BAB 5 — NAMA YANG DIHAPUS DARI SEJARAH
Hujan berhenti menjelang tengah malam.
Di sebuah gubuk tua yang berdiri di pinggir perkebunan karet, Arga Wiratama duduk bersandar pada dinding kayu. Sebuah lampu minyak menerangi ruangan sempit itu, menghasilkan bayangan panjang yang bergerak setiap kali angin menyusup melalui celah-celah papan.
Di hadapannya, NARA duduk diam.
Sejak mereka meninggalkan Pusat Riset Nusantara, perempuan itu tidak banyak berbicara. Sesekali ia memejamkan mata, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tidak dapat didengar manusia biasa.
Arga membuka kembali map hitam yang berhasil dibawanya dari fasilitas penelitian.
Ia membaca setiap halaman dengan teliti, berharap menemukan penjelasan yang masuk akal mengenai identitasnya sendiri.
Namun, semakin banyak halaman yang dibaca, semakin besar pula lubang yang terbuka dalam ingatannya.
Catatan medis.
Riwayat operasi militer.
Daftar nama peneliti.
Foto-foto yang sebagian wajahnya telah dicoret menggunakan tinta hitam.
Dan dokumen tentang seorang perempuan bernama Nadira Ayu Pramesti.
Arga berhenti pada sebuah halaman yang memuat foto lama.
Foto itu memperlihatkan seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri di samping seorang perempuan muda. Mereka berada di halaman rumah sederhana dengan pohon mangga di belakangnya.
Anak laki-laki itu adalah dirinya.
Ia mengenali bekas luka kecil di dekat alis kirinya. Luka itu diperolehnya ketika terjatuh dari pohon saat masih kecil.
Namun, perempuan di sampingnya membuat dadanya terasa sesak.
Ia tidak mengenali wajah itu.
Tetapi ia mengenali senyumnya.
Ada sesuatu yang akrab dalam senyum tersebut, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh ingatan yang tersisa.
Di bawah foto tertulis:
ARSIP KELUARGA — SUBJEK ARGA WIRATAMA DAN NADIRA AYU PRAMESTI.
Arga membaca kalimat itu berkali-kali.
“Siapa sebenarnya kau, Nadira?”
“Apakah kau berbicara kepadaku?” tanya NARA.
Arga menggeleng.
“Bukan. Aku sedang berbicara kepada seseorang yang bahkan tidak kuingat.”
Ia menunjukkan foto tersebut kepada NARA.
“Kau mengenali perempuan ini?”
NARA memandang gambar itu.
Selama beberapa detik, ia tidak bergerak.
Kemudian jari-jarinya bergetar.
“Ada respons internal.”
“Respons apa?”
“Aku tidak tahu. Ketika melihat wajah itu, sistemku menghasilkan pola aktivitas yang tidak biasa.”
NARA menyentuh foto tersebut.
Lampu di pergelangan tangannya menyala biru.
Sebuah suara muncul dari dalam kesadarannya.
Dira, jangan pergi.
NARA menarik tangannya dengan cepat.
Arga berdiri.
“Apa yang terjadi?”
“Aku mendengar sebuah suara.”
“Suara siapa?”
“Aku tidak tahu.”
NARA memejamkan mata. Gambar-gambar bermunculan dalam memorinya: seorang anak laki-laki berlari di halaman rumah, seorang perempuan yang sedang memasak di dapur, dan sebuah pintu kayu yang ditutup dari luar.
Kemudian terdengar suara ledakan.
Gambar itu lenyap.
NARA membuka mata.
“Arga, aku pernah melihat tempat ini.”
“Tempat apa?”
“Rumah dalam foto itu.”
Arga menatapnya.
“Bagaimana mungkin? Kau bahkan belum mengetahui siapa Nadira.”
“Itulah masalahnya. Aku tidak memiliki ingatan yang seharusnya membuatku mengenali tempat tersebut. Namun, ketika melihatnya, aku tahu letak setiap ruangan di dalam rumah itu.”
Arga duduk kembali.
Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan yang lebih mengerikan daripada manipulasi data.
Mungkin ingatan mereka memang telah diubah.
Mungkin kehidupan yang mereka kenal hanyalah sebagian kecil dari sesuatu yang lebih besar.
Atau mungkin seseorang telah mengatur pertemuan mereka jauh sebelum mereka menyadari keberadaan satu sama lain.
Pukul satu dini hari, Arga menemukan sesuatu yang tersembunyi di bagian belakang map.
Sebuah amplop tipis terselip di antara dua lembar dokumen. Pada bagian depannya tertulis satu kalimat dengan tinta biru:
UNTUK ARGA, JIKA SUATU HARI IA MULAI MENGINGAT.
