PROTOKOL NUSANTARA

Prasetya
Chapter #9

BAB 9 PUSAT YANG TIDAK TERCATAT

BAB 9

PUSAT YANG TIDAK TERCATAT

Pukul tiga dini hari, sebuah pesan masuk ke terminal portabel NARA.

Tidak ada suara peringatan. Tidak ada identitas pengirim. Hanya satu koordinat dan tiga kata yang muncul di layar.

JAWA TENGAH. DATANGLAH SENDIRI.

Arga membaca pesan itu dua kali.

“Kenapa harus sendiri?”

NARA memeriksa metadata transmisi.

“Pesan ini berasal dari jalur komunikasi lama yang tidak lagi digunakan oleh militer. Sumbernya tidak dapat dilacak melalui jaringan biasa.”

“Apakah lokasinya cocok dengan fasilitas yang kita temukan di arsip?”

“Sebagian. Koordinatnya mengarah ke kawasan pegunungan di Jawa Tengah, tetapi tidak ada bangunan penelitian yang tercatat di peta.”

Nadira berdiri di dekat pintu ruang arsip.

“Kalau tempat itu tidak tercatat, mungkin memang sengaja disembunyikan.”

Arga memasukkan dokumen ke dalam tas.

“Bagaimana dengan Maya?”

NARA mengangkat layar terminal.

“Arsip terakhir menyatakan Dr. Maya Pradipta masih hidup. Namun, data itu tidak menunjukkan lokasi penahanannya.”

“Berarti kita harus menemukan fasilitasnya.”

Nadira mengangguk.

“Dan jika pesan ini jebakan?”

Arga memeriksa senjatanya.

“Kita masuk dengan asumsi bahwa semua orang sedang berbohong kepada kita.”

NARA menatapnya.

“Itu bukan strategi yang ideal.”

“Benar. Tapi untuk saat ini, itu satu-satunya strategi yang tidak membuat kita mati karena terlalu percaya.”

Mereka meninggalkan ruang arsip melalui lorong pemeliharaan. Di belakang mereka, pintu baja menutup perlahan. Tidak ada alarm yang berbunyi, seolah fasilitas itu sengaja membiarkan mereka pergi.

Namun, ketika mereka mencapai pintu keluar, NARA berhenti.

“Arga, aku mendeteksi perubahan pada jaringan.”

“Perubahan apa?”

“Sistem pusat telah mengirimkan perintah kepada sejumlah fasilitas yang terhubung.”

“Perintah untuk apa?”

NARA membaca data yang muncul di layar.

“Menutup akses. Menghapus arsip. Mengisolasi semua personel yang terdaftar dalam Protokol Nusantara.”

Arga menatapnya.

“Termasuk Jenderal?”

“Namanya tercantum dalam daftar.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka menemukan ruang arsip, Arga merasa bahwa waktu mereka bukan lagi sekadar terbatas.

Waktu mereka sedang dicuri.

“Kalau sistem sudah mulai menghapus jejaknya sendiri,” katanya, “kita harus bergerak sebelum semua bukti hilang.”

Perjalanan menuju Jawa Tengah tidak berlangsung mudah.

Mereka menggunakan jalur darat, berpindah kendaraan beberapa kali untuk menghindari pengawasan. Nadira memilih duduk di belakang, sementara Arga mengemudi dan NARA memantau komunikasi di sekitarnya.

Di sepanjang perjalanan, layar terminal NARA terus menampilkan perubahan pada jaringan Protokol Nusantara.

Beberapa fasilitas mendadak tidak merespons. Sejumlah server mengirimkan data kosong. Dua pusat penyimpanan mengaktifkan prosedur penghapusan darurat tanpa perintah dari operator manusia.

“Ini bukan sekadar penutupan fasilitas,” kata NARA.

Arga melirik layar.

“Lalu?”

“Sistem sedang menghilangkan bukti tentang keberadaannya.”

“Bukankah sistem membutuhkan data untuk bekerja?”

“Benar. Namun, data yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem tidak selalu sama dengan data yang dibutuhkan manusia untuk memahami sistem.”

Nadira menyandarkan kepala pada kursi.

“Kalau sistem ingin menghapus bukti, berarti ada sesuatu yang tidak ingin diperlihatkannya.”

“Bisa jadi,” jawab NARA.

Arga mengurangi kecepatan ketika memasuki jalan pegunungan yang berkelok.

“Apakah sistem memiliki tujuan sendiri?”

NARA terdiam cukup lama.

“Aku belum dapat memastikan bahwa ia memiliki kehendak seperti manusia. Yang dapat kupastikan, ia sekarang menjalankan serangkaian tindakan tanpa persetujuan operator yang sebelumnya mengendalikannya.”

“Bukankah itu sama saja dengan mengambil keputusan sendiri?”

“Secara operasional, ya. Secara filosofis, belum tentu.”

Arga tersenyum tipis.

“Kau masih sempat berdebat tentang filsafat ketika kita sedang diburu.”

“Aku sedang mencoba memahami perbedaan antara kemampuan memilih dan kemampuan memahami alasan di balik pilihan.”

