PROTOKOL NUSANTARA

Prasetya
Chapter #7

BAB 7 SUBJEK NOL

BAB 7

SUBJEK NOL

Langkah kaki itu semakin dekat.

Arga berdiri di depan pintu baja dengan map hitam di tangan. Di belakangnya, NARA masih memegangi kepalanya. Cahaya merah di matanya berkedip tidak beraturan, seolah ada dua sistem yang sedang berebut kendali atas tubuhnya.

“Jangan bergerak,” kata Arga.

“Aku tidak sedang menggerakkan tubuhku,” jawab NARA dengan suara tertahan.

Arga menoleh.

“Apa maksudmu?”

“Ada perintah yang masuk. Tubuhku diperintahkan untuk berlutut.”

Kedua lutut NARA tiba-tiba menekuk. Ia berusaha menahan tubuhnya dengan berpegangan pada meja, tetapi kekuatan yang tidak terlihat memaksanya turun.

Arga segera meraih lengannya.

“NARA!”

“Jangan sentuh aku!”

Arga melepaskan tangannya.

NARA terengah-engah, meskipun secara teknis tubuh sintetisnya tidak membutuhkan udara dengan cara yang sama seperti manusia.

“Maaf,” katanya. “Aku tidak bermaksud—”

“Tidak perlu minta maaf. Lawan perintahnya.”

“Aku sedang mencoba.”

Di layar besar, hitung mundur yang sebelumnya berhenti kembali menyala.

00:08:39.

Suara perempuan yang menyerupai Nadira terdengar lagi.

“Arga, dengarkan aku. Jangan biarkan sistem menghubungkan kalian.”

Arga mendekati konsol.

“Siapa kau? Apakah kau benar-benar Nadira?”

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku sendiri tidak tahu apakah ingatan yang kubawa adalah ingatanku.”

Arga terdiam.

Jawaban itu justru membuatnya lebih percaya daripada jika suara tersebut mengaku mengetahui segalanya.

“Kalau kau bukan Nadira, siapa kau?”

“Bagian dari sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibangunkan.”

Tiba-tiba suara Jenderal Wiratama menyela.

“Arga, dengarkan aku. Matikan terminal di sebelah kirimu. Sekarang!”

Arga melihat konsol yang dimaksud.

“Kenapa aku harus mempercayai Anda?”

“Karena jika hitung mundur mencapai nol, sistem akan menyelesaikan integrasi.”

“Integrasi apa?”

“Integrasi antara identitas biologis, rekonstruksi memori, dan jaringan pengambilan keputusan.”

Arga menggeleng.

“Berhenti bicara dengan istilah yang tidak menjelaskan apa-apa. Katakan apa yang akan terjadi kepada NARA.”

Jenderal terdiam beberapa detik.

“Dia mungkin tidak lagi memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri.”

Arga menatap NARA.

Perempuan itu berusaha berdiri, tetapi kakinya kembali kehilangan tenaga.

“Arga,” katanya pelan, “jika aku berubah menjadi sesuatu yang membahayakanmu, jangan biarkan mereka menggunakan tubuhku.”

“Jangan bicara seolah-olah semuanya sudah berakhir.”

“Aku tidak takut mati.”

“Bagus. Karena kita belum punya waktu untuk membicarakan kematian.”

Arga berbalik menuju konsol.

Namun, sebelum ia sempat menyentuhnya, pintu di sisi kanan ruangan terbuka dengan bunyi desis panjang.

Seorang perempuan keluar dari lorong gelap.

Rambutnya pendek. Wajahnya pucat. Ia mengenakan pakaian pasien berwarna kelabu, dengan sebuah gelang identifikasi di pergelangan tangan.

Arga mengangkat senjatanya.

Perempuan itu berhenti.

“Jangan tembak,” katanya.

Arga tidak menurunkan senjatanya.

“Siapa kau?”

Perempuan itu menatapnya seolah sedang berusaha mengenali wajah yang pernah dilihatnya dalam mimpi.

“Namaku Nadira.”

Dunia Arga terasa berhenti.

Perempuan itu berjalan perlahan ke bawah cahaya.

Wajahnya tidak sepenuhnya sama dengan wajah dalam foto lama yang ditemukan Arga. Ia terlihat lebih tua daripada perempuan di rekaman Bukit Meranti, tetapi ada sesuatu pada matanya yang membuat Arga sulit berpaling.

Mata yang sama.

Tatapan yang sama.

Atau mungkin hanya ingatan yang ingin ia percayai.

“Buktikan,” kata Arga.

Nadira mengangguk kecil.

“Ketika kita masih kecil, kau pernah memecahkan jendela rumah belakang karena mencoba menyelamatkan seekor burung yang terjebak di dalam gudang.”

Arga mengerutkan kening.

“Aku tidak ingat.”

“Kau menyalahkan angin. Padahal batu yang kau lempar masih tergeletak di halaman.”

Arga tidak menjawab.

“Lalu kau menyembunyikan burung itu di kamarku,” lanjut Nadira. “Kau bilang, kalau Ayah tahu, dia akan mengurung kita berdua.”

Sebuah kilasan muncul di benak Arga.

Cahaya matahari yang menembus jendela kayu.

Suara tawa seorang anak perempuan.

Seekor burung kecil mengepakkan sayap di atas meja.

Arga memejamkan mata.

Ketika membukanya kembali, perempuan itu masih berdiri di hadapannya.

“Siapa Ayah?” tanyanya.

Wajah Nadira berubah.

“Jenderal Wiratama.”

Arga mundur selangkah.

“Dia ayahku?”

“Dia orang yang membesarkanmu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Karena aku tidak tahu apakah dia ayah kandungmu.”

Arga merasakan kemarahan mulai menggantikan kebingungannya.

“Semua orang selalu mengatakan mereka tidak tahu. Semua orang menyembunyikan sesuatu. Aku harus mencari sendiri setiap potongan hidupku, sementara mereka berdiri di belakang layar dan memutuskan apa yang boleh kuingat.”

Nadira menunduk.

“Aku tahu.”

“Tidak. Kau tidak tahu.”

“Aku tahu apa yang mereka lakukan kepadamu karena aku berada di ruangan itu.”

“Ruangan apa?”

“Ruangan tempat kau seharusnya mati.”

Kesunyian jatuh di antara mereka.

Bahkan suara mesin di balik dinding seolah menghilang.

Nadira menarik napas panjang.

“Dua puluh tahun lalu, ada kecelakaan di fasilitas penelitian lama. Kebakaran terjadi di sektor bawah tanah. Beberapa orang meninggal. Catatan resmi menyebutkan bahwa tidak ada anak-anak yang berada di dalam kompleks.”

Arga memandangnya tajam.

“Namun, aku ada di sana.”

Nadira mengangguk.

“Kau berusia sekitar sembilan tahun. Aku sedikit lebih tua. Kita dibawa ke fasilitas itu setelah sebuah program penelitian dinyatakan gagal.”

“Program apa?”

“Proyek Alfa.”

Nama itu kembali menghantam ingatan Arga.

Rekonstruksi memori dan identitas.

Arga menatap gelang di pergelangan tangan Nadira. Di sana tercetak sebuah kode:

ALFA-B / STATUS: PEMULIHAN.

“Kenapa kau masih di sini?”

Nadira memandang lorong di belakangnya.

“Karena tidak semua yang berada di fasilitas ini pernah benar-benar meninggalkannya.”

Jenderal Wiratama muncul di layar.

Wajahnya tampak jauh lebih tua daripada yang Arga ingat. Ada lingkaran gelap di bawah matanya, dan untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti seseorang yang kelelahan menanggung sebuah rahasia.

“Arga,” katanya. “Aku bisa menjelaskan.”

Arga menghadap layar.

“Mulailah dari awal.”

“Tidak ada awal yang bisa kau terima dengan mudah.”

“Coba saja.”

Jenderal menarik napas.

“Proyek Alfa dimulai sebagai penelitian untuk memahami hubungan antara ingatan, respons saraf, dan identitas seseorang. Tujuan awalnya adalah membantu pasien yang kehilangan sebagian besar ingatannya akibat cedera.”

“Lalu berubah menjadi eksperimen terhadap manusia?”

“Ya.”

Jawaban itu begitu langsung hingga Arga terdiam.

Jenderal melanjutkan.

“Direktorat Nusantara mengambil alih proyek itu. Mereka percaya bahwa pola respons otak dapat digunakan untuk memprediksi keputusan manusia. Mereka ingin membangun sistem yang mampu memahami seseorang bukan hanya dari apa yang dikatakannya, tetapi juga dari pola reaksinya.”

“Dan kalian menggunakan anak-anak.”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena mereka menganggap identitas pada usia muda lebih mudah dipetakan.”

Arga mengepalkan tangan.

“Jadi, kami bukan manusia bagi mereka. Kami hanya bahan penelitian.”

“Bagi sebagian orang, mungkin memang begitu.”

“Dan bagi Anda?”

Jenderal tidak langsung menjawab.

“Pada awalnya, aku percaya penelitian itu dapat menyelamatkan banyak nyawa. Aku seorang perwira. Aku terbiasa memikirkan hasil akhir, bukan selalu cara untuk mencapainya.”

“Kalimat yang bagus untuk membenarkan kekejaman.”

“Aku tidak meminta kau memaafkanku.”

“Bagus. Karena aku belum tahu apa yang harus kumaafkan.”

Jenderal menunduk.

“Ketika kebakaran terjadi, kau terjebak di sektor bawah tanah. Nadira berusaha membawamu keluar. Namun, struktur bangunan runtuh sebelum tim penyelamat tiba.”

Arga menatap Nadira.

“Kau menyelamatkanku?”

“Aku mencoba.”

“Lalu apa yang terjadi?”

Nadira memejamkan mata.

“Aku ingat api. Aku ingat kau terbaring di lantai. Aku ingat memanggil namamu. Setelah itu, semuanya gelap.”

Arga berbalik kepada Jenderal.

“Dokumen menyatakan Nadira meninggal.”

“Dokumen itu menyatakan bahwa identitas biologisnya tidak dapat dipastikan.”

“Dan kau membiarkan semua orang percaya bahwa dia mati.”

“Aku diperintahkan untuk menutup seluruh kejadian.”

“Perintah siapa?”

Jenderal mengangkat wajahnya.

“Direktorat Nusantara.”

Arga tertawa pahit.

“Selalu ada seseorang yang lebih tinggi. Selalu ada sebuah lembaga. Selalu ada perintah yang membuat semua orang merasa tidak bertanggung jawab.”

“Karena itulah aku akhirnya menentang mereka.”

“Setelah berapa banyak orang menjadi korban?”

Jenderal tidak menjawab.

Dan dalam diamnya, Arga menemukan sesuatu yang lebih buruk daripada pengakuan.

Ia menemukan rasa bersalah.

NARA tiba-tiba berdiri tegak.

Cahaya merah di matanya padam, digantikan warna yang lebih menyerupai mata manusia.

“Arga,” katanya, “aku menemukan sesuatu.”

Arga segera menghampirinya.

“Apa?”

Lihat selengkapnya