Tulisan tangan itu terasa akrab.
Arga membalik amplop tersebut. Tidak ada nama pengirim.
Ia membuka segelnya dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat selembar surat dan sebuah foto kecil.
Surat itu hanya terdiri atas beberapa paragraf.
Arga,
Jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti mereka gagal menghapus semuanya.
Kau mungkin tidak mengenal namaku. Kau mungkin juga tidak mengingat rumah, keluarga, atau kejadian yang membuat hidupmu berubah. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.
Apa yang terjadi kepadamu bukan kesalahanmu.
Namun, ada sesuatu yang harus kau ketahui. Mereka tidak memilihmu karena kemampuanmu sebagai prajurit. Mereka memilihmu karena kau pernah membuat keputusan yang tidak dapat mereka prediksi.
Ketika semua orang diperintahkan untuk meninggalkan seseorang, kau memilih untuk kembali.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Carilah rumah di Bukit Meranti. Di sana, kau akan menemukan jawaban pertama.
Jangan percaya kepada siapa pun yang mengatakan bahwa Nadira telah meninggal.
— M.
Arga menurunkan surat itu perlahan.
NARA memperhatikan wajahnya.
“Apa isi surat tersebut?”
Arga menyerahkannya.
NARA membaca setiap kalimat dengan saksama.
“Kalimat terakhir bertentangan dengan dokumen penelitian,” katanya.
“Dokumen itu menyebut Nadira telah meninggal?”
“Dokumen pembentukan identitasku menyebut pola respons saraf berasal dari seorang individu manusia yang telah dinyatakan meninggal dunia.”
“Jadi, seseorang mungkin sengaja menyatakan Nadira meninggal.”
“Benar.”
Arga memandang foto kecil yang menyertai surat tersebut.
Foto itu memperlihatkan sebuah rumah kayu di lereng bukit. Di samping rumah terdapat pohon mangga besar dan sebuah sumur tua. Jalan setapak membentang menuju hutan di belakangnya.
Di bagian belakang foto tertulis:
BUKIT MERANTI, 2015.
Arga memejamkan mata.
Tahun itu seharusnya tidak memiliki arti apa pun baginya. Namun, ketika membaca angka tersebut, kepalanya mendadak terasa nyeri.
Sebuah suara muncul dari kedalaman ingatannya.
Jangan buka pintunya, Ga.
Kemudian suara lain menyusul.
Kalau kau tidak kembali, mereka akan membawanya pergi.
Arga memegangi kepalanya.
NARA segera mendekat.
“Arga?”
“Aku baik-baik saja.”
“Kau mengalami peningkatan denyut jantung dan ketegangan otot.”
“Aku bilang aku baik-baik saja.”
NARA berhenti.
Arga menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Ia tidak ingin menunjukkan rasa takutnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan hidup dengan memercayai satu prinsip: jika ia tidak dapat mengendalikan keadaan, ia setidaknya harus mengendalikan tindakannya sendiri.
Namun, kali ini, bahkan ingatannya sendiri terasa seperti medan perang.
“Kita pergi ke Bukit Meranti,” katanya.
NARA mengangguk.
“Jika surat itu benar, tempat tersebut mungkin menyimpan bukti mengenai hubungan kita.”
“Dan jika itu perangkap?”
“Risikonya tinggi.”
Arga memasukkan surat dan foto ke dalam tas.
“Kita sudah tidak punya banyak pilihan.”
Bukit Meranti terletak sekitar empat puluh kilometer dari kota.
Mereka tiba menjelang fajar, setelah menempuh perjalanan melalui jalan perkebunan dan jalur tanah yang hampir tidak pernah dilalui kendaraan.
Kawasan itu tampak terbengkalai.
Sebagian kebun karet telah berubah menjadi semak liar. Pohon-pohon tua tumbuh rapat di sepanjang lereng. Kabut menggantung rendah, menyelimuti rumah-rumah yang tersebar berjauhan.
Arga berjalan di depan sambil membawa foto.
Setelah hampir satu jam, mereka menemukan rumah kayu yang sama.
Atapnya sebagian runtuh. Jendelanya pecah. Pintu depannya miring pada engsel, sementara rumput liar tumbuh hingga setinggi lutut.
Pohon mangga di samping rumah masih berdiri.
Arga berhenti di halaman.
Ia memandang rumah itu dalam diam.
Sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa ia pernah berada di sini.
Bukan sekadar pernah berkunjung.
Ia pernah tinggal di sini.
“Arga,” panggil NARA pelan.
Arga tidak menjawab.