BAB 11
ARSIP KELUARGA
Kegelapan tidak segera berakhir ketika lampu darurat kembali menyala.
Arga masih berdiri di depan layar yang menampilkan kalimat terakhir itu.
PENGAMAT PERTAMA: DR. SURYA WIRATAMA.
Nama tersebut terasa seperti sebuah vonis.
Jika Surya adalah Pengamat Pertama, lalu siapa dirinya?
Mengapa sistem menyebutnya Subjek Nol?
Dan siapa anak kecil dalam foto bertanggal 17 Agustus 1989 itu?
“Arga.”
Suara Nadira membawanya kembali ke ruangan.
“Kita harus pergi sekarang.”
Arga menoleh. “Maya bagaimana?”
NARA berjongkok di depan panel pemulihan. Jemarinya bergerak cepat di atas antarmuka yang telah terbuka sebagian.
“Aku berhasil memisahkan jalur sirkulasi cairan dari jaringan pusat. Proses pemetaan neural masih berjalan, tetapi lajunya menurun.”
“Berapa lama dia bisa bertahan?”
“Belum bisa dipastikan. Aku membutuhkan sumber daya independen untuk mempertahankan kondisi tabung.”
Maya yang berdiri di dekat pintu menyela.
“Di bawah kompleks ini ada generator cadangan. Tetapi kalau kita mengaktifkannya, sistem akan mengetahui bahwa kita masih berada di fasilitas.”
Arga menatapnya.
“Dia sudah tahu.”
“Mengetahui keberadaan kita berbeda dengan mengetahui tindakan kita berikutnya.”
“Dan kau ingin kami melakukan apa?”
“Pergi ke Arsip Keluarga. Temukan sumber otoritas yang asli. Jika kita bisa memulihkan fungsi Pengamat Pertama, kita mungkin dapat mengambil alih kendali jaringan pemulihan.”
“Mungkin?”
“Aku tidak akan menjanjikan kepastian yang tidak kumiliki.”
Untuk pertama kalinya, Arga mendengar jawaban yang tidak berusaha mengarahkannya pada pilihan tertentu.
Ia mengangguk.
“NARA, kau tetap di sini.”
NARA segera berdiri.
“Keputusan itu tidak disarankan. Kemampuan tempur dan analitisku akan meningkatkan peluang keberhasilan misi.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, mengapa?”
“Karena Maya membutuhkanmu. Dan aku tidak ingin meninggalkan seseorang hanya karena dia tidak bisa ikut berjalan bersama kita.”
NARA memandang tabung pemulihan.
Kemudian ia menatap Arga.
“Dipahami. Namun aku akan mencari jalur komunikasi yang memungkinkan kita tetap terhubung.”
“Lakukan itu.”
Arga menoleh kepada Nadira dan Maya.
“Kita pergi.”
Lift darurat berada di ujung lorong.
Pintu besinya terbuka dengan suara berderit, memperlihatkan ruang sempit dengan dinding penuh goresan. Tidak ada tombol lantai. Hanya sebuah pemindai telapak tangan dan layar kecil yang menampilkan satu kalimat.
SEBUTKAN IDENTITAS PENGAMAT.
Maya mendekat.
“Jangan gunakan namaku.”
“Kenapa?”
“Karena sistem akan menganggapku sebagai salah satu dari dua identitas yang sedang berselisih. Ia mungkin mengunci akses atau mengalihkan lift ke ruang penahanan.”
“Lalu siapa yang harus menyebutkan identitasnya?”
Maya memandang Arga.
“Kau.”
Arga menghela napas.
“Lagi-lagi aku.”
“Selama bertahun-tahun, kau mengira semua ini tentang siapa dirimu. Padahal sistem tidak pernah tertarik pada identitasmu sebagai manusia. Ia tertarik pada fungsi yang bisa kau jalankan.”
“Dan kalau aku menolak menjalankan fungsi itu?”
“Barangkali untuk pertama kalinya, sistem harus menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia selesaikan dengan mengubah keadaan.”
Arga melangkah masuk ke lift.
Ia menempelkan telapak tangan pada pemindai.
“Arga Wiratama.”
Layar tetap gelap.
Ia mencoba lagi.
“Subjek Nol.”
Tidak ada respons.
Maya menggeleng.
“Bukan itu.”
Arga menoleh tajam.
“Lalu apa?”
“Jangan menyebutkan nama yang diberikan sistem kepadamu. Sebutkan keputusan yang membuatmu menjadi dirinya.”
Arga terdiam.
