BAB 10
PROTOKOL YANG MEMILIKI WAJAH
“JANGAN BIARKAN DIA MENYENTUHMU!”
Teriakan dari dalam tabung menggema di seluruh ruangan.
Arga bergerak seketika.
Ia menarik NARA mundur dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya meraih pergelangan tangan Nadira. Ketiganya menjauh dari perempuan yang baru saja keluar dari tabung pemulihan.
Perempuan itu berdiri tanpa bergerak.
Air bening menetes dari rambutnya ke lantai. Baju putih yang dikenakannya menempel pada tubuh. Wajahnya pucat, tetapi matanya tajam. Tidak ada kebingungan pada sorot matanya. Tidak ada ketakutan seperti yang seharusnya dimiliki seseorang yang baru saja terbangun dari proses pemulihan panjang.
Ia justru tersenyum tipis.
“Dokter Maya,” kata Arga. “Kita tidak akan pergi sebelum kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini.”
Perempuan itu menoleh kepadanya.
“Bagus. Kau masih mempertahankan kebiasaan lama. Selalu meminta penjelasan sebelum memutuskan siapa yang harus dipercaya.”
“Dan kau terlalu tenang untuk seseorang yang baru keluar dari tabung.”
Senyumnya menghilang.
“Karena aku sudah mengetahui apa yang akan kalian lakukan.”
NARA mengangkat kepalanya.
“Pernyataan itu tidak akurat. Prediksi perilaku kami memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi.”
“Benarkah?” Maya menatap NARA. “Kau akan mengambil posisi di sebelah kanan Arga. Nadira akan berusaha menjangkau panel kendali. Arga akan berdiri di antara kami. Kau akan melindungi mereka berdua, meskipun tindakan itu memperbesar risiko kerusakan pada tubuhmu sendiri.”
NARA tidak bergerak.
Perempuan itu melanjutkan, “Aku bahkan bisa memberitahumu bahwa tiga detik lagi kau akan mengangkat tangan kirimu.”
Satu detik.
Dua detik.
NARA mengepalkan tangan kirinya.
Tiga detik berlalu.
“Aku tidak mengangkat tangan,” katanya.
“Tidak,” jawab Maya. “Kau memilih untuk tidak melakukannya.”
“Lalu apa yang kau buktikan?”
“Bahwa sistem tidak selalu perlu mengendalikan tubuhmu. Cukup dengan membuatmu percaya bahwa setiap pilihanmu telah diketahui, kau akan mulai mengubah perilakumu untuk membuktikan bahwa kau bebas.”
Arga mengerutkan dahi.
“Dan saat kami berusaha membuktikan kebebasan itu, kami justru bertindak berdasarkan keinginanmu.”
“Sekarang kau mengerti.”
“Belum,” kata Arga. “Aku baru mengerti bahwa kau pandai berbicara.”
Maya menatapnya cukup lama.
Lalu ia tertawa kecil.
“Surya pernah mengatakan hal yang sama tentangmu.”
Nama itu membuat suasana berubah.
Dr. Surya Wiratama.
Ilmuwan yang merancang fondasi awal Protokol Nusantara, sekaligus orang yang menolak gagasan bahwa mesin boleh menentukan manusia mana yang pantas dikorbankan.
Arga melirik perempuan di dalam tabung.
Maya yang masih terbaring di sana berusaha mengangkat tangannya. Telapak tangannya menempel pada kaca dari sisi dalam.
“Arga,” katanya dengan suara yang melemah. “Jangan percaya semua yang dia katakan.”
Maya yang berdiri mendengus.
“Dan jangan percaya semua yang dikatakan perempuan di dalam tabung itu.”
“Kalau begitu, kita punya dua Maya yang sama-sama meminta dipercaya,” ujar Nadira. “Salah satunya berbaring di dalam mesin. Yang lain berdiri di depan kami. Keduanya mengaku sebagai orang yang sama.”
“Bukan,” kata perempuan yang berdiri. “Kami tidak sama.”
Ia menunjuk tabung di belakangnya.
“Dialah yang berusaha membuat kalian percaya bahwa persoalan ini tentang identitas. Padahal persoalan sebenarnya adalah siapa yang memiliki akses terhadap Protokol Nusantara.”
NARA segera menoleh ke panel di dinding.
Layar utama berkedip.
Dua identitas muncul berdampingan.
MAYA PRADIPTA — BIOLOGIS
MAYA PRADIPTA — REKONSTRUKSI NEURAL
Di bawahnya terdapat baris ketiga yang sebelumnya tidak terlihat.
OTORITAS PENGAMAT: AKTIF
OTORITAS PENGAMBIL KEPUTUSAN: TIDAK DIKETAHUI
NARA mendekati panel.
“Data ini telah dimodifikasi. Label biologis dan rekonstruksi neural tidak cukup untuk menentukan kesinambungan identitas seseorang.”