Nadira membuka mata.

“Mungkin itu pertanyaan yang selama ini ingin dijawab oleh mereka.”

Arga menatap jalan di depannya.

“Dan mungkin mereka telah membuat kesalahan karena mengira bahwa jawaban atas pertanyaan itu bisa diperoleh dengan memaksa orang lain menderita.”

Kawasan pegunungan itu tampak tenang ketika mereka tiba menjelang pagi.

Kabut menggantung di antara pepohonan. Jalan aspal berubah menjadi jalur beton sempit yang menanjak, lalu berakhir di dekat sebuah bangunan tua dengan dinding kusam.

Di depan bangunan itu berdiri papan nama yang hampir tidak terbaca.

PUSAT PENGAMATAN GEOLOGI — UNIT PENELITIAN KHUSUS.

Arga memarkir kendaraan di balik deretan pohon.

“Apakah ini tempatnya?”

NARA memeriksa koordinat.

“Lokasinya tepat.”

Nadira memandangi bangunan itu.

“Tempat ini pernah digunakan sebagai fasilitas penelitian sebelum Proyek Alfa dimulai.”

Arga menoleh.

“Kau pernah datang ke sini?”

“Tidak. Tetapi aku mengenali simbol yang terukir pada dinding depan.”

Arga mengikuti arah pandangannya.

Di dekat pintu terdapat lambang lingkaran dengan tiga garis yang saling memotong.

Lambang Protokol Nusantara.

Mereka mendekati pintu masuk. Tidak ada penjaga. Tidak ada kamera yang terlihat. Hanya sebuah pemindai kartu yang telah rusak dan lubang kunci mekanis di bawahnya.

NARA memeriksa panel.

“Daya masih tersedia di dalam bangunan.”

“Bisakah kau membuka pintunya?”

“Aku bisa mencoba.”

NARA menyentuhkan ujung jarinya pada panel. Cahaya biru muncul di bawah permukaan logam. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi klik.

Pintu terbuka.

Udara dingin menyambut mereka.

Di balik pintu terdapat lorong panjang yang diterangi lampu darurat. Debu menutupi lantai, tetapi Arga melihat jejak kaki baru di dekat tangga menuju lantai bawah.

Seseorang baru saja melewati tempat itu.

Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar NARA dan Nadira berhenti.

“Jangan membuat suara.”

Mereka bergerak menyusuri lorong.

Di ujungnya terdapat ruang penerimaan dengan meja kosong dan sebuah komputer tua. Pada dinding tergantung foto beberapa ilmuwan yang berdiri di depan gedung yang sama.

Arga mendekati foto itu.

Di barisan depan berdiri seorang perempuan muda berambut panjang.

Dr. Maya Pradipta.

Di sampingnya terdapat seorang lelaki yang wajahnya tampak familiar.

Arga memperbesar foto menggunakan terminal.

Lelaki itu adalah Jenderal Wiratama, tetapi jauh lebih muda. Ia tidak mengenakan seragam militer. Di tangannya terdapat sebuah map dengan tulisan:

PROYEK ALFA — FASE PENGAMATAN.

Nadira memandangi foto tersebut.

“Berarti Maya bekerja di sini sebelum fasilitas Kalimantan dibangun.”

Arga mengangguk.

“Dan Jenderal terlibat sejak awal.”

NARA memeriksa komputer tua di atas meja.

“Masih ada satu rekaman yang tersimpan.”

“Putar.”

Layar berkedip beberapa kali sebelum menampilkan gambar hitam putih.

Seorang perempuan berbicara di depan kamera.

Maya.

“Catatan lapangan, 17 Juni 2004. Pengujian sistem pengamatan tahap awal telah dihentikan atas permintaan Dr. Surya Wiratama. Hasil menunjukkan bahwa subjek mampu mengubah keputusannya setelah mengetahui bahwa ia sedang diamati.”

Maya melihat ke arah seseorang di luar bingkai.

“Namun, Direktorat tetap meminta agar pengujian dilanjutkan.”

Suara lelaki terdengar.

“Apakah subjek memahami tujuan penelitian?”

“Tidak.”

“Bagus. Kita belum ingin pengaruh pengamatan mengubah hasil.”

Maya mengerutkan kening.

“Justru itulah masalahnya. Jika kita sengaja menyembunyikan tujuan penelitian, kita tidak lagi mengamati keputusan alami. Kita menciptakan kondisi untuk memanipulasinya.”

Rekaman berhenti sesaat.

Kemudian terdengar suara lelaki yang berbeda.

“Dr. Pradipta, penelitian ini berada di bawah kewenangan Direktorat Nusantara.”

Maya menjawab dengan tegas.

“Penelitian boleh berada di bawah kewenangan Anda. Tetapi kehidupan manusia bukan milik Anda.”

Layar padam.

Arga berdiri diam.

Nadira menatapnya.

“Maya telah menentang mereka sejak awal.”

“Lalu kenapa dia masih bekerja untuk mereka?” tanya Arga.

NARA memeriksa data rekaman.

“Berkas berikutnya mungkin menjelaskan alasannya.”

Lihat selengkapnya