Ia teringat kebakaran itu. Teriakan dari balik pintu. Perintah untuk meninggalkan Subjek B. Rasa takut yang mencekik dadanya, tetapi tidak cukup kuat untuk membuatnya pergi.
“Aku kembali untuk menyelamatkan seseorang.”
Pemindai menyala.
Sebuah suara mekanis terdengar dari pengeras di atas kepala mereka.
“Pernyataan diterima. Otoritas Pengamat Pertama belum terverifikasi.”
Pintu lift menutup.
Lalu lift bergerak turun.
Sangat jauh ke bawah.
“Berapa dalam fasilitas ini sebenarnya?” tanya Nadira.
“Empat puluh meter menurut data permukaan,” jawab Maya. “Namun sebagian struktur dibangun mengikuti terowongan lama yang sudah ada sebelum proyek dimulai.”
“Terowongan apa?”
“Jaringan perlindungan militer. Sebagian dokumennya hilang ketika proyek dipindahkan pada akhir 1980-an.”
“Jadi fasilitas ini lebih tua daripada Protokol Nusantara?”
“Fondasinya lebih tua. Proyeknya tidak.”
Lift terus bergerak.
Angka pada layar tidak menunjukkan lantai, melainkan tanggal.
Arga memperhatikan angka-angka itu.
“Mengapa tanggal?”
Maya tidak segera menjawab.
“Karena lift ini tidak hanya menghubungkan ruang. Ia juga menghubungkan lapisan arsip berdasarkan waktu pembuatannya.”
“Tidak masuk akal.”
“Bukan waktu yang sebenarnya. Hanya urutan penyimpanan data.”
Lift berhenti.
Pintu terbuka ke sebuah lorong luas dengan langit-langit rendah. Di sepanjang dinding terdapat lemari arsip logam yang sebagian sudah berkarat. Lampu-lampu putih menyala bergantian hingga ke ujung lorong.
Di atas pintu utama tertulis:
PUSAT DOKUMENTASI PROYEK NUSANTARA — SEKTOR KELUARGA.
Nadira membaca tulisan itu perlahan.
“Sektor Keluarga. Seolah-olah mereka sedang mengelola sebuah rumah, bukan proyek rahasia.”
“Bagi mereka, keluarga adalah lingkungan eksperimen yang paling sulit dipisahkan dari keputusan manusia,” kata Maya.
Arga menoleh.
“Jelaskan.”
“Mereka mempelajari bagaimana seseorang mengambil keputusan ketika orang yang dicintainya berada dalam bahaya. Apakah ia mematuhi perintah, menyelamatkan dirinya sendiri, atau melanggar aturan untuk menolong orang lain.”
“Karena itulah aku dipilih?”
“Karena kau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan prediksi.”
Arga memandang lorong panjang di hadapannya.
“Lalu apa yang mereka lakukan kepada Nadira?”
Maya berhenti berjalan.
“Aku tidak tahu seluruhnya.”
“Jangan menghindar.”
“Aku tidak menghindar. Ada bagian dari proyek yang sengaja disembunyikan bahkan dari para pengamat. Aku baru mengetahui keberadaan fasilitas ini beberapa tahun setelah dipindahkan ke program pemulihan.”
“Dan Jenderal?”
“Dia mengetahui lebih banyak daripada yang pernah dikatakannya.”
Arga ingin bertanya lagi, tetapi sebuah bunyi pendek datang dari panel di dinding.
Satu pintu terbuka sendiri.
Di dalamnya terdapat meja kayu, dua kursi, dan sebuah pemutar rekaman analog. Tidak ada komputer. Tidak ada layar digital. Hanya sebuah amplop cokelat di tengah meja.
Di bagian depan amplop tertulis:
UNTUK ANAK YANG KEMBALI.
Arga membeku.
Tulisan tangan itu dikenalnya.
Ia pernah melihatnya di surat lama yang ditemukan di Bukit Meranti.
Tulisan milik seseorang yang menandatangani surat-surat itu dengan satu huruf.
M.
“Jangan buka dulu,” kata Maya.
Arga menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu siapa yang menyimpannya di sini.”
“Namun kau tahu apa isinya?”
“Tidak. Tetapi amplop itu tidak ada dalam catatan arsip yang kubaca.”
Nadira mendekati meja.
“Kalau tidak ada dalam catatan, mungkin justru itu yang harus kita baca.”
Arga mengangkat amplop tersebut.
Tidak ada segel resmi. Hanya seutas benang merah yang melilitnya.
Ia membuka benang itu perlahan, lalu mengeluarkan selembar kertas.
Di dalamnya hanya ada satu kalimat.
Jika kau telah sampai di sini, berarti mereka gagal membuatmu berhenti mencari.