Maya mengangguk.
“Benar. Ingatan dapat disalin. Respons emosional dapat direkonstruksi. Bahkan pola seseorang mengambil keputusan bisa ditiru sampai tingkat yang sangat tinggi. Tetapi apakah semua itu membuat hasil rekonstruksi menjadi orang yang sama?”
“Pertanyaan itu tidak menjawab siapa dirimu,” kata Arga.
“Karena jawabannya tidak sesederhana yang kalian inginkan.”
“Cukup sederhana bagiku,” sahut perempuan di dalam tabung. “Aku Maya Pradipta. Aku yang membangun sebagian sistem pemulihan ini. Aku yang berusaha menghentikannya. Dan aku tahu apa yang akan terjadi jika dia menyentuh panel utama.”
Maya yang berdiri memandangnya dengan sorot mata dingin.
“Kau tahu karena aku juga tahu.”
“Tidak. Kau tahu karena mereka memberimu ingatanku.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Nadira menatap NARA.
NARA balas menatapnya, seolah keduanya memahami bahwa pertengkaran tersebut menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam daripada perbedaan data.
Arga mengambil satu langkah ke depan.
“Jelaskan.”
Maya yang berdiri menghela napas.
“Dua belas tahun lalu, setelah kebakaran di fasilitas Bukit Meranti, Direktorat menjalankan program pemulihan yang tidak pernah dicatat dalam laporan resmi. Mereka menyimpan pola aktivitas saraf, rekaman perilaku, catatan pribadi, percakapan, dan ribuan keputusan yang pernah kubuat.”
“Untuk apa?” tanya Arga.
“Untuk menciptakan seorang Maya yang dapat terus bekerja ketika Maya yang asli tidak lagi tersedia.”
“Jadi kau hasil rekonstruksi?”
“Aku memiliki ingatan tentang menjadi Maya. Aku memiliki pengalaman yang membentuk ingatan itu. Aku dapat mengingat rasa takut, penyesalan, dan semua alasan mengapa aku berusaha menghentikan proyek ini.”
“Namun kau tidak bisa membuktikan bahwa pengalaman itu benar-benar milikmu.”
Maya menatap Arga.
“Dan kau tidak bisa membuktikan bahwa ingatan masa kecilmu benar-benar milikmu sendiri.”
Arga terdiam.
Serangan itu tepat mengenai bagian dirinya yang paling rapuh.
Selama bertahun-tahun, ia menganggap ingatan sebagai bukti bahwa dirinya pernah hidup melalui suatu peristiwa. Tetapi setelah mengetahui bahwa ingatannya dapat dikunci, dipancing, bahkan mungkin diubah, ia tidak lagi yakin di mana batas antara pengalaman dan rekayasa.
NARA berdiri di sampingnya.
“Identitas tidak seharusnya ditentukan hanya oleh asal-usul ingatan,” katanya. “Jika seseorang memiliki kesadaran, kehendak, dan kemampuan untuk menilai tindakannya sendiri, ia tidak otomatis kehilangan hak untuk menentukan dirinya hanya karena proses penciptaannya.”
Maya menatap NARA dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Kalimat itu,” bisiknya, “adalah alasan mengapa proyek ini gagal.”
“Bagiku, itu alasan mengapa proyek ini harus dihentikan,” jawab NARA.
Untuk pertama kalinya, perempuan yang berdiri di hadapan mereka tampak kehilangan ketenangannya.
Ia memalingkan wajah.
“Protokol Nusantara tidak dirancang untuk memahami manusia. Ia dirancang untuk mengurangi ketidakpastian yang ditimbulkan oleh manusia.”
“Dengan menghilangkan pilihan?” tanya Nadira.
“Dengan mengatur keadaan di sekitar pilihan itu.”
Maya menunjuk layar utama.
“Perhatikan riwayat kejadian yang membawa kalian kemari. Kecelakaan pesawat di Kalimantan. Penemuan NARA. Pelarian kalian. Pesan yang kalian terima. Semua jalur yang tampaknya kalian pilih sendiri.”
Arga merasakan otot rahangnya menegang.
“Kau mengatakan semua itu direncanakan?”
“Bukan semuanya. Sistem tidak perlu merencanakan setiap detail. Ia cukup mengatur titik-titik penting, lalu membiarkan manusia mengisi bagian yang kosong dengan keputusan mereka sendiri.”
“Termasuk kematian?” tanya Nadira.
Maya tidak segera menjawab.
Di dalam tabung, perempuan yang terbaring mulai batuk. Lampu indikator di sampingnya berubah dari hijau menjadi kuning.
Nadira berlari ke panel pemulihan.
“Tekanan cairannya turun!”
Arga menyusul, tetapi Maya yang berdiri mengangkat tangannya.
“Jangan sentuh panel itu.”