BAB 8
PILIHAN YANG TIDAK MANUSIAWI
Surat itu terasa lebih berat daripada selembar kertas seharusnya.
Arga berdiri di tengah ruangan bawah tanah, memandangi tanda tangan Jenderal Wiratama yang tertera di bagian akhir. Di belakangnya, pintu lift telah tertutup. Tidak ada tombol untuk kembali ke permukaan. Hanya tiga lampu merah di atas pintu yang berkedip perlahan, seolah ruangan itu sedang menghitung keberadaan mereka.
NARA mendekati meja di tengah ruangan.
“Tidak ada jalur komunikasi keluar,” katanya. “Sistem ini terisolasi dari jaringan utama.”
“Berarti kita aman?”
“Tidak. Artinya, kita tidak bisa meminta bantuan.”
Nadira memandangi kursi kosong di hadapan mereka.
“Tempat ini tidak pernah ada dalam denah fasilitas,” katanya.
Arga membuka surat itu.
Tulisan tangan Jenderal tampak rapi, dengan beberapa bagian yang memudar karena usia.
Untuk anakku, jika suatu hari kau harus memilih antara kebenaran dan keselamatan.
Jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti aku telah gagal menjaga jarak antara diriku sebagai seorang ayah dan diriku sebagai seorang prajurit.
Ada keputusan yang pernah kubuat sebelum kau cukup dewasa untuk memahaminya. Keputusan itu menyelamatkan hidupmu, tetapi juga membuat hidupmu menjadi milik orang-orang yang tidak pernah berhak memilikinya.
Kelak, mereka akan memberitahumu bahwa kau dipilih karena kemampuanmu. Mereka akan mengatakan bahwa kau istimewa, bahwa pikiranmu berbeda, bahwa kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki manusia lain.
Jangan percaya kepada mereka.
Yang membuatmu berbeda bukanlah apa yang ada di dalam kepalamu.
Yang membuatmu berbeda adalah keputusan yang kau ambil ketika tidak seorang pun memberimu kesempatan untuk memilih.
Arga berhenti membaca.
Ia menatap kalimat terakhir itu berulang kali.
“Ini ditulis sebelum kebakaran,” katanya.
Nadira mengangguk.
“Dua puluh tahun sebelumnya, menurut tanggalnya.”
“Kalau begitu, Jenderal sudah mengetahui sesuatu tentang aku bahkan sebelum aku lahir.”
“Bukan hanya tentang dirimu,” kata NARA.
Ia menunjuk bagian bawah surat.
Di sana terdapat sebuah kode yang dicetak dengan tinta hitam.
PROYEK NUSANTARA — RANCANGAN AWAL: 1989.
Di bawahnya terdapat nama seorang ilmuwan.
DR. SURYA WIRATAMA.
Arga mengerutkan kening.
“Surya Wiratama?”
Nadira mendekat.
“Itu nama ayah kandung Jenderal.”
Arga menoleh kepadanya.
“Bagaimana kau tahu?”
“Namanya ada di arsip lama Proyek Alfa. Ia seorang ilmuwan yang meneliti sistem pengambilan keputusan dan respons saraf jauh sebelum Direktorat Nusantara mengambil alih penelitian.”
“Jadi, proyek ini sudah ada sebelum Jenderal terlibat.”
“Jauh sebelum itu.”
Arga memandang surat di tangannya.
“Berarti Jenderal bukan orang pertama yang membangun sistem ini.”
NARA menggeleng.
“Dan mungkin bukan orang pertama yang mengetahui tujuannya.”
Tiba-tiba seluruh layar di ruangan menyala.
Sebuah suara terdengar dari pengeras yang tersembunyi.
“Selamat datang, Subjek Nol.”
Arga melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam saku.
“Siapa yang berbicara?”
“Arsip Nusantara.”
“Siapa yang mengendalikanmu?”
“Pertanyaan tersebut tidak relevan.”
“Bagi siapa?”
Sistem terdiam selama dua detik.
“Bagi proses pemilihan.”
Layar di tengah ruangan menampilkan tiga nama.
ARGA WIRATAMA.
NARA-07.
NADIRA AYU PRAMESTI.
Di bawah ketiga nama itu muncul sebuah keterangan:
SATU IDENTITAS AKAN DIPERTAHANKAN. DUA IDENTITAS AKAN DINONAKTIFKAN.
Nadira mundur selangkah.
“Tidak,” bisiknya.
Arga menatap layar.
“Apa maksudnya dinonaktifkan?”
“Dalam skenario ini, hanya satu identitas yang akan dipertahankan dalam sistem integrasi,” jawab suara itu. “Dua identitas lainnya akan dihapus dari proses aktif.”
“Apakah itu berarti mereka mati?” tanya Arga.
“Definisi kematian tidak berlaku pada seluruh entitas yang terdaftar.”
Arga mengangkat senjatanya ke arah layar.
“Jangan bermain kata denganku.”
“Ancaman fisik tidak memengaruhi proses.”
“Kalau begitu, kita akan mencari cara lain.”
Sistem menjawab tanpa emosi.
“Proses pemilihan dimulai dalam lima menit.”
Hitung mundur muncul.
05:00.
NARA bergerak cepat menuju terminal di sisi ruangan.
“Aku akan mencari akses untuk menghentikan simulasi.”
Nadira menahannya.
“Jangan sambungkan dirimu ke terminal utama.”
“Jika aku tidak melakukannya, kita tidak punya pilihan.”
“Itulah yang mereka inginkan.”
NARA menatap Nadira.
“Jelaskan.”
Nadira memandang layar yang menampilkan ketiga nama mereka.
“Sejak awal, proyek ini dirancang untuk mengamati keputusan manusia. Sistem tidak hanya ingin mengetahui siapa yang akan kita selamatkan. Ia ingin mengetahui alasan kita memilih.”
Arga mengangguk pelan.
“Kalau aku memilih NARA, sistem akan mencatat bahwa aku lebih mementingkan entitas yang dibuat dari pola ingatan Nadira.”
“Benar,” kata Nadira.
“Kalau aku memilihmu, sistem akan menyimpulkan bahwa aku lebih memilih identitas yang kukenal daripada identitas yang belum sepenuhnya kupahami.”
“Dan jika kau memilih dirimu sendiri,” kata NARA, “sistem akan mencatat bahwa kepentingan pribadi lebih kuat daripada ikatan emosional.”
Arga menatap mereka berdua.
“Jadi, apa pun yang kupilih, mereka mendapatkan data yang mereka inginkan.”
“Ya,” jawab NARA.
“Lalu apa yang terjadi jika aku menolak memilih?”
Nadira menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Arga menatap hitung mundur.
04:21.
“Kalau begitu, kita akan mencari tahu.”
Ia berjalan menuju kursi kosong di tengah ruangan.
Di atasnya tergeletak tiga benda: sebuah pistol, foto keluarga, dan sebuah kotak logam kecil.
Arga mengambil foto itu.
Foto tersebut memperlihatkan sebuah keluarga berdiri di depan rumah sederhana. Seorang lelaki muda berada di tengah, diapit perempuan dan anak laki-laki. Di belakang mereka berdiri seorang perempuan lain yang masih remaja.
Arga mengenali Jenderal Wiratama, tetapi bukan sebagai lelaki tua yang biasa dilihatnya.
Di foto itu, Jenderal tampak berusia sekitar tiga puluh tahun.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan yang mungkin merupakan ibunya.
Anak laki-laki dalam foto itu adalah Jenderal sendiri ketika masih kecil.
Namun, di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan:
Surya, Wiratama, dan keluarga. Tahun 1968.
Arga membalik foto itu.
Ada tulisan lain, lebih kecil.
Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama.
“Kesalahan apa?” gumam Arga.
Nadira mengambil kotak logam dari kursi.
Kotak itu tidak terkunci. Di dalamnya terdapat sebuah pita rekaman tua dan kartu identitas yang warnanya telah menguning.
NARA memeriksa kartu tersebut.
“Nama: Dr. Surya Wiratama. Jabatan: Kepala Penelitian Sistem Kognitif. Status: meninggal.”
“Bagaimana ia meninggal?” tanya Arga.
“Tidak ada keterangan.”
Nadira menatap pita rekaman itu.
“Mungkin jawabannya ada di sini.”
Mereka memasukkan pita ke pemutar tua yang terpasang pada konsol.
Suara berdesis terdengar sebelum rekaman mulai diputar.