BAB 6
PERINTAH DARI SANG JENDERAL
Hujan turun ketika Arga dan NARA meninggalkan Bukit Meranti.
Langit Kalimantan tampak seperti lembaran besi kelabu. Jalan tanah di antara pepohonan berubah menjadi lumpur, sementara kabut merayap rendah, menutupi jejak mereka. Di kejauhan, suara mesin kendaraan terdengar samar, tetapi cukup untuk membuat Arga mempercepat langkah.
NARA berjalan di sampingnya tanpa mengeluh. Tubuh sintetisnya dirancang untuk menghadapi kondisi ekstrem, tetapi sensor pendengarannya menangkap sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada suara kendaraan.
“Arga, ada transmisi radio di sekitar kita.”
“Dari mana?”
“Belum bisa dipastikan. Frekuensinya berpindah-pindah, tetapi ada satu kata yang terus diulang.”
“Apa?”
NARA berhenti sesaat.
“Wiratama.”
Langkah Arga terhenti.
Nama itu telah mengikutinya sejak mereka menemukan arsip bawah tanah. Nama itu tercetak pada dokumen rahasia, melekat pada foto-foto lama, dan kini terdengar melalui jaringan komunikasi kelompok yang sedang memburu mereka.
Jenderal Wiratama.
Seorang perwira tinggi yang dahulu dikenal sebagai komandan keras, disiplin, dan tidak pernah membiarkan bawahannya mempertanyakan perintah. Arga mengenalnya ketika masih muda, pada masa ketika ia belum memahami bahwa sebuah perintah bisa memiliki tujuan yang jauh lebih gelap daripada yang tertulis di atas kertas.
“Apakah kau yakin?” tanya Arga.
“Ya. Aku menangkap transmisi berikutnya.”
NARA memiringkan kepalanya, seolah sedang mendengarkan suara yang tidak dapat didengar manusia biasa.
Lalu ia berbicara dengan nada datar.
“Target bergerak menuju sektor Meranti. Prioritas penangkapan: Arga Wiratama. Prioritas kedua: Unit Integrasi Tujuh. Perintah langsung dari Jenderal Wiratama.”
Arga mengepalkan tangan.
“Jadi, dia masih hidup.”
“Aku tidak dapat menyimpulkan itu hanya dari transmisi.”
“Kalau perintahnya datang langsung dari dia, berarti kita punya seseorang yang harus ditemui.”
“Dan mungkin seseorang yang harus kita hindari.”
Arga menoleh kepada NARA.
“Kau mulai terdengar seperti manusia.”
“Apakah itu buruk?”
“Tidak.”
Ia kembali berjalan.
“Terkadang manusia justru membutuhkan seseorang yang berani menyuruhnya berhenti.”
Mereka tiba di sebuah permukiman kecil menjelang sore.
Rumah-rumah kayu berdiri berjauhan, sebagian dikelilingi kebun karet dan pohon buah. Sebuah warung tua masih buka di tepi jalan. Arga memutuskan untuk berhenti di sana, membeli makanan, sekaligus mencari informasi mengenai jalan keluar dari kawasan itu.
Ia menyuruh NARA menunggu di bawah pohon besar, jauh dari pandangan orang-orang.
Di dalam warung, seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun sedang menyeduh kopi.
“Dari mana, Nak?” tanyanya.
“Dari arah bukit.”
Lelaki itu mengangguk, tetapi matanya memeriksa pakaian Arga yang basah oleh hujan.
“Sekarang banyak orang bersenjata lewat sana.”
Arga mengambil dua bungkus makanan dari rak.
“Mereka mencari seseorang?”
“Katanya mencari teroris.”
“Katanya?”
Lelaki itu tersenyum hambar.
“Kalau orang datang dengan seragam dan senjata, kita biasanya hanya mendengar apa yang mereka katakan.”
Arga meletakkan uang di meja.
“Ke mana mereka pergi?”
“Ke jalan lama menuju kompleks militer. Sudah bertahun-tahun ditutup. Tadi ada tiga kendaraan lewat. Salah satunya membawa lambang yang tidak pernah saya lihat.”
“Lambang seperti apa?”
Lelaki itu mengambil selembar kertas bekas dari bawah meja. Dengan pensil, ia menggambar sebuah lingkaran yang dipotong tiga garis.
Arga terdiam.
Lambang itu sama dengan yang ditemukan pada pesawat tanpa identitas dan seragam para pengejarnya.
“Siapa yang memimpin mereka?” tanyanya.
“Seorang lelaki tua. Rambutnya putih. Orang-orang memanggilnya Jenderal.”
Arga merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya.
“Apakah Anda melihat wajahnya?”
Lelaki itu menggeleng.
“Tidak. Tetapi sebelum berangkat, dia menyuruh anak buahnya memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Katanya, jangan sampai anak itu mengingat semuanya.”
Arga tidak bergerak.
Anak itu.
Bukan prajurit. Bukan buronan. Bukan subjek eksperimen.
Anak itu.
Untuk sesaat, suara hujan menghilang dari pendengarannya. Ia melihat kilasan gambar yang tidak utuh: halaman rumah, suara seorang perempuan memanggil namanya, tangan seseorang yang menggenggam bahunya, dan sebuah pintu besi yang menutup dengan suara keras.
Kemudian semuanya lenyap.
“Arga?”
NARA telah berdiri di pintu warung.
Ia menatap wajah Arga dengan cermat.
“Detak jantungmu meningkat. Aktivitas sarafmu juga berubah.”
Arga menarik napas panjang.
“Aku baik-baik saja.”
“Kau berbohong.”
“Kalau begitu, anggap saja aku belum siap menjawab pertanyaanmu.”
NARA memandang lelaki pemilik warung, kemudian kembali menatap Arga.
“Ada kendaraan memasuki jalan utama. Empat orang bersenjata.”
Arga mengambil makanan mereka.
“Terima kasih atas kopinya, Pak.”
Lelaki tua itu mengangguk cepat.
“Pergilah lewat belakang. Ada jalan kecil menuju sungai. Jangan biarkan mereka membawamu ke kompleks itu.”
Arga berhenti di ambang pintu.
“Kenapa Bapak membantu kami?”
Lelaki itu menatapnya cukup lama sebelum menjawab.
“Karena saya pernah melihat orang-orang membawa anak-anak pergi dengan alasan negara. Sebagian tidak pernah kembali.”
Arga tidak berkata apa-apa lagi.
Ia mengikuti NARA menuju jalan belakang.
Di belakang mereka, suara kendaraan mulai terdengar semakin jelas.
Jalan kecil itu berakhir di sebuah sungai berwarna cokelat.
Sebuah perahu kayu tua terikat pada batang pohon. Tidak ada pemiliknya. Arga memeriksa tali, mesin kecil di bagian belakang, dan persediaan bahan bakar yang tersisa.
“Mesinnya bisa digunakan,” katanya.
NARA memindai permukaan air.
“Arus cukup kuat. Namun, jalur sungai ini mengarah ke utara dan mendekati kawasan kompleks militer.”
“Kita tidak punya banyak pilihan.”
“Arga, aku perlu memberitahumu sesuatu.”
Nada suaranya berubah.
Arga menoleh.
“Apa?”
“Ketika kau mengalami gangguan ingatan tadi, sistemku menangkap pola sinyal yang sama dengan sinyal di pusat riset.”
“Dari tubuhku?”
“Bukan. Dari jaringan komunikasi di sekitar kita. Ada sesuatu yang merespons aktivitas sarafmu.”
Arga menatapnya dengan curiga.
“Maksudmu, seseorang bisa mengetahui kapan aku mengingat sesuatu?”
“Lebih dari itu. Sistem mungkin dapat mengenali perubahan tertentu pada respons sarafmu. Aku belum tahu apakah itu berarti mereka bisa membaca ingatanmu.”
Arga memandang sungai.
Jadi, bukan hanya dirinya yang memburu masa lalu. Masa lalu itu mungkin juga sedang memburunya.
“Apakah sistem itu terhubung denganmu?”
“Aku tidak tahu.”
“Coba cari tahu.”
NARA terdiam.
Beberapa detik kemudian, matanya berkedip. Cahaya tipis muncul di sekitar irisnya, lalu menghilang.
“Ada pesan masuk.”
“Dari siapa?”
“Tidak ada identitas pengirim.”
“Bacakan.”
NARA menatap Arga.
“Pesannya hanya satu kalimat.”
Ia berhenti sejenak.
“JANGAN BAWA ARGA KE HADAPAN JENDERAL. DIA BELUM SIAP MENGETAHUI SIAPA DIRINYA.”
Arga tertawa pendek tanpa kegembiraan.
“Semua orang rupanya tahu siapa aku, kecuali aku sendiri.”