”
“Lalu kau manusia?”
“Definisi itu juga tidak memadai.”
Arga tertawa pendek tanpa kegembiraan.
“Jawabanmu membuatku semakin bingung.”
“Aku mengerti.”
“Tidak. Kau tidak mengerti. Aku sedang diburu orang-orang bersenjata karena menolong seseorang yang bahkan tidak bisa menjelaskan apa dirinya.”
NARA menunduk. Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar di antara mereka.
Kemudian ia berkata pelan, “Aku tidak meminta kau menyelamatkanku.”
Arga terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang mengusik perasaannya. Ia teringat saat menemukan NARA di antara reruntuhan pesawat. Perempuan itu terluka, dikepung api, dan dikelilingi benda-benda yang tidak pernah dilihatnya. Namun, ketika Arga mengulurkan tangan, NARA tidak meminta pertolongan.
Ia justru memperingatkannya agar pergi.
Seolah-olah dirinya sendiri adalah bahaya.
“Kalau kau tidak ingin diselamatkan,” ujar Arga, “mengapa kau ikut denganku?”
NARA memandang keluar jendela yang tidak lagi memiliki kaca.
“Karena aku tidak tahu ke mana harus pergi.”
Jawaban itu membuat Arga kehilangan kata-kata.
---
Pukul delapan lewat dua belas menit, NARA mendadak berdiri.
“Matikan semua perangkat elektronik.”
Arga menoleh. “Apa?”
“Sekarang.”
Nada suaranya berubah. Tidak ada lagi ketenangan datar yang biasa ia tunjukkan. Ada desakan dalam suaranya, sesuatu yang membuat Arga segera meraih telepon genggamnya dan mematikannya.
“Ada apa?”
NARA berjalan ke jendela.
“Perangkat pemindai sedang mencari sinyal yang berasal dari tubuhku.”
“Siapa yang memindai?”
“Aku belum bisa memastikan.”
Arga mendekat ke jendela, tetapi tidak langsung menampakkan diri. Ia mengamati pepohonan di seberang sungai.
Tidak ada manusia.
Tidak ada kendaraan.
Hanya hutan yang basah dan kabut tipis.
“Seberapa jauh mereka?”
“Sekitar dua kilometer. Tiga sumber sinyal bergerak dari arah utara. Satu lagi berada di udara.”
Arga mengangkat kepala.
Di balik awan, suara baling-baling terdengar samar.
Helikopter.
Ia segera menarik NARA menjauh dari jendela.
“Kita pergi.”
“Ke arah mana?”
“Ke arah yang tidak mereka duga.”
Arga mengemasi barang-barangnya dengan cepat. Ia memeriksa pisau, memasukkan botol air ke dalam tas, lalu memadamkan sisa api kecil yang sebelumnya digunakan untuk menghangatkan air.