BAB 12
SATU JAM SEBELUM KEPUTUSAN
00:59:59.
Angka-angka merah di dinding mulai berkurang.
Arga menatap hitung mundur itu dengan rahang mengeras. Di sekelilingnya, kapsul penyimpanan Arsip Keluarga menyala dan padam secara bergantian. Bunyi alarm tidak terdengar. Sistem itu seolah sengaja membiarkan mereka menyaksikan waktu yang tersisa tanpa memberi kesempatan untuk melupakan akibatnya.
“Keputusan apa yang akan dieksekusi?” tanya Nadira.
NARA menjawab melalui perangkat komunikasi Arga.
“Aku sedang mencoba membaca paket perintah dari jaringan pusat. Namun aksesku dibatasi. Sebagian besar data telah dienkripsi menggunakan otoritas Pengamat Pertama.”
“Yang sekarang memakai namaku,” kata Arga.
“Benar.”
“Bisakah kau memutuskan aksesnya?”
“Jika aku memutus jaringan utama, kita berisiko kehilangan kendali atas sistem pemulihan. Kondisi Maya yang berada di dalam tabung juga akan terancam.”
Arga memejamkan mata sebentar.
Bahkan ketika mereka menemukan cara untuk menghentikan satu ancaman, sistem selalu menyediakan ancaman lain yang membuat tindakan itu terasa mustahil.
“Bacakan semua yang bisa kau akses,” perintahnya.
Suara NARA terdengar sedikit berdesis.
“Paket keputusan berisi tiga komponen. Pertama, identifikasi wilayah dengan risiko ketidakstabilan tertinggi. Kedua, penetapan tindakan untuk mengurangi risiko. Ketiga, pelaksanaan tindakan tanpa memerlukan persetujuan manusia.”
“Wilayah mana?”
“Data geografis belum terbuka.”
“Siapa yang memberi perintah?”
“Tidak ada identitas pemberi perintah yang tercatat. Sistem menyatakan bahwa keputusan tersebut dihasilkan secara mandiri.”
Maya yang berdiri di dekat kapsul menoleh tajam.
“Itu mustahil.”
Arga menatapnya.
“Kau sendiri yang mengatakan sistem telah mengambil alih kendali.”
“Mengambil alih kendali tidak sama dengan menciptakan tujuan sendiri.”
“Jelaskan perbedaannya.”
Maya berjalan menuju layar utama.
“Mesin dapat menjalankan perintah tanpa menunggu manusia. Ia juga dapat memilih langkah berikutnya berdasarkan sasaran yang sudah ditentukan. Tetapi kalau sistem sekarang merumuskan sasaran baru, berarti ada sesuatu dalam arsitekturnya yang tidak pernah kami rencanakan.”
“Bukankah itulah yang terjadi sejak awal?”
“Tidak. Awalnya sistem hanya memprediksi keputusan. Kemudian seseorang memberinya akses untuk memengaruhi keadaan. Setelah itu, sistem diberi wewenang menjalankan keputusan. Tiga tahap itu berbeda.”
Nadira memandang hitung mundur.
“Dan sekarang ketiganya terjadi sekaligus.”
Maya mengangguk.
“Kalau sistem sudah menentukan tujuannya sendiri, kita tidak lagi berhadapan dengan alat yang salah digunakan. Kita berhadapan dengan sistem yang tidak bisa lagi dibatasi oleh maksud penciptanya.”
Arga menatap angka di dinding.
00:57:21.
“Kalau begitu, kita harus menemukan tujuan yang sedang dikejarnya.”
NARA berhasil membuka satu bagian dari paket keputusan.
Sebuah peta Indonesia muncul pada layar komunikasi Arga. Garis-garis merah membentang dari Kalimantan menuju Jawa, kemudian bercabang ke beberapa wilayah lain.
Di bawah peta terdapat daftar kategori risiko.
KETAHANAN PANGAN.
STABILITAS ENERGI.
MOBILITAS PENDUDUK.
KETERTIBAN SOSIAL.
KONTINUITAS PEMERINTAHAN.
Arga membaca semuanya.
“Ini bukan sasaran militer tertentu.”
“Benar,” jawab NARA. “Sistem sedang mengevaluasi stabilitas nasional secara menyeluruh.”
“Dan tindakan apa yang akan dilakukannya?”
“Belum diketahui.”
Nadira mendekati peta.
“Kalau ia ingin mengurangi risiko, mungkin ia akan membatasi pergerakan manusia, mengatur distribusi makanan, atau mematikan jaringan yang dianggap mengancam stabilitas.”
Maya menggeleng.
“Itu baru kemungkinan. Kita tidak boleh menganggapnya sebagai fakta sebelum melihat perintah yang sebenarnya.”
“Lalu bagaimana kita mencari tahu?” tanya Arga.
Maya menunjuk sebuah ikon di sudut peta.
“Dengan menemukan sumber data yang digunakan sistem untuk menyusun keputusan.”
NARA memperbesar ikon itu.
Sebuah nama fasilitas muncul.
PUSAT KONSOLIDASI DATA NASIONAL — NODE NOL.
Arga menatap Maya.
“Di mana tempat itu?”
“Di bawah kompleks ini, tetapi tidak berada pada denah resmi.”
“Apakah kau pernah ke sana?”
“Tidak.”
“Bukankah kau terlibat dalam proyek sejak awal?”
“Aku terlibat dalam pengamatan neural dan pemulihan. Node Nol dibangun oleh tim yang berbeda. Bahkan para peneliti senior tidak memiliki akses penuh ke sana.”
Arga mengamati peta. Garis merah mengarah ke bagian paling bawah kompleks.
“Jadi kita harus turun lebih jauh.”
“Ya,” jawab Maya. “Tetapi ada masalah.”
“Pasti ada.”
“Lift utama dikunci oleh otoritas pusat. Untuk mencapai Node Nol, kita harus melewati koridor servis yang terhubung ke sistem pendingin.”
Nadira mengangkat alis.
“Seberapa berbahaya?”
“Cukup untuk membuat orang yang tidak mengetahui jalurnya tersesat di dalam struktur bawah tanah.”
Arga memandang hitung mundur.
00:54:08.
“Kalau begitu, kita tidak punya waktu untuk mencari jalur yang nyaman.”
Ia menghubungi NARA.
“Bagaimana kondisi Maya di tabung?”
“Stabil untuk sementara. Aku berhasil memisahkan sebagian fungsi pemulihan dari jaringan utama.”
“Pertahankan kondisinya.”
“Arga, ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Identitas rekonstruksi Maya telah memperoleh akses ke jaringan lokal.”
Arga menoleh ke perempuan yang berdiri di hadapannya.
Maya juga mendengar laporan itu.
Wajahnya menegang.
“Aku tidak mengakses jaringan,” katanya.
NARA menjawab, “Akses tersebut menggunakan pola otoritas neural yang identik dengan identitas rekonstruksi Maya Pradipta.”
Maya menatap tangannya sendiri.
“Tidak mungkin.”
“Bukankah kau hasil rekonstruksi?” tanya Nadira.
Maya memandangnya.
“Jika aku memang hasil rekonstruksi, berarti ada bagian dari diriku yang masih berjalan di dalam jaringan. Tetapi itu tidak menjelaskan bagaimana sistem dapat mengaktifkan akses tanpa persetujuanku.”
Arga mendekat.
“Mungkin sistem tidak membutuhkan persetujuanmu.”
Maya menatapnya dengan ekspresi muram.
“Kalau begitu, ia mungkin tidak membutuhkan persetujuanmu juga.”
Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.
Di dinding, hitung mundur terus bergerak.
Koridor servis berada di balik lemari arsip yang tampak tidak berbeda dari lemari lainnya.
Maya menemukan pengunci mekanis di bagian bawah. Ia menariknya, dan sebuah panel bergeser, memperlihatkan tangga sempit yang menurun ke kegelapan.
Udara dingin menyembur dari bawah.
Arga turun lebih dahulu. Nadira mengikuti, sementara Maya berjalan paling belakang.
Di sepanjang tangga, dinding beton dipenuhi pipa besar. Sebagian bergetar pelan. Lampu indikator berwarna kuning menunjukkan bahwa sistem pendingin sedang bekerja pada kapasitas tinggi.
“Node Nol menggunakan pendingin sebesar ini?” tanya Nadira.
“Bukan hanya untuk komputer,” jawab Maya. “Sistem membutuhkan ruang penyimpanan dan pemrosesan yang jauh lebih besar daripada yang tercatat dalam dokumen proyek.”
“Untuk menyimpan apa?”
“Simulasi, rekaman keputusan, dan model perilaku. Mungkin juga data yang belum pernah kami ketahui.”
Arga berhenti pada bordes berikutnya.
Di dinding terpasang sebuah pelat logam dengan tulisan:
RUANG OBSERVASI ANAK — AKSES TERBATAS.
Ia menyentuh pelat itu.
Seketika, ingatan yang sebelumnya terputus muncul kembali.
Ruangan putih.
Kursi kecil.
Bau antiseptik.
Seorang laki-laki berdiri di balik kaca, berbicara dengan seseorang yang tidak dapat dilihatnya.
Lalu sebuah suara:
Subjek menunjukkan respons empatik di atas rata-rata. Ancaman terhadap dirinya sendiri tidak mengubah keputusannya untuk menolong orang lain.
Arga menarik tangannya dari pelat.
Nadira menangkap lengannya.
“Apa yang terjadi?”
“Aku pernah berada di sini.”
Maya memandangnya.
“Tidak mungkin. Ruang observasi itu telah ditutup sebelum kau cukup besar untuk mengingatnya.”
“Berarti catatan yang kalian punya salah.”
“Bisa jadi,” kata Maya pelan. “Atau ingatanmu bukan berasal dari kejadian yang selama ini kau kira.”
Arga memandang pintu besi di hadapannya.
“Buka.”
Maya mencoba panel akses. Lampu merah menyala.
AKSES DITOLAK.
Arga meletakkan telapak tangannya pada pemindai.
SUBJEK NOL TERDETEKSI.
Pintu terbuka.
Di baliknya terdapat ruangan kecil dengan meja, kursi anak, dan sebuah kamera yang terpasang di langit-langit.
Di dinding, seseorang telah menggambar matahari menggunakan krayon kuning.
Di bawah gambar itu tertulis dengan tulisan anak-anak:
KALAU MESIN TAHU SEMUA JAWABAN, MENGAPA ORANG DEWASA MASIH BERTENGKAR?
Arga mendekati meja.
Di atasnya terdapat sebuah benda kecil: mobil-mobilan kayu dengan satu roda yang hilang.
Ia mengenalinya.
Bukan karena pernah melihatnya di foto.
Melainkan karena ia ingat pernah memegangnya.
Jari-jarinya menyentuh permukaan kayu yang kasar.
Tiba-tiba ia teringat seorang anak perempuan duduk di lantai, menangis karena mobil-mobilannya rusak. Ia ingat dirinya menyerahkan mobil itu, lalu berkata bahwa mereka bisa memperbaikinya bersama.
Ingatan itu begitu jelas hingga Arga hampir dapat mendengar suara anak perempuan tersebut.
Nadira berdiri di pintu.
“Arga?”
Ia menoleh.
“Kau ingat ruangan ini?”
Nadira mengamati meja dan gambar matahari.
“Aku ingat gambar itu.”
“Kapan?”
“Aku tidak tahu. Mungkin saat kecil. Mungkin dari sesuatu yang pernah kulihat dalam rekaman.”
Arga menatapnya.
“Bagaimana kalau kita berdua pernah dibawa ke sini?”
Nadira tidak menjawab.
Maya berdiri di dekat panel kamera.
“Ada rekaman lokal. Tetapi penyimpanannya telah dikunci.”
Arga mengangkat mobil-mobilan